Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Adriano Rusfi
Inilah repotnya punya menteri berasal dari pemilik aplikasi online : tak punya sumber daya real, mengandalkan asset-asset milik orang lain, lalu ia kelola bermodalkan manajemen aplikasi yang ia miliki… Dengan cara yang sama ia kelola sebuah kementerian sangat strategis – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan : Ia kumpulkan sejumlah penggiat pendidikan dari sana-sini… ia tanya ini dan itu… ia himpun sebagai brainware… Lalu dia bicara bla bla bla tanpa pernah benar-benar mengerti sebuah visi…
Dan ia berteriak, “Hapalan itu buruk, maka mari tinggalkan !!!”… Ia sampaikan itu saat pondok-pondok tahfizh berdiri menjamur… Ia kampanyekan itu justru ketika para ayahbunda berbondong-bondong ungkapkan hasrat bahwa mereka ingin agar ananda menjadi hafizh Al-Qur’an, agar ananda berikan mahkota kepada mereka kelak di surga… Tampaknya Om Menteri lupa, bahwa dia harus hapal nama istri dan anak-anaknya, bahwa dia harus hapal alamat rumahnya agar tak tersasar ketika pulang… Sebagai pemimpin yang baik, dia juga harus hapal nama bahkan kebiasaan sejumlah anak buahnya…
Atau, Mas Menteri mungkin juga belum sempat diberi tahu oleh sejumlah outsourcers-nya perbedaan antara menghapal pakai cara memorizing (mengingat), dengan menghapal pakai cara remembering (mengikat makna)… Ah, inilah repotnya punya Menteri bermodalkan intifa’ : terlalu mengandalkan pemanfaatan external resources, karena sebenarnya ia cuma punya sistem aplikasi. Menjadi manusia aerodynamic yang mengandalkan dorongan angin adalah cerdas… Tapi awas mati angin, Mas…
Memang benar, menghapal dengan cara memorizing hanya akan menguras kapasitas otak, karena sifatnya adalah data storage : menyimpan data di Long Term Memory otak. Data akan disimpan PER DIGIT… Nomer telepon 12 digit, akan menghabiskan 12 slot memori pula, 12 Bytes !!! Bahkan, ketika sel otak tempat menyimpan memori itu rusak, maka hapalanpun akan hilang : decay, sirna… (bukan lupa). Maka, ada manusia lupa ingatan… ada manusia amnesia…
Namun, Om Menteri, menghapal juga bisa dilakukan dengan cara remembering : mengikat makna… Sebuah pengalaman yang begitu berkesan akan tersimpan begitu kuat lewat remembering… Sebuah kisah yang memukau akan tersimpan dengan makna sangat dalam lewat remembering… Sebuah trauma masa lalu akan mengendap di bawah sadar buah dari remembering… Dan ini sebagian besar bukanlah kerja otak, tapi KERJA HATI… Memorinya memang akan tersimpan di otak : PER MAKNA, bukan per digit
Akan aku contohkan dengan sekumpulan angka, Mas Menteri : 17081945… Seorang yang menghapal kumpulan angka sebanyak delapan digit itu dengan cara memorizing, akan membutuhkan storage di otak sebesar delapan Bytes… Namun, seorang yang menghapal dengan cara remembering akan memaknai kumpulan angka itu sebagai “Hari Kemerdekaan Republik Indonesia”, lalu menyimpannya dalam hati, dan menyimpannya di otak cukup SATU BYTE SAJA.
Ah, Pak Menteri… andai anda paham dahsyatnya kecerdasan hati, dan hebatnya kemampuan remembering manusia, anda tentunya tak perlu terlalu cemas tentang hapalan-hapalan manusia beriman… Mereka memper-hati-kan data dan informasi, lalu mengikatnya dengan makna, kemudian menyemaikannya dalam hati… Sebuah makna bahkan dapat menjadi clue bagi makna yang lain, sambung bersambung… Sehingga rangkaian makna seluruh ayat Al-Qur’an hanya butuh SATU BYTE memori !!!
Tapi, Tuan Menteri, aku juga harus akui dengan sepenuh jujur tanpa harus membela diri, bahwa memang ada dan bahkan sangat banyak ayahbunda dan guru diantara ummat ini yang meminta bahkan memaksa ananda menghapal dengan cara memorizing… Mereka ajarkan bacaan shalat digit per digit tanpa makna… Mereka minta ananda menghapal do’a-do’a berbahasa Arab kata per kata tanpa mengerti artinya… Mereka jadikan anak-anaknya robot penghapal, dengan otak bukan dengan hati… Memori di kepala penuh sekian terabytes dan nyaris hang, tapi hati hampa dengan nilai dan makna…
Mungkinkah mereka yang anda maksudkan, Tuan Menteri ???
Bandung, 17 Desember 2019