Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Felix Siauw
Saya inget banget pas Alila mau masuk ke pesantren. Saya dan istri cerita ke Mami dan Papi saya, kalau nanti di pesantren, seragam Alila pakai cadar
Mami langsung bilang, “Nggak usahlah pake cadar, ngeri, nanti, orang kira ekstrim..”, dan obrolan semisalnya. Adapun Papi santai aja, mungkin sudah paham
Saya lalu jelaskan ke Mami saya, bahwa anggapan cadar itu ekstrim, radikal, ngeri, itu justru pandangan yang nggak adil, sangat judging dan nggak nggak respect
Kenapa? Sebab sudah mem-framing, meng-identikkan cadar dengan pemahaman radikal. Dan saya juga nggak salahkan Mami saya, sebab beliau bukan Muslim, ya wajar nggak berpikirnya begitu
Papi saya nanya berbeda, “Emang cadar itu wajib Lix? Bukannya hanya budaya Arab”. Saya jawab, “Banyak beda pendapat sih Pi, dan pastinya, ini Islami”, begitu
Pertanyaan Papi lebih adil, sebab memberi kelonggaran bagi akal sehat, memberi ruang bagi logika dan diskusi. Bukan judging tanpa argumen, atau framing negatif
Saya jelaskan ke Papi, bahwa saya ambil pendapat yang nggak mewajibkan cadar ke Muslimah, makanya istri saya @ummualila pun nggak pakai cadar
Lalu saya sampaikan, mengatakan cadar “budaya Arab” juga nggak tepat, sebab lebih tepatnya sebelum Islam malah wanita Arab pakaiannya “nggak karuan”, ya gitudeh
Lebih tepatnya, cadar itu budaya agama, sebab berasal dari pendapat Islami, pendapat yang berdasarkan dalil, baik dari Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya
Simpelnya. cadar itu ada perbedaan pendapat, sebeda-beda-nya ya cadar itu tetep Islami. Sedangkan pakai rok mini, buka aurat, sebeda-bedanya pendapat, tetep nggak islami
Nah gitu aja, mau cerita aja sih. Artinya harusnya pejabat agama itu, melarang pegawainya buka aurat, yang jelas nggak Islami, bukannya memasalahkan cadar/niqab yang jelas Islami
Hati-hati juga, nggak melakukan yang sunnah itu, nggak dosa. Tapi melarang orang melakukan perkara sunnah, itu hal yang pasti salah, semoga menjadi perhatian bagi kitaa
https://youtu.be/lpUNg2pm49Q