*Agar Kita Paham

1. Hanya orang bodoh yang menasihati seorang perokok agar berhenti.
Ini betul sekali. Seriusan. Hanya orang bodoh yang menasihati perokok, karena mereka ini, bahkan tulisan jelas “merokok membunuhmu” dicuekin, apalagi nasihat lain lemah lembut. Jadi, jangan nasihati mereka. Fokuslah pada generasi berikutnya, anak2, remaja kita, tanamkan pemahaman baik sedini mungkin, besok2, jangankan merokok, lihat orang merokok saja anak2 kita langsung menghindar.

2. Rokok adalah sumber pendapatan terbesar
Itu benar sekali. Tapi bukan pendapatan cukai rokok. Melainkan ‘sumber pendapatan’ medis. Itulah pendapatan terbesarnya. Karena penyakit akibat rokok ini nggak pernah main2: jantung, kanker, stroke, dll, dll. Wah, dahsyat pendapatannya. Tidak sedikit keluarga yang mendadak jadi menurun standar hidupnya (alias jatuh miskin), gara2 penyakit akibat rokok ini.

3. Industri rokok adalah penyerap tenaga kerja terbanyak
Wah, ini juga benar. Saking benarnya, mereka lupa, dari 600.000 pekerja di pabrik rokok, 10 tahun terakhir, tinggal 300.000 ribu saja. Pada kemana? Pekerja itu digantikan sama mesin. Separuh lebih di PHK. Jadi itu benar, menyerap tenaga kerja terbanyak, tapi di luar negeri sana serapannya, menyerap tenaga kerja pembuat mesin rokok. Di dalam negeri? Kagak. Juga petani tembakau. 5 tahun terakhir, impor tembakau meroket. Jadi itu sekali lagi benar, membantu petani tembakau –tapi petani di luar negeri, tempat impor tembakau tersebut.

4. Merokok mati, nggak merokok juga mati.
Ini juga akurat sekali. Karena sebenarnya, bahkan nggak ngapa-ngapain saja, semua orang pasti mati. Entahlah, kenapa orang2 suka banget pakai kalimat ini sebagai argumen dia merokok. Karena anak SD saja tahu hal demikian, semua orang pasti mati. Tapi memang begitulah, gaya bahasa, kalimat, itu memang menunjukkan level kecerdasan. Dan rokok, berpengaruh serius sekali kepada penurunan IQ seseorang.

Baca juga:  Jangan beternak kebodohan

5. Merokok itu tidak haram
Berhenti berdebat soal haram dan tidaknya rokok. Karena banyak ulama, kyai besar merokok. Masa’ mereka tidak paham aturan agama? Lagipula, ketahuilah, catat baik2: merokok itu sangat religius. Super sangat religius. karena setiap batang yang dia rokok, maka menurut penelitian medis terpercaya dia semakin dekat dengan Tuhan. Religius sekali, bukan? Merokok = mendekatkan diri kepada Tuhan.

6. Coba asap knalpot, asap pabrik juga dikritisi dong. Jangan cuma rokok.
Nah, ini juga betul. Ayo, berhenti nyinyir kepada perokok. Mereka bukan satu2nya sumber polusi di dunia ini. Knalpot mobil, motor, misalnya. Itu jutaan jumlahnya. Cerobong pabrik, juga banyak. Sesekali mbok ya protes ke sini dulu. Tapi memang, tidak ada knalpot yang dimasukkan ke dalam mulut, lantas kita hirup asapnya bulat2, masuk ke paru2. Tidak ada. Perokok saja yang bersedia melakukan itu, dia menghirup dengan gagah berani secara langsung asap yang berkali2 lebih berbahaya dibanding cerobong pabