Berita dan Informasi Terkini
Dua hal ini sebenarnya belum terlalu menarik untuk dicermati baik oleh Netizen, apalagi orang awam. Entah karena berita soal keberhasilan pembangunan hingga ke Timur Indonesia mungkin terlalu jauh untuk dilirik, atau mungkin saja karena sisa “pertempuran” Pilkada DKI Jakarta masih menjadi magnet karena masifnya pendukung Ahok yang berusaha men-down grade pemimpin DKI Jakarta saat ini.
Keberhasilan trans Papua dan keberhasilan membuat BBM (Bahan Bakar Minyak) satu harga sebenarnya hampir dipercaya 80% rakyat. Atau taruhlah minimal 60% masyarakat yang harus diakui masih menelan mentah-mentah informasi yang disuguhkan Media massa.
Tokoh Papua Natalius Pigai yang telah lama memberikan klarifikasi tentang itupun ‘dicuekin’ hanya karena dianggap sekedar sentimen kebencian terhadap pemerintah. (Baca: Natalius Pigai: Pemerintah Jokowi Bohong Besar soal Infrastruktur Jalan di Papua). Pun begitu pula halnya ketika tokoh agama di Papua Pastor John Djonga, Pria asal Flores Nusa Tenggara Timur penerima anugerah Yap Thiam Hien Award 2009 bidang penegakan hak asasi manusia mengatakan fakta yang kurang lebih sama, bahwa “Harga BBM hanya turun saat Jokowi blusukan ke Papua“. Berita inipun tak terlalu menguncang linimasa.
Justru berkat keteledoran beberapa pendukung Jokowi, yang melakukan caci maki terhadap Pastor John Djonga itulah malah beberapa fakta terungkap dari banyak akun yang mengaku berasal dari Papua. Tak kurang dari Twitter Kota Serui Papua dan Standup Komedian Arie Kriting memprotes cuitan pendukung Jokowi tersebut.
Fakta yang terungkap itu adalah bahwa BBM (Bahan Bakar Minyak) di Papua tidak pernah berubah di Papua. Sejak era Presiden SBY pun harga di Kota memang sama dengan di Jakarta dan itupun baru 20% dari keseluruhan luas Papua.
Papua itu luas,ada daerah pantai dan pegunungan,baru 20% saja harga bbm sama dngn di pulau jawa,itu pun semenjak presiden terdahulu,80% nya harga bbm masih 15.000 sd 60.000 perliter,jangan anda membodohi kalo anda tidak tau apa apa tentang papua. @kangdede78 @hariadhi pic.twitter.com/dhp3lzyR6y
— Kota Serui (@kotaserui) 19 Desember 2017
Begitu pula protes dari akun Moh. Taufik ini terhadap twit pendukung Jokowi
Ini saya di papua manokwari daerah transmigrasi, semenjak era sby, harga bbm sama kok dengan di jawa, kecuali wilayah yg sulit di jangkau baik darat laut maupun udara. Yg koar2 bbm baru sama era jokowi kerna belum pernah hidup di sini
— moh.taufiq (@muhtauf33355893) 19 Desember 2017
Akun @ArnoldBelau malah mengungkap fakta lebih jauh
Kalo yg bilang satu harga itu daerah yg dong baru siapkan satu APMS saja. Dan BBM diangkut deng peswat2 ke pedalaman. Ex: Sugapa 1 APMS. Bukan hanya 3 jam dgn batasa stiap org yg punya motor hanya boleh beli 2 liter. Kalo mo tambah, ya harus beli di luar dgn harga 50K.
— Arnold Belau (@ArnoldBelau) 19 Desember 2017
Protes juga diungkapkan oleh Comedian Arie Kriting
Kalau masih sayang Papua, kurang2i lah manusia macam begini. Ko kalo cuma mau lihat Papua di Jayapura maka ko akan bilang di Papua itu gedung tinggi, sinyal bagus, jalanan macet karena mobil banyal, dan listrik 24 jam.
Papua bukan Jayapura saja bos. https://t.co/jUm5fRJKGl
— ORANG TIMUR (@Arie_Kriting) 19 Desember 2017
Itulah buntut panjang dari twit pendukung Jokowi yang seharusnya dipikirkan terlebih dahulu dan melakukan cross check. Kalo sudah terungkap begini siapa yang salah?
Salahkan otakku mak…