Kepemimpinan Anis Matta (1)

Kepemimpinan Anis Matta (1)

Kepemimpinan Anis Matta (1)

Anis Matta,Lc.,MA

Oleh: Erizal

Kepemimpinan Anis Matta yang dimaksud adalah bagaimana ia membuat kebijakan. Jika ia seorang orator, pemikir, penulis, termasuk administrator, mungkin sudah sering didengar. Dan buktinya juga mudah didapat. Tapi bagaimana ia membuat kebijakan, ini agak jarang diceritakan. Padahal di situ hakikat seorang pemimpin. Bagaimana membuat kebijakan dalam situasi apa pun.

Tapi jangan buru-buru bilang saya orang dekat Anis Matta. Jika ada istilah lingkaran satu, lingkaran dua, maka saya hanya berada di lingkaran empat, atau malah lima dan seterusnya. Tapi, sungguh-sungguh saya ingin bilang bahwa sedikit banyaknya, saya tahu bagaimana seorang Anis Matta membuat kebijakan. Artinya, dari tempat saya berdiri proses olahannya masih terlihat jelas.

Saya kenal Anis Matta tak lama usai dinonaktifkan dari struktur, termasuk dari unit pembinaan kader (UPK) tiap pekan dan segala macam terkait dengan DPW PKS Sumbar. Kesalahan saya hanya satu. Yakni, menulis di koran! Apalagi, kalau bukan soal Fahri Hamzah. Tulisan saya, tidak sebagaimana dikehendaki struktur. Sudah diperingatkan tapi tak berhenti. Saya disidang di markas DPW PKS Sumbar, tapi tepatnya bukan disidang, yakni mendengarkan keputusan penonaktifan tanpa bisa membantahnya.

Anis Matta ingin tahu kronologi penonaktifan saya. Bagaimanapun, saya anggota dewasa di PKS. Hanya satu level di bawah Fahri Hamzah. Saat itu penonaktifan saya sudah tersebar luas di kalangan kader. Malah, non-kader inti pun mengetahui dan banyak bertanya pada saya tentang kebenaran penonaktifan itu. Terlalu cepat penyebaran itu. Kepada Anis Matta saya ceritakan soal kronologi penonaktifan apa adanya. Saat itu bulan Ramadan 2016, usai melakukan shalat tarawih.

Anis Matta tak menanggapi langsung kejadian saya itu. Ia malah menganjurkan saya agar menemui saja pimpinan PKS di Wilayah, sesuai keputusan penonaktifan saya. Tapi saat itu, saya mengatakan tak akan menemui pimpinan, kecuali dipanggil. Itu sudah saya katakan kepada pembina UPK saya. Saya tak akan datang seperti pesakitan. Anis Matta tak menanggapi dan bercerita soal lain.

Ini harus digarisbawahi terlebih dulu agar tak muncul tuduhan Anis Matta memprovokasi saya. Itu sikap saya pribadi yang sudah yang ambil lebih dulu. Nanti akan muncul tentang dauroh-dauroh, Anis Matta bikin pasukan, dan lain-lain. Itu tidak benar. Setelah Anis Matta tak ditunjuk sebagai Presiden Partai, rezim baru bermanuver, Fahri Hamzah dipecat, Sekjen mundur, dan lain-lain, situasinya sama sekali baru. Malah Anis Matta dikesankan menyetujui semua kebijakan itu.

Nah, saat itulah saya mengetahui bagaimana Anis Matta membuat kebijakan atas masalah yang dihadapi internal, termasuk situasi eksternal yang tak kalah sulitnya waktu itu. Pilkada DKI, misalnya. Gelombang aksi umat Islam yang tak berhenti, bahkan sampai sekarang. Situasi global yang juga dicermati, semua diolah Anis Matta menjadi satu kebijakan yang utuh, rinci, dan solid.

Karena itu barangkali kebijakan PKS di masa lalu kerap berada pada situasi yang pas dan bagus ketimbang kebijakan PKS di masa kini. Anehnya saat itu, di dalam ia terus diserang terutama citra mewah, sementara kebijakan yang dibuatnya bagus dan menguntungkan. Saat ini, kebijakan dibuat kurang pas dan kurang menguntungkan, tapi di dalam, pimpinan selalu dipuji dan didukung sebagai prestasi.

