Mengapa dan untuk apa harus melakukan teror?

Mengapa dan untuk apa harus melakukan teror?

Mengapa dan untuk apa harus melakukan teror?

HARGA TIDUR NYENYAK TIDAK MURAH BUNG!
Oleh : Mardigu Wowiek – Pengamat Inteligen Pertahanan

Harga tidur nyenyak  dan  hidup aman setiap warga Negara  itu ada ONGKOS nya. Itulah tugas inteligen dan panji keamanan negara. Kejadian serangan mako brimob dan bom di Surabaya menggoyang kenyamanan tidur kita semua. Membangkitkan rasa geram.

Ada 4 reaksi yang tercipta dari peristiwa terror tersebut. Geram marah pada teroris dan mendukung pemerintah dan aparat segera menyelesaikan, yang kedua geram dan marah pada teroris dan geram pada pemerintah dan aparatnya dianggap tidak bisa melindungi segenap tumpah darah Indonesia.  Berikutnya yang ketiga  menuding ini rekayasa tanpa empati pada sang korban (nah ini kelompok aneh bin ajaib). Yang terakhir kelompok yang dengan keras keplok-keplok setuju tindakan teroris dan njomor empat  ini musuh saya pastinya.

Semua tahu saya termasuk yang nomor dua geramnya. Tetapi saya tidak serta merta hanya marah pada panji keamanan Negara termasuk presiden. Saya mau memberikan juga solusi. Kita ingin selesaikan masalah terorisme untuk selamanya.  Saya mau berkontribusi (walau tahu ngak akan di anggap).

Kita harus bantu Negara kalau kita menyatakan diri  kita NKRI garis lurus. Dari mana memulainya dari mana melihatnya pertama?

Dalam dunia teror jangan di lihat dari kacamata hukum dulu kita melihat dari sisi netral dulu. Begini melihatnya yang selalu kita mulai dengan pertanyaan :  mengapa dan untuk apa harus melakukan teror?

Dalam pelajaran dasar di kampus akan dunia perang terdapat tulisan yang  menjelaskan bahwa tujuan teror adalah membangun “instabilitas” di sebuah wilayah (sebelum penaklukan).

Kemudian  ketika ketidak stabilan tercipta maka di harapkan membentuk ketidak percayaan terbangun. Begitu ke tidak percayaan terbangun maka akan menimbulkan gerakan lebih besar lagi dimana sebuah pemerintahan bisa terganti atau terguling.

Teror adalah “act of war” tindakan teror adalah perbuatan perang. Kita  harus melihat teror dari sisi perang ( war tools). Sekali lagi, terror adalah strategi perang. Bukan criminal biasa juga bukan criminal berat. Perang itu bukan tindakan kriminal !!!. Perang itu kejahatan di atas criminal atau kejahatan luar biasa atau extra ordinary crime atau bahasa sekolahnya hideous crime kejahatan yang mengerikan.

Selama melihat teror dengan kacamata pro justicia maka teror di Indonesia tidak bisa selesai.

Ok, sebentar saya menjelaskan hal ini ya. Jadi UU anti teror yang akan di terbitkan oleh DPR atau perpu pemerintah pastikan pendekatanya adalah “extraordinary crime” dan tidak pro justicia.

Baca juga:  Nasehat khusus untuk Putri Shalilah

Nah ini akan membuat “kaget” sebagian orang, terutama orang yang punya posisi atau pejabat. Tetapi kita harus mengatakan apa yang harus nya di tata dengan baik dan benar ya katakan. Jelaskan dengan detail, adu ilmu.

Saya adalah orang yang “fight terror” sejak lama  boleh lihat rekam jejak di dunia digital dan jangan ragukan ke-NKRI-an saya urusan ini. Saya benci sekali tindakan pengecut berperang dengan menggunakan aksi terror karena pasti yang di target RAKYAT BIASA.

Tujuan perang dengan strategi teror hanya2 :  Pertama merubah kebijakan Negara, yang kedua MENGGANTI pemerintahan yang berkuasa.

Tidak ada sebuah  teror dilakukan hanya untuk tiket sekeluarga masuk surga (versi teroris), tidak ada.  Ini adalah perjuangan panjang mereka berseri, bersambung dan bertujuan.

