Berita dan Informasi Terkini

Kadang kita, saya dan anda berkelekar, tertawa dengan joke yang berhubungan dengan “status janda”. Sebenarnya kalau kita tarik lebih dalam rasanya akan menjadi kurang etis. Entah joke itu lewat media sosial, whatsupp Grup atau kelekar sederhana tipis-tipis saat rehat makan siang di kantin belakang kantor, asik.
Siang tadi saya iseng mencoba mencari data mengenai jumlah perceraian di Indonesia. Data terakhir yang saya peroleh adalah data tahun 2015. Dimana dalam data yang di reles Situs BPS itu menyebutkan, dalam 2 juta perkawinan ada 340 ribuan Talak dan cerai per tahun-nya,-wow, emaejing.
Mungkin terlalu panjang jika saya rinci jumlah dan terjadi dimana-nya, provinsi dan kota.Kesi-
mpulan besar-nya tentunya adalah ; jumlah Janda dan duda membeludak di republik ini.
Janda, kita tidak asing dengan joke mengenai, -hal ini, bahkan makin kemari rasanya sudah menjadi joke umum. kadang joke bararoma sexis tidak bisa dihindari. Kalau menyangkut duda saya agak jarang mendengarnya, bisa jadi para janda yang menjadikannya joke #ehh
Seperti biasa, pada umumnya, kita tak asing di dalam keluarga, suami dan istri sama-sama memiliki atau aktif di media sosial, setidaknya Whatsupp kawan sekolah atau teman arisan.
Saya sempat iseng bertanya pada istri, berapa jumlah kawannya yang berpredikat janda pada Whasup Grup yang ia miliki, kita tak perlu rinci, hasilnya mengejutkan, lebih dari seperempat angota grup, luar biasa bukan.
Anehnya, tetapi hingga kini, saya belum pernah mendengar ada politisi atau parpol yang berani meyuarakan hak-hak para janda ini. Ide sederhana seperti misalnya, “mensubsidi singgel perent” atau “call center bagi janda untuk sekedar curhat atau minta saran”. Lantas jika demikian, maka amat tidak adil politik, masyarakat, maupun Negara terhadap mereka.
Menjanda menjadi pilihan hidup, tak jarang kita dengar ucapan demikian, entah mereka ucapkan untuk sekedar menepis enyek-enyek an atau emang serius berprinsip bahwa status mereka adalah pilihan. Namun tak sedikit juga yang melow, order kiri kanan, titip salam via kawan untuk segera dicarikan pendamping.
Namun terlepas dari itu semua, saya merasa jika kita, saya dan anda, atau para politisi atau lembaga, “belum mampu memberikan pelayanan yang baik terhadap Janda”, rasanya, ada baiknya kita hentikan menjadikan setatus Janda sebagai bahan guyonan.
*ardi-tuan, wahai.