Karena kami ingin “Perubahan” demi anak cucu, maka kami akan lakukan apapun untuk “Memenangkan Indonesia”

Karena kami ingin “Perubahan” demi anak cucu, maka kami akan lakukan apapun untuk “Memenangkan Indonesia”

Karena kami ingin “Perubahan” demi anak cucu, maka kami akan lakukan apapun untuk “Memenangkan Indonesia”


Oleh : Iramawati Oemar

Pak Prabowo punya Gendis Queen, seorang gadis cilik usia 8 tahun, masih SD kelas 3. Dia serahkan celengan miliknya beserta uang receh didalamnya, hasil menabung, menyisihkan rupiah demi rupiah keuntungannya berjualan puding, kue, permen. Ikhlas dia berikan uang itu untuk “membiayai” perjuangan Pak Prabowo agar beliau bisa jadi Presiden RI.

Bang Sandi punya Lisa dan teman-temannya, gadis-gadis remaja, ABG, yang beberapa pekan lalu menyerahkan tabungan hasil patungan mereka yang dikumpulkan dari uang jajan jatah mereka. Tidak banyak jumlahnya, kata Lisa. Tapi besar sekali maknanya, kata Bang Sandi.

Masih banyak lagi orang-orang seperti Gendis dan Lisa, yang menyerahkan uang receh simpanan mereka, dikumpulkan berhari-hari bahkan bisa jadi berminggu-minggu. Nominalnya mungkin tak seberapa, kalau dibelikan spanduk mungkin hanya jadi 1-2 lembar saja. Pun juga kalau dibelikan kaos mungkin hanya terbeli setengah lusin kaos oblong bersablon Prabowo - Sandi yang murahan, bahannya agak tipis.
Namun bukan nilai materiil dari uang itu yang jadi ukuran. Keikhlasan, kehendak, semangat dan tekad kuat untuk ikut serta berkontribusi dalam perjuangan bersama ini, itulah yang “nilai”nya sangat besar.

Kenapa mau menyumbangkan uang yang tak seberapa untuk Prabowo dan Sandi, padahal keduanya orang kaya raya?! Mereka harta kekayaannya milyaran bahkan mungkin triliunan, sedangkan kalian harus menabung, menyisihkan uang yang tak seberapa itu, berhari-hari lamanya. Padahal dirimu dan keluargamu mungkin lebih membutuhkan uang itu sekarang. Kenapa?!
Kenapa tak kau biarkan saja kedua “orang kaya” itu membiayai sendiri pencapresannya, toh nanti jika menang mereka berdua yang akan jadi Presiden dan Wakil Presiden?!

Jawabnya hanya satu kalimat : karena kami yang MAU mereka berdua memimpin negeri ini. Kamilah yang menginginkan PERUBAHAN itu, kamilah yang merindukan sosok pemimpin yang amanah, yang memikirkan kepentingan bangsa dan negaranya, yang berpikir bagaimana agar kekayaan alam negeri ini tidak lari keluar negeri, yang bersungguh-sungguh mengupayakan agar anak-anak bangsa ini bisa jadi tuan rumah bekerja di negerinya sendiri, tidak dikalahkan/tersisih oleh bangsa ‘aseng’ bahkan untuk sekedar berebut kesempatan kerja di sektor pekerjaan kasar.

Kamilah yang mengusung Prabowo dan Sandi menjadi capres dan cawapres kami.
Karena itu, kami wajib berjuang memenangkannya.

*******

Apa enaknya menjadi relawan pendukung Prabowo - Sandi?!
Logistik tidak disediakan, APK minim pakai banget, harus mengadakan sendiri. Dana segar apalagi, sama sekali tak ada. Kesana kemari harus siapkan transportasi sendiri, tak ada pengganti uang bensin atau ongkos transport. Bahkan seringkali pula, makan pun harus beli sendiri.
Sungguh tidak enak bukan?!

Sementara di kubu sebelah bisa mengutus kurir berseragam, jaketnya bertuliskan “Pembawa Pesan”. Ransel/gembolan yang dipanggul di punggung juga bertuliskan sama.
Mereka bekerja “profesional”. Bingkisan sudah siap dipacking rapi, daftar nama dan alamat penerima sudah ditangan, naik motor keluar masuk kampung pastilah tidak gratis, bensinnya pasti diisi penuh. Bukankah lebih enak ikut kubu sebelah yang serba disiapkan?!

Baca juga:  Antara dengkul dan kepala

Tidak!
Kami ingin ikut “menikmati” suka duka perjuangan ini. Mungkin banyak dukanya, tapi kami lalui semua dengan sukacita dan sukarela.
Kelak, kemenangan akan terasa jauh lebih manis.
Segala jerih lelah hari-hari ini akan terbayar tunai. Karena itu kami pantang mengeluh! Sebab kami yakin ada kemudahan setelah serangkaian kesulitan, maka kami tak pernah mengeluh.
Kami pantang mengulurkan kardus di jalanan, meminta sumbangan. Sebab capres kami bukan capres kardus!!

Memang, terkadang hati ini ciut manakala melihat spanduk dan baliho paslon capres 02 nyaris tak terlihat, sementara capres lawan spanduknya bertebaran di setiap sudut kota, di setiap tikungan jalan desa, setiap sekian meter jalan protokol. Balihonya besar-besar terpampang di lokasi-lokasi strategis.
Padahal, banyak masyarakat bertanya : “mana spanduk Prabowo - Sandi, kok tak terlihat? Sini, berikan pada kami, biar nanti kami yang pasang. Bambu dan pakunya biar kami usahakan sendiri”.

