Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Tere Liye
1. Semua kekuasaan itu bagi-bagi jabatan.
Jangan polos sekali dalam urusan ini, mau dari jaman kuda gigit besi, sampai android hari ini, semua kekuasaan bagi-bagi jabatan. Selesai pemilihan, mereka akan mulai bagi kuenya. Ada yang dapat jatah menteri. Ada yang dapat jatah komisaris BUMN. Kalau jasanya besar, bukan cuma bapaknya dapat, anaknya juga dikasih jabatan. Nah, kalian dapat apa dengan berantem di group whatsapp, medsos, dll? Dikasih nasi bungkus doang? WHAT? Kagak dapet apa-apa. Ruginya.
2. Semua kekuasaan itu membuat janji.
Setiap kali pemilihan, janji-janji muntah kemana-mana, berserakan, bikin becek. Lantas mereka penuhi? Lah, mereka yang bikin janji saja tahu persis itu cuma basa-basi doang. Itu hanya janji kampanye. Dan mereka pura2 bego, pura2 lupa kalau kelak ditanya.
3. Semua kekuasaan itu menggunakan sentimen
Sentimen agama misalnya, itu jualan paling menarik. Bohong banget jika ada pihak yang tidak menggunakan sentimen agama. Bahkan saat pihak ateis sekalipun ikutan jadi calon, dia menjual sentimen ‘agama’ juga, ateisnya itu. Sudah sejak jaman dulu agama ini dijadikan alat kepentingan kekuasaan. Juga sentimen suku bangsa. Kelompok. Dsbgnya, dsbgnya. Masjid, gereja, juga tempat ibadah lain itu biasa “diperalat” oleh pihak manapun. Di depan sih ngomongnya paling lurus, paling tidak menjual agama, aslinya, kamu percaya? Tipu saja.
4. Kekuasaan itu cenderung korup
Aneh sekali jika ada orang yang mendukung habis2an seseorang, lantas tutup mata. Karena dia lupa, semua kekuasaan itu cenderung korup. Sebersih apapun sebuah kekuasaan, dia cenderung korup, orang2 di dalamnya, lingkaran di dekatnya. Itulah gunanya pendukung dengan akal sehat. Saat dia melihat ‘kelainan”, “kesalahan”, “khilaf” dari orang yang dia dukung, dia mau meluruskan. Bukan tutup mata, semua bilang yes, yes, yes, asal bapak senang. Repotnya netizen jaman now, sekali suka, maka semua dia bilang bagus, bahkan dikasih kotoran pun sama idolanya dia bilang manis.
5. Kekuasaan itu suka pencitraan
Kenapa orang bersedia bertarung memperebutkan jabatan publik dalam pemilihan? Karena dia ingin berkuasa. Omong kosong jika dia melakukannya karena niat suci tanpa noda. Duh, jika dia memang ihklas dan tulus sekali membuat perubahan, dia tidak perlu pegang itu jabatan publik untuk memulai berbuat baik. Buanyak orang di dunia ini yang sama sekali tidak menjadi Presiden, Raja, tapi hidupnya sangat bermanfaat bagi banyak orang. Lantas, apa implikasi paling dekat saat orang berebut pengin berkuasa? Dia pandai melakukan pencitraan. Inilah yang mengkhawatirkan dari demokrasi di jaman now. Salah pilih pemimpin, kalian cuma dapat yang jago pencitraan di medsos doang. Apa hasil kerja nyatanya? Apa kehidupan kalian membaik? Pendapatan kalian nambah? Kesejahteraan kalian nambah? Belum tentu.
6. Kekuasaan itu bukan segalanya
Sungguh lucu saat ada yang bilang: “pemilihan ini penting untuk menentukan masa depan bangsa dan negara”. Dul, ente harus tahu, sejak jaman dulu, setiap pemilihan selalu juga dibilang begitu. Penting. Penting. Penting. Lantas mana hasilnya? Betulan menentukan masa depan bangsa dan negara? Terakhir saya cek, nggak juga tuh. Yang ada malah: kita menyambut penguasa baru dengan terompet kehormatan, namun melepasnya dengan cacian, hanya untuk menyambut penguasa baru lain dengan terompet lagi. Catat baik2, yang menentukan masa depan bangsa dan negara itu kita semua. Bukan cuma satu orang yang menjabat jadi presiden. Mau sehebat apapun seorang presiden, dia cuma sendirian. Iya kalau presidennya hebat, tapi orang disekitarnya oportunis bin penjilat semua. Wah, tuambah kacau nasib masa depan bangsa dan negara.
Dari enam aspek ini, maka mulailah jadi pemilih yang dewasa.
Tentukan kriteria apa yang penting bagi kalian. Misal, kalian penjual sayuran, apa kriteria penguasa yang cocok bagi kalian, yang bisa menambah kesejahteraan kalian sebagai tukang sayur. Yang jadi guru, contoh berikutnya, juga cari kriteria calon penguasa yang cocok bagi profesi seorang guru. Yang jomblo, cari calon penguasa yang paling oke ‘kepeduliannya’ untuk masa depan jomblo. Dsbgnya, dsbgnya. Tentukan. Yakini.
Dan BISAa nggak sih, setelah kalian yakini siapa orangnya, kalian mau nyoblos siapa kek, capres 01, capres 02, itu urusan kalian saja. Nggak usah koar-koar segala. Toh itu pilihan kalian, orang lain belum tentu sama. Jadi tidak usah sampai berantem. Left group, kehilangan teman, dsbgnya. Diam saja. Toh, kalian juga bukan tukang obatnya, atau tukang kecapnya capres? Kenapa kalian sibuk jualan obat? Jualan kecap? Seolah kalian tahu sekali itu yang terbaik. Lebih baik mingkem, besok tanggal 17 April baru benaran coblos. Silahkan pilih mana yang menurut kalian paling bisa kalian percaya.
Bisa nggak?