Saya mulai dari internal PKS. Saya termasuk yang heran dan bertanya kenapa Anis Matta tak melanjutkan kepemimpinannya? Bagaimanapun, ia hanya naik di jalan karena situasi internal yang di ujung tanduk. Presiden Partai kena OTT! Ia ditunjuk saat yang lain tertunduk. Tertunduk karena tak tahu apa yang mau dibuat? Ia sukses mengubah situasi, tapi saya tak berada dekat situ.

Itu semua rangkaian pembuatan kebijakan yang pas dan bagus. Bangkit dari keterpurukan yang dalam. Tak banyak yang bisa berdiri di depan dalam situasi seperti itu. Banyak yang orator, penulis, pemikir, termasuk administrator, tapi belum tentu bisa melakukannya. Hal itu punya seni tersendiri. Tapi sekali lagi, saya tak berada dekat situ saat itu, sehingga tak banyak bisa bercerita.

Entahlah, apakah itu kerugian atau keberuntungan? Kerugian karena berada di dekat Anis Matta justru di saat ia tak punya posisi apa-apa. Kata teman saya, saat koalisi pencapresan tengah seru-serunya, bila Anis Matta sedang pegang posisi, maka ia akan dilirik. Tapi itu cuma berandai-andai belaka. Keberuntungan justru karena saat tak berkuasa, itulah kepemimpinan seorang diuji.

Anis Matta bisa melewati. Tak terlihat bedanya. Malah kematangan makin muncul. Ia tak kehilangan wibawa dan rasa hormat sebagai orang biasa. Lambat-lambat, ia menikmati. Ke mana-mana tanpa pengawalan yang kaku dan berbelit. Tapi, tak seharusnya ia mengalami nasib begitu.

Harusnya, tradisinya lanjut. Itu yang terjadi saat Tifatul Sembiring menggantikan Hidayat Nur Wahid, lalu penuh pada periode 2005-2010. Tapi untuk Anis Matta stop. Ia dianggap sukses, tapi distop! Belakangan saya tahu bahwa di Mejelis Syuro pun permintaan lanjut itu ada dan kuat, tapi akhirnya tak berdaya. Anis Matta sendiri yang melerai. Ia turun dan berpidato teramat dalam.

Saya banyak dapat cerita soal ini. Cerita dari para pelaku, (sumber primer), yakni anggota Majelis Syuro sendiri. Bukan dari kaleng-kaleng. Kabarnya akan ada “Buku Putih” soal ini, yang dibuat berdasarkan kesaksian para pelaku dan rekaman yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, seputar kejadian inilah yang banyak disesatkan, malah oleh orang yang sok tahunya minta ampun.

Tapi ini juga di antara bukti bagaimana seorang Anis Matta pas dan tepat dalam membuat kebijakan. Bayangkan, bila saat itu Anis Matta “memanfaatkan” situasi yang menguntungkannya. Jangankan memanfaatkan, mendiamkan saja, tak bersikap, sudah cukup membuat semua berantakan. Apalagi ia tahu bahwa ketidaksukaan pada dirinya telah berlangsung lama, saat ia sedang bekerja keras.

Anis Matta melihat lorong gelap. Sudah seharusnya ia turun. Yang tak menanam tak akan memetik apa-apa. Kini giliran orang yang tak banyak menanam, tapi memetik teramat banyak. Ia dikesankan korupsi uang partai, tapi pengorupsi menikmati kemuliaan. Ia dikesankan berlawanan dengan visi-misi partai, tapi yang lain lagi sibuk sekolah, dan mematut-matut diri sebagai pejabat.

Baca juga:  DEFISIT AKAL , SURPLUS EMOSI

Benar saja, belum lama rezim baru memerintah partai, kejanggalan terlihat di mana-mana. PKS seperti kehilangan pembuat kebijakan yang canggih. Jangankan buat eksternal, internal saja terasa mentah. Bagaimana bisa memecat Fahri Hamzah tak dihitung secara teliti? Seharusnya itu sudah ditakar jauh hari. Tapi, tidak! Penakar kebijakan itu sudah pergi. Terlihat bahwa selama ini ia menanam, bukan yang memetik seperti yang dikesankan.

Tidak sekadar dipecat, Fahri Hamzah diisolasi, bahkan sampai sekarang. Entah kebijakan macam apa itu? Sesiapa yang berhubungan dengannya, membelanya, ditandai, kemudian dipecat. Saya salah satu korbannya. (Ada warga Facebook yang ingin tahu cerita penonaktifan saya, nanti saja kalau ada waktu hehe). Ini sama saja membuat perang yang tak perlu. Yang tak ikut jadi ikut.

