Jargon Kampanye Asyik Dipersoalkan?

Jargon Kampanye Asyik Dipersoalkan?

Jargon Kampanye Asyik Dipersoalkan?

Oleh : Adib Zain

Materi kampanye berisi kritikan terhadap Pemerintah Pusat biasa disampaikan oleh Pasangan Calon ( Paslon ) dalam kontestasi Pilkada, demikian pula Jargon Kampanye #2018AsyikMenang #2019GantiPresiden telah dua kali saya saksikan dalam Kampanye Terbuka Pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat ( Jabar ) Sudrajat-Syaikhu nomor urut 3, Asyik ini. Pertama, di Kota Bekasi, 6 Mei 2018 dan yang kedua kali di Kota Bandung, 12 Mei 2018. Tagar itu senantiasa disampaikan diakhir acara sebagai “closing statement” dari Asyik.

Tidak pernah dipersoalkan karena tidak ada pendukung Paslon yang lain disana. Nah, ketika hal itu disampaikan dalam Debat Terbuka di stasiun TV mengapa menjadi persoalan, kemudian menimbulkan kegaduhan dari pihak yang lain? Jika pasangan lain, ingin gunakan jargon ‘2019 tetap presiden’ tidak akan diprotes oleh siapapun, karena itu harapan dari para pendukungnya. Pendukung Asyik, harapannya #2018AsyikMenang #2019GantiPresiden, maka keluarlah rekomendasi itu menjadi jargon kampanye, terbuka maupun debat di Stasiun TV.

Baca juga:  Mengenal Dr. Maurice Bucaille Penulis Buku "The Bible, The Qur’an and Science"

Kita adalah Negara Kesatuan, politik Daerah terkait dengan politik Nasional. Issue Daerah, apalagi Jawa Barat saling berpengaruh dengan issue Nasional dalam politik, ‘Pilkada Jabar serasa Pilpres’. Karena Jabar penting dikancah politik nasional. Jika melalui Pilkada Jabar 2018, ada agenda kampanye #2019GantiPresiden itu menunjukkan ‘positioning’ Asyik memang ada harapan mengganti Presiden sekarang secara konstitusional, disuarakan untuk menunjukkan kejelasan itu kepada pendukungnya.

‘Closing statement’ Asyik dalam Debat Terbuka Pilgub Jabar melalui stasiun TV tadi malam yang mendapat protes pendukung calon lain lebih karena merasa terkejut dan terbawa-bawa perasaan atau singkatan anak sekarang ‘baper’ ( bawa perasaan ). Rasanya, tidak perlu dipersoalkan, apalagi dianggap pelanggaran peraturan kampanye oleh KPU/Bawaslu Jabar, terlalu berlebihan. Apakah misalnya ada Paslon yang ‘die hard’ dengan Presiden, mengatakan ‘Hidup Jokowi’ dalam kampanyenya, juga salah? Jadi tidak perlulah dipersoalkan karena itu bagian jargon kampanye.

Menjelang bulan Ramadhan penuh berkah, ampunan dan ramat Allah SWT. ini, mari kita sejenak merenung dan menyediakan ruang dan waktu untuk saling memaafkan secara pribadi, antar pendukung. Pilkada langsung sekali dalam lima tahun ini kita sikapi secara jernih, agar tidak terjadi masalah antar pendukung, biarkan rakyat Jabar yang menyelesaikannya melalui bilik suara, siapa yang akan mereka pilih sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jabar 2018-2023 pada Hari Pemungutan Suara pada tanggal 27 Juni 2018.

Baca juga:  Prabowo, Nasionalisme dan Bayar Utang

Bandung, 15 Mei 2018

(Visited 77 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account