Kerap kali pula batin ini teriris ketika warga di akar rumput meminta kaos. Mereka ingin memakainya sehari-hari, agar terlihat oleh warga sekitarnya “ini lho, saya pendukung Prabowo - Sandi”. Mereka ingin menunjukkan eksistensinya, ingin mengatakan pada “dunia” di sekitarnya bahwa pendukung Prabowo - Sandi ada disini, mari gabung bersama kami. Tapi apa daya, dropping kaos dari “atas” tidak ada.

Ini bukan kelalaian tim sukses, ini bukan karena badan pemenangan mengkorupsi dana kampanye. TIDAK!!
Ini murni karena ketiadaan biaya kampanye dalam jumlah besar. Ini semua karena tak ada sponsorship yang bersedia mendanai.
Lihatlah betapa terorganisirnya pasukan sang “Pembawa Pesan” mengantar bingkisan. Tengoklah berapa milyar ongkos kirim paket tabloid Indonesia Barokah ke ratusan masjid di berbagai wilayah Indonesia. Tentu semua itu bisa terwujud karena ada uang.
Dan itulah yang tidak dimiliki oleh tim Prabowo - Sandi.

Tapi tak mengapa, kami tak tergiur ikut kapal yang memuat banyak logistik tanpa kami tahu dari mana sumber dananya.
Biarlah kami patungan, biarlah kami sisihkan uang belanja kami, karena kami tahu sumber uang kami, karena kami bisa jamin kehalalannya.

Emak-emak sudah lama merelakan “me time” mereka di akhir pekan hilang, demi berkegiatan bersama, turun ke masyarakat, mengajak warga memilih Prabowo - Sandi.
Emak-emak sudah beberapa bulan ini korbankan dana perawatan wajah yang paling tidak 250 - 300 ribuan perbulan, demi membeli APK, alat peraga kampanye.

Emak-emak kini wira wirinya tak hanya ke pasar, mereka belakangan ini rajin keluar masuk percetakan. Mereka hafal harga cetak spanduk dan banner permeter persegi. Mereka fasih menyebut tingkatan tarif kalau cetaknya full jadi ataukah tanpa finishing. Emak-emak kini familiar dengan berapa minimum order kalender, kipas, stiker dan berapa jumlah pesanan supaya mendapat harga diskon. Ya, emak-emak sekarang tak lagi bernegosiasi hanya dengan tukang sayur, menawar harga tempe dan daging ayam. Emak-emak sekarang piawai mensiasati harga produk percetakan, lebih kreatif memikirkan merchandise yang bisa dibuat untuk cindera mata kampanye.

Baca juga:  Saibun galau

Alhamdulillah selalu ada kemudahan. Pihak percetakan rupanya paham bahwa emak-emak hanyalah relawan, mereka bukan pengusaha tajir melintir, bukan pula istri pejabat. Mereka bahkan bukan pengurus partai apalagi caleg. Setiap kali pesan APK jumlahnya dikalkulasi sampai mepet, disesuaikan ketersediaan uang di dompet. Tak jarang masih minta lagi diskon tambahan.
Percetakan pun maklum, terkadang minimum order diturunkan kuantitasnya, atau harga cetak spanduk permeter dimurahkan, atau mereka tawarkan bahan kertas stiker yang lebih “miring” harganya.

Itulah fenomena yang kini terjadi di dalam kehidupan nyata masyarakat. Emak-emak penggerutu medsos, yang biasanya hanya berisik di dunia maya, kini turun ke bawah, all out di dunia nyata, lalu menyiarkannya di dunia maya.
Ikhtiar di darat diposting di “udara”. Perjuangan mendapatkan tambahan simpatisan, dikabarkan di media sosial, agar menginspirasi relawan lainnnya.

Semua itu karena kami menginginkan PERUBAHAN! Negeri ini harus dikelola dengan lebih baik, demi masa depan bangsa kami, demi anak cucu kami.
Kami bertekad kuat untuk memenangkan pilpres kali ini, karena INDONESIA HARUS BERJAYA KEMBALI.

Kami yang lahir di negeri ini, darah nenek dan ibu kami tertumpah di tanah ini, kami minum air dari bumi Indonesia, maka kami harus pastikan kami mewariskannya kepada anak cucu kami, pewaris sah negeri ini.
Seperti halnya kami dulu mewarisi negeri ini dari kakek dan buyut kami yang berdarah-darah mengusir penjajahan asing, maka sekarang akan kami jaga tanah pusaka ini untuk anak cucu kami.

Mungkin 10 - 20 tahun lagi kami sudah akan berpulang, kami ingin menutup mata di tanah air kami, sebab kami tak punya tanah air yang lain selain Indonesia tercinta.
Sebelum saat itu tiba, kami ingin menyaksikan anak dan cucu kami berdaulat di negerinya sendiri. Jadi tuan rumah di tanah airnya sendiri, bukan menjadi “jongos”, tidak pula menjadi “kacung” asing dan aseng.
Dan…, bila saat itu tiba, kami akan pulang dengan tersenyum lega, sebab INDONESIA telah kami MENANGKAN!!!

🎵 Indonesia tanah air beta, PUSAKA abadi nan JAYA…
🎶 Tempat berlindung di hari tua, sampai akhir menutup mata.

#2019PrabowoPresiden
#2019IndonesiaMenang
#MemenangkanIndonesia

(Visited 157 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account