Berita dan Informasi Terkini
Entah kepada rakyat mana yang dimaksud oleh Presiden Joko Widodo dalam ucapannya ketika menyebutkan, jika ingin menjadi kaya, sebaiknya jualan racun kalajengking, karena harganya mahal. Ucapan Jokowi ini sudah tentu, ditujukan kepada rakyat Indonesia yang mungkin saat ini sudah terlalu banyak mengeluh akibat kesulitan perekonomian yang mereka alami. Keluhan keluhan tersebut bisa ditemukan dimana saja, terutama di berbagai “tempat curhat” alias sosial media, terutama para ibu ibu yang merasakan langsung pada kenaikan harga bahan pokok, terutama sembako.
Sementara negara Indonesia, sudah menjadi perbincangan berbagai negara di dunia, sebagai salah satu negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat beragama banyaknya, bahkan grup Band legendaris Indonesia, Koes Plus sampai menciptakan lagu berjudul “Kolam Susu” yang menggambarkan betapa subur dan kayanya Sumber Daya Alam (SDA) Indonesia. Bahkan Presiden Soekarno sempat melontarkan pujiannya kepada Pulau Halmahera di Provinsi Maluku Utara, yang disebutnya sebagai “The Giant Sleep” alias raksaa yang sedang tidur.
Raksasa yang dimaksud bukannya bentuk seekor ataupun seorang raksasa, tapi kandungan sumber daya alamnya yang sangat banyak, yang terbukti kini menjadi salah satu penyumbang devisa bagi negara dalam hal pertambangan terbesar, mulai dari Nikel, Mangan, Emas, Biji Besi, menjadi rebutan berbagai investor dari luar negeri. Bahkan bukan hanya di pertambangan, sektor kelautan juga menjadi incaran para pemilik kapal kapal nelayan dari negara tetangga. Bahkan penangkapan yang sudah dilakukan oleh pihak TNI AL dan juga aparat lainnya, sejak puluhan tahun lalu, sampai saat ini, tidak juga pernah membuat para pencuri ikan masuk untuk mencari ikan di laut perairan sekitar Provinsi Maluku Utara.
Kini persoalan harga racun kalajengking saja yang mahal di luar negeri sudah diributkan oleh Presiden Jokowi, bahkan “menyuruh” masyarakat kita untuk berdagang, mungkinkah presiden Jokowi sudah memiliki data dan melihat peluang untuk rakyat Indonesia tidak akan bisa berhasil hidup sejahtera dan menjadi kaya dari sumber kekayaan alam kita, hingga harus disuruh suruh untuk berdagang racun kelajengking ?
Karena saat ini hampir seluruh sektor pertambangan sudah dikuasai oleh para investor dari China yang sadisnya bukan hanya membawa masuk uang, namun juga pegawai mereka juga didatangkan dari China. Dan Presiden juga sudah tahu jika hampir seluruh tanah yang ada di Indonesia dikuasai oleh segelintir orang kaya di Indonesia. Hingga akhirnya petani petani kita makin lama bingun untuk bertani. Simak saja ketika kita keluar daerah di beberapa wilayah di Jawa Barat terutama, banyak sekali berdiri pabrik pabrik disebagian pinggirnya justru terhampar sawah milik para petani.
Sepertinya para petani, baik petani sawah, garam dan komoditas lainnya disuruh berhenti saja dari kegiatannya karena tidak kaya kaya sejak dulu mereka menggeluti profesi mereka sebagai petani, apalagi pemerintah saat ini lebih suka melakukan impor, tanpa mau tahu apakah para petani memasuki masa panen. Dan sudah tentu saja mereka “disuruh” oleh Presiden Jokowi agar mengganti profesi sebagai petani “racun kalajengking”.
Tapi yang jadi pertanyaan, tidak perlu seluruh rakyat Indonesia, cukup hanya separuhnya saja, atau katakanlah yang ada di Pulau Jawa saja yang berbisnis racun kalajengking, lalu siapa yang akan membelinya ? dan apakah harganya akan tetap mahal ? karena sudah tentu yang mengkomsumsi racun kalajengking, baik digunakan langsung ataupun untuk campuran, tentu tidak banyak, dan beda dengan kekayaan alam lainnya.
Entah siapa yang memberikan masukan kepada presiden Jokowi untuk mengeluarkan pernyataan yang seakan akan menjadi perintah kepada jajarannya untuk meneruskan kepada bawahannya yang sudah tentu nantinya akan sampai kepada rakyat, dan bisa saja nanti akan muncul program yang berbau kalajengking, yang entah akan dibuat oleh kementerian darimana, karena saat ini banyak kementerian kementerian yang sudah tidak lagi mengurusi “pekerjaan” mereka, namun tampil sebagai menteri yang cepat cepat mengusung apapun yang sedang diinginkan oleh presiden Jokowi, walaupun tanpa perintah,
Sepertinya pak presiden perlu untuk memiliki orang orang yang benar benar memikirkan persoalan TKA yang ilegal dan tidak memiliki skill, lalu persoalan Impor yang tidak pernah mensejahterakan rakyat, dan yang terpenting adalah, para menteri menteri yang kalau menanggapi persoalan yang terjadi di masyarakat seenaknya saja, untuk memakan cacing, diet, tanam sendiri, makan keong sawah dan berbagai pernyataan yang tidak ada levelnya dengan jabatan seorang menteri. Bahkan ada yang bukan hanya sekali saja, tapi berulang kali, memberikan usul yang menjadi bahan ejekan kepada mereka yang mengeluarkan pernyataan dari netizen.
Karena saya yakin jika para menteri yang tidak memiliki sense of humanity ini, yang terpilih melalui hak preogratif presiden, akan mendapatkan stigma dari masyarakat jika yang dipilih dan yang memilih sudah tentu sama saja levelnya. Karena yang menduduki kursi menteri bukanlah persoalan gampang, yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kebijakan kebijakan yang bersentuhan dengan masyarakat.
Dalam hukum kita mengenal, yang menerima dan yang memberi keduanya bersalah, terutama dalam kasus korupsi. Lalu apakah juga sama dengan kenyataan jika yang dipilih dan yang memilih apakah juga sama levelnya ? Karena selama ini saya melihat yang terpilih hanya bisa asal “cuap” seperti makan bekicot ketika daging mahal, tanam sendiri ketika cabe mahal, atau cacing itu berprotein dan tidak masalah jika ikut dimakan dengan ikan dari kaleng sarden. Kemudian yang memilih menyarankan berbisnis racun kalajengking kalau ingin kaya.
Penulis : AJJY Pomone