Berita dan Informasi Terkini

Melawan Pembusukan Karakter Terhadap Anis Matta
Stigmatisasi atau memberikan tuduhan negatif adalah bertujuan untuk pembusukan karakter, dahulu HOS Tjokroaminoto guru para founding father negeri ini pernah merasakan stigma atau tuduhan negatif kepada dirinya
Dari istilah men-tjokro (menyeleweng), atau melakukan korupsi pernah dilekatkan pada sosok pembaharu politik Islam ini
Tuduhan negatif lain yang disebar serta disematkan, adalah memiliki istri dan simpanan wanita sehingga alasan ini yang membuat Tjokroaminoto lupa diri dan memalsukan pengeluaran kas partai untuk memenuhi kebutuhan banyak wanita
Tuduhan negatif atau stigmatisasi kepada HOS Tjokroaminoto dilakukan oleh Darsono murid sekaligus pendukungnya yang berhaluan Komunis
Penyematan atau pemberian tuduhan negatif (stigmatisasi) bertujuan untuk membusukkan karakter seseorang yang menjadi target demi agenda
Ada agenda ditiap pembusukan terjadi, fitnah atau tuduhan yang tidak berdasar dibangun dan dibuat dengan memiliki tujuan yang langsung menusuk pada penilaian atau persepsi publik kepada target pembusukan
Seperti yang terjadi pada sosok HOS Tjokroaminoto, pembusukan terhadap diri Tjokroaminoto adalah upaya mendistorsi atau menghancurkan integritas seorang Tjokroaminoto dimata para kawan dan sahabat di Sarekat Islam dan sekaligus menjalankan agenda-agenda para anggota Sarekat Islam yang berhaluan Komunis dibawah semaun cs
Begitu pula yang kini terjadi pada sosok Anis Matta tokoh pembaharu saat ini, pembusukan karakter sedang disematkan pada dirinya, berbagai tudingan miring demi tujuan membentuk stigma negatif kepada publik
Apa yang dahulu pernah terjadi pada HOS Tjokroaminoto kini terjadi pada sosok Anis Matta dalam dimensi waktu yang berbeda, Pembusukan karakter keduanya dilandasi persoalan pada partai politik yang menaunginya
Perbedaan paradigma berpikir tentang agenda serta konsep kedepannya, ketika dahulu HOS Tjokroaminoto dihadapkan persoalan perbedaan ideologi, sementara kini Anis Matta dihadapkan pada persoalan perbedaan konsep pemikiran perjuangan
Perbedaanlah yang menyebabkan satu kubu pemikiran melakukan pendistorsian kepada target pembusukan agar tercipta sebuah stigmatisasi, sehingga publik akan menilainya negatif atau jelek secara pandangan pemikiran sempit
Tujuan stimatisasi tentu adalah pembusukan karakter, keberadaan istilah mentjokro (menyelewengkan) dahulu adalah bukti nyatanya, bagaimana sebuah stigma yang sengaja diciptakan Darsono pendukung haluan komunis untuk membusukkan sosok HOS Tjokroaminoto
Dan peristiwa berulang ketika sosok Anis Matta dilekatkan dengan sebutan faksi bernama sejahtera (faksi yang suka kemewahan), intel yahudi hingga stigma sebagai aktor dibalik penangkapan Luthfi Hasan Ishaaq
Sehebat apapun pembuatan stigma atau tuduhan demi pembusukan karakter, pasti akan diketahui motif dibaliknya, dan biasanya adalah persoalan perbedaan pemikiran daya juang
Soal like or dislike menjadi dasar motif pembusukan, ketika Darsono tidak menyukai semakin besarnya pengaruh SI berhaluan Islam maka dia akhirnya melakukan pembusukan kepada Tjokroaminoto, begitu pula ketika kubu orisinalitas tidak menyukai konsep politik realitas maka pembusukan kepada Anis Matta pun akhirnya dijalankan
Tuduhan atau stigma bisa dibuat serapi mungkin dengan memakai konsep cocokologi, dilengkapi narasi narasi pembusukkan layaknya narasi drama telenovela demi tujuan yang membaca terbangun opini sosok yang menjadi target pembusukkan benar-benar busuk seperti yang dikisahkan
Setiap pembusukan karakter itu pasti ada sisi kelemahan, karena memanfaatkan teori cocokologi serta narasi dongeng seperti contoh ketika tuduhan mentjokro atau menyelewengkan uang disematkan kepada Tjokoraminoto, tuduhan mentjokro seolah benar terjadi ketika dicocokologi dengan tuduhan Tjokroaminoto yang memiliki banyak simpanan wanita agar menarik dan menggiring pemikiran para pendukung Sarekat Islam namun seiring berjalannya waktu pembusukan atau tuduhan tersebut hilang tak terbuktikan
Atau ketika Anis Matta yang dituding menjadi aktor dibalik penangkapan Presiden LHI dengan cocokologi haus kekuasaan karena lama menjadi Sekjen dan disebut sebagai bagian operasi intel yahudi
Kelemahan pembusukan karakter adalah akhirnya akan diuji dengan pembuktian dilapangan, fakta dilapangan menjadi penyaring kebenaran sehingga terkuaklah motif besar dibalik semua yang disebarkan
Seperti kisah Tjoroaminoto yang akhirnya semua sadar bahwa ini adalah upaya dari Darsono berhaluan komunis untuk mendistorsi gerakan SI berhaluan Islam dengan membusukkan pemimpin SI yaitu HOS Tjokroaminoto yang memang dekat dengan SI berhaluan Islam
Juga pada kisah Anis Matta, pembusukan dengan teknik cocokologi, meyebarkan tuduhan sebagai aktor penggulingan LHI serta menjalankan operasi intel yahudi untuk menghancurkan PKS akhirnya terbantahkan dengan bukti dilapangan, karena pada pemilu 2014 PKS dibawah kepemimpinan Anis Matta justru mendapatkan suara 6,79 persen, logika berpikirnya kalau memang misi Anis Matta untuk menghancurkan partai, maka pada pemilu 2014 tersebut adalah masa yang tepat untuk mematikan mesin politik dengan memanfaatkan momentum tuduhan partai korupsi sapi sehingga PKS tidak akan lulus Electoral Threshold
Pembusukkan karakter memang kejam, dilempar dari tempat yang gelap demi tujuan mengacak-acak situasi ditempat yang terang, akhirnya semua saling berlawanan
Terkuaklah motif pembusukkan, demi menyingkirkan dan menghancurkan sang lawan pemikiran
Yang menjadi disayangkan, fitnah menjadi alat kebenaran untuk membusukkan
Dan anehnya, menjadi pegangan kebenaran bagi para pencari kebenaran
Sementara sejarah terus berulang, semua adalah soal perbedaan daya juang pemikiran, teori tidak menerima perbedaan maka singkirkan menjadi jawaban
Pembusukan yang menjijikan
bang dw