Wajar saja kalau Fahri Hamzah melaporkan para pihak secara pidana. Kalau perdata telah dikabulkan 30 miliar dari 500 miliar yang dituntut. Tapi sampai sekarang belum dibayar sukarela. Malah, kebijakan pemecatan itu didahului serangkaian tindak pidana berupa pemalsuan surat dari lembaga tinggi negara. Seolah-olah Fahri Hamzah pernah dihukum, padahal tidak. Apa tak ngeri?

Cara membuat kebijakan seperti ini, sungguh tak pantas ditiru. Menghalalkan segala cara. Kebijakan salah bukannya diluruskan, diperbaiki, tapi minta dibela, didukung, tak boleh dibantah, bahkan dijadikan sebagai syarat kenaikan jenjang kader. Bahkan, lembaga pengadilan pun, mulai dari PN hingga MA, cenderung dipersekusi sebagai lembaga syarat permainan. Jangan dipercaya!

Sekjen Taufik Ridlo, mengundurkan diri karena tak bersedia menandatangani pemecatan Fahri Hamzah dibilang mengurus bisnis dengan santai. Ini seperti kerikil-kerikil tajam dibungkus pakai daun keladi. Lebih lanjut, baca pengakuan Hudzaifah Muhibullah, anak (alm) Taufik Ridlo.

Anis Matta juga begitu. Dikesankan mendukung, tapi pengakuannya malah melarang, tak perlu menempuh kebijakan itu. Tapi memang, Anis Matta sudah tak memegang posisi. Usahanya menempuh jalan islah terbilang besar. Tapi selalu membentur dinding. Sarannya tinggallah saran. Terakhir pencabutan laporan pidana MSI. Dikira itulah akhir, nyatanya awal musibah lebih besar.

Anis Matta seperti tahu apa yang akan terjadi. Ia mengubah kebijakannya. Dari turun lalu mempersilakan rezim baru bermanuver, mengambil jarak, sampai akhirnya kembali aktif, karena ditarik-tarik. Awalnya tak mau mengambil posisi, tapi karena khawatir dianggap berlepas tangan, ia mau menerima posisi yang hendak disediakan. Tapi posisi itu akhirnya hanya gula-gula belaka.

Ia punya saksi terpercaya, tapi itu sudah tak penting. Yang penting ia punya jawaban kuat. Beda dengan saat ia turun podium, pihak-pihak tertentu di PKS memang mau menyingkirkannya, sejak lama. Bagaimana ia menceritakan itu kepada orang lain? Saksi kuncinya Taufik Ridlo lebih dulu dipanggil-Nya. Ini bukan masalah pribadi. Sejak awal ia tak mau mempersonifikasi masalah.

Anis Matta mulai turun ke Semarang menjelang datang Ramadan 2017, hampir dua tahun setelah ia tak lagi memegang jabatan. Saat itu kecamuk soal Fahri Hamzah sudah hampir merata di kalangan kader. Kecamuk soal pilkada DKI, gelombang aksi umat, juga sudah heboh. Itu yang pertama, tapi kegelisahan belum menemukan jawaban. Ia berbicara lagi di hadapan orang banyak.

Satu satu memang sudah bertemu Anis Matta, berdialog, menemukan akar masalah. Tapi, sama-sama belum tahu apa yang sebetulnya terjadi? Ada masalah, tapi belum tahu apa sebetulnya masalah ini? Anis Matta sungguh-sungguh, bergulat mencarikan solusi. Kadang, ia bilang begini, kadang begitu. Bukan berubah-ubah, tapi memang ini masalah baru. Eskalasinya akan seperti apa?

Dari situ dapat dikatakan bahwa sebetulnya Anis Matta adalah seorang pemimpin pencari solusi, bukan pencari masalah. Semua masalah internal dipurukkan kepadanya. Bahkan, yang tak jelas pun, ujung-ujungnya nanti bertemu nama Anis Matta. Digali-gali lagi, bertemu nama Anis Matta. Itu tidaklah benar! Turunnya solusi, baliknya solusi. Tapi memang ia sudah tamat di PKS dan ia tahu itu.

Kadang saya juga ragu, apakah Anis Matta ini benar-benar visioner atau sebenarnya biasa saja? Pintar atau sebenarnya lugu? Sebab, ia tahu persis tak bakal dicalonkan sebagai capres, tapi ia tetap keluar uang pasang baliho di mana-mana. Ia tahu persis siapa yang paling berselera sejak awal, bahkan berkuasa. Di depan umum, dikatakan telah keluar dari tradisi PKS. Apa tak kontras?