Sekali lagi banyak orang mengatakan saya ini sontoloyo, saya selalu melontarkan kritik, tapi saya jamin, kritik itu bukan karena kebencian landasannya. Saya pasti memberikan solusi secara terbuka dan rinci. Counter currency warfare nya saya siapkan.

Design counter insurgency melawan teror sudah saya siapkan, jika di perkenankan. Hanya saat ini saya  agak sungkannya  adalah masalahnya banyaknya  persimpangan antara  rivalitas TNI- POLRI (kesannya). Jadi saya menarik diri. Di dua lembaga ini saya “orang dalam”. Saya tidak berpihak di keduanya, saya berpihak pada NKRI.

Yang jelas karena kompleks nya masalah insurgency dan ini termasuk warfare maka pendekatan saya anti HAM. Bagi orang seperti saya, HAM itu sengaja di pasang untuk melemahkan “pertahanan”. Padahal di Negara yang katanya pendukung HAM (baca : amerika) , undang-undang mereka terhadap terorisme anti HAM banget (kampreto ngak tuh).

Penggiat Anti HAM  menganggap counter insurgency yang saya usulkan tidak layak. Kita melihat darikacamata “war” juga di anggap salah. Tapi izinkan saya berargumen dan bertanya :  tinggi mana HUMAN RIGHT dengan NATION RIGHT?

Pendekatan keilmuan dan ketrampilan saya adalah Nation Right.

Kita di Indonesia masih gagap. Takut kiri takut kanan. Pemimpinnya banyak yang  tidak tegas untuk memilah dan memilih. Begini melihat lebih dalam lagi. Karakter “anatomi” terorisme di Indonesia sudah berubah petanya , sekarang mengikuti peta teroris dunia. Karakternya : 1)unpredictable,2) unstoppable, 3)deadly, 4) menarget “soft target”.

Dulu di targetnya  hard target, markas polisi, gedung asing, kedubes dll, sekarang public dimanapun. Di pasar, di jalanan, tempat ibadah, tempat-tempat yang tidak di jaga, bisa di serang!!!

Baca juga:  #2019GantiPresiden atau punah

Dan juga saya lama mengingatkan, terorisme di Indonesia masuk terror generasi ke 4. State sponsor terrorism terkoneksi dengan dunia luar. ( generasi 1,2,3 di jelaskan jumpa darat ya)

Mau bukti? Kita bahas, apa yang tetangga kita hadapi, philipina. Fakta lapangan, Maute dan abu syayaf tidak pernah perang kota (urban war). Selalu guerilla tac tic dan “jungle war”.

Maute sekarang perang terbuka di kota marawi!  Urban war. Kok bisa?!.

1200 tentara semuanya berpengalaman perang kota. Ini tentara import! Ini “mercenaries” semua, ini private army. Cara perangnya modern, taktik perangnya modern, senjatanya modern. Inilah yang di sebut generasi ke 4, berbasis IT berbasis sosmed. Bahkan tentara philipina dengan 10.000 pasukan tidak bisa menguasai marawi hingga detik ini. casualties lebih bnyak di fihak philipina. Bagaimana kalau masuk ke Indonesia?

Indonesia (DPR dan pemerintahnya) masih melihat  teroris di Indonesia “criminal berat”? dari kacamata pidana , padahal di seluruh dunia terrorism masuk extra ordinary crime. Pakai ekstra ordinary measurement, pakai extra ordinary act! Ini war!!!!

Kalau pakai pasal pidana dan hanya ahli hukum pidana yang menangani ya tidak akan bisa melakukan counter insurgency! Tidak bisa melakukan counter inteligen strategic, tidak bisa melakukan counter terrorism. Kasihan lah pak polisi atau pak TNI karena tidak bisa maksimum kerjanya.

Gerakan “counter” itu pasti tidak “pro justicia”. Ini harus pakai Undang-undang “melindungi segenap tumpah darah Indonesia”!!!!

Intinya, seperangkat OLI – Operasi Lawan Insurgency sudah lengkap di meja saya siapkan bersama team sudah lama rapih terbungkus. Tunggu perintah. Siapa komandonya? Bolehkah combatan di depan? Satu hal yang kita harus ingat, amerika tidak pernah menang melawan “insurgency tac tic”. Kita siap ndan, perintah?! #manaplatformkeamanannegaranya? #esensiinteligen #peace

 

(Visited 81 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account