Katanya, itulah ongkos yang harus dibayar! Kalau tak begitu, mana pula kader-kader tahu bahwa ia memang tak diinginkan. Kader-kader yang mendatangkan, tapi diboikot. Pasang baliho, tapi malah uangnya dicurigai dari mana? Kadang orang baru paham kalau ia sendiri yang melihat, menyaksikan. Bila tak begitu, tak paham. Mana yang lebih baik; tak diinginkan, dicurigai, karena berbuat sesuatu ketimbang diam saja, hasilnya sama? Tentu lebih baik berbuat walau ada ongkos.

Ia juga sadar, ajakan islah itu omong kosong, tapi tetap meminta Fahri Hamzah mencabut laporan pidana terhadap MSI. Akibatnya, Fahri Hamzah diserang kawan-kawan dekatnya, konon juga keluarganya yang terlanjur “sakit hati” dibilang; anaknya, kemenakannya, karib keluarganya, pamannya, suaminya, ayahnya; sebagai pembohong dan pembangkang di depan publik (Televisi). Dan itu tidak sekali, berkali-kali. Kesepakatan tinggal kesepakatan, janji tinggal janji. Tak kapok.

Agaknya Anis Matta tak mau kelewat batas, jumawa. Mentang-mentang di atas angin lalu belagu. Ia tetap memberi kesempatan bagi orang yang “angkat tangan”. Etikanya, memang begitu. Apalagi ini urusan internal. Bila eksternal, jangan ditanya. Posisi Waka MPR harusnya buat PPP, ia tak sedikitpun bergeming. Selalu ada kesempatan buat memperbaiki, kecuali ketidakmauan itu datang dari pihak lain. Katanya, apa pun juga, secara moral kita harus ada di atas bukan di bawah.

Baca juga:  Pemilu Merenggut Nyawa Ayahku; Kisah Pilu Pesta Demokrasi

Hebat benar. Siapa elu? Kira-kira begitu. Berkuasa tidak, tapi tak memanfaatkan. Saatnya memukul, malah tak memukul, terpaku, mungkin bengong serta menyerahkan senjata bulat-bulat pada orang lain. Mengerjakan sesuatu yang jelas-jelas hasilnya merugi, merugi besar, bahkan. Itu yang saya tanyakan di atas; visioner atau biasa saja, malah aneh? Pintar atau lugu? Ada yang bilang, ia orang baik. Cukup itu saja. Mungkin, ia sering tertawa-tawa sendiri melihat laku hamba Allah itu.

Ia pernah juga mentaati perintah larangan untuk tak turun ke daerah-daerah. Khawatir ada matahari kembar. Itu waktu turun pertama setelah tak lagi menjabat apa-apa. Dari Semarang finis di Palembang. Baru beberapa daerah saja. Histeria kader terhadap dirinya di daerah-daerah harus dihentikan. Ia tak lagi mematuhi perintah itu, saat sudah keluar nama bacapres internal. Itu sudah tak logis. Masak bacapres dilarang turun? Duduk manis saja. Akhirnya memang, semua gigit jari.

Tapi anehnya, daerah-daerah yang dituruni Anis Matta itu, semuanya bernasib naas. Bila tak diganti, dipecat. Dan itu dua hal yang sama saja. Sebutlah Semarang, Sumsel, Sulsel, Jatim, Kalimantan, dan lain-lain. Dan orang-orang yang mengeluhkan kondisi internal kepada pimpinan, semua juga bernasib buruk. Ketua DSW Lampung, Riau bahkan DPTW Sumut, semuanya bersih licin tak bersisa. Makanya saya bilang, kebijakan PKS saat ini jauh dibanding dengan PKS dulu.

Anis Matta memaafkan kesalahan apa saja yang belum diperbuat kader, kini tak ada maaf bagi kesalahan yang tak pernah diperbuat kader. Orang yang menyampaikan permasalahan justru dianggap orang yang bermasalah itu sendiri, karena itu harus diamputasi. Orang yang diam-diam saja, dianggap orang yang mengerti dan taat. Wajar saja keterbelahan, keterpecahan internal PKS saat ini terjadi. Maunya memang begitu, cara pandangnya juga begitu, akhirnya kebijakan-kebijakannya begitu.

Orang yang me-like tulisan di medsos pun, bisa ditegur. Tulisan panjang maupun sekadar komen satu kalimat saja. Tulisan Anis Matta atau Fahri Hamzah, atau siapa pun yang mendukung atau berempati kepadanya. Ajaib. Dunia yang makin terbuka, disikapi dengan cara kolot. Padahal hanya sebuah tulisan atau satu kalimat saja. Bayangkan! Kebijakan aneh, diamankan secara aneh.

Yang tak mau ditegur, pekan berikutnya, pembina UPK tak lagi mengundang untuk hadir acara pekanan. Yang bengong, bertanya, ngangguk-ngangguk balam saja, dimasukkan informasi-informasi palsu, sepalsu surat yang dikeluarkan buat Fahri Hamzah pernah dihukum, padahal tak pernah. Tak sedikit yang mengadu kepada saya soal ini. Ia me-like tulisan saya, lalu ditegur keras.

Orang dibentur-benturkan tak jelas. Tapi masalah persisnya tak tahu. Orang mencari tahu, tapi dilarang, dibatasi, ditutup. Bahkan, ke sumber primer langsung, orangnya langsung. Sekadar simpati-empati pun, tak boleh. Entah pemahaman apa yang hendak dibentuk? Terpidana korupsi seperti LHI, masih dibuat citra baik. Masak FH dan AM tak ada apa-apa, mau dibuat citra buruk?

Bahkan, ini menerpa level atas. Keanggotaan ahli pun, bila sudah teridentifikasi nasibnya akan sama. Komposisi UPK istilahnya, tapi namanya lenyap sebagai pembina. Ia terbuang tanpa alasan yang jelas. Di sini awal mula muncul dokumen “Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS”. Jadi, tak hanya wilayah-wilayah yang ditandai. Kader pun diwarnai dengan merah, kuning, hijau. Entah apa gunanya itu?

Yang merah berarti pendukung Anis Matta. Disebut Osan (Orang Sana). Sedangkan hijau berarti pendukung DPP (Rezim Baru). Disebut Osin (Orang Sini). Dan kuning berarti, tak masuk kedua kubu, alias berada di tengah-tengah. Kemudian, disebut Oteng (Orang Tengah). Dokumen itu dibantah, tak diakui. Tapi dalam praktik sulit untuk dikatakan bahwa dokumen itu tak dipakai.

Ndak-ndak, tapi iya. Iya-iya, tapi ndak. Begitulah. Ini implementasi kebijakan yang keliru. Cetakan dibuat lebih dulu, lalu masalah dipuruk-purukkan ke dalamnya. Mestinya cetakan dibuat setelah masalah dirumuskan. Pastilah identifikasi masalahnya tak valid. Apalagi ini buat internal, bukan eksternal. Kalau internal saja begini, bagaimana membuat kebijakan eksternal? Pasti repot.

Ada yang bilang, ini bukan lagi dakwah yang bekerja, tapi hantu. Cara-cara siluman, cara-cara intel. Informasi dihembuskan dari dalam, informasi dari luar ditutup. Masuk juga, dihantam lewat pertemuan-pertemuan tertutup tiap levelnya. Kasus ceramah TJ adalah bukti. Maka banyak yang heran, ini masalahnya apa? Tak ada yang tahu. Kayak mesin yang telah jadi, tinggal dipakai saja.

Ada yang lucu dari isi dokumen itu. Orang yang mestinya masuk ke Osan ternyata masuk ke Osin, atau sebaliknya? Ada yang kecewa berat, kenapa namanya tak masuk ke Osan? Padahal ia merasa sangat dekat dengan Anis Matta. Berarti, “itu pelecehan kedekatan, “katanya. Ada yang namanya sama, Reza Pahlepi, misalnya. Orang itu di daerah A, tapi dibuat di daerah Z yang jauh.

Jadi, masalah sebenarnya tak ada. Masalah dibuat sendiri. Benar kata Anis Matta, kadang kita tak perlu menceritakan masalah kita, masalah itu bisa bercerita sendiri lewat orang lain. Yang paling penting kita mencari jawabannya. Pada saat masalah itu muncul, kita sudah punya jawabannya. Itulah, kenapa orang yang bertemu Anis Matta menceritakan masalah internalnya selalu terpuaskan karena ia sudah memiliki jawabannya.

(Visited 168 times, 1 visits today)

Mas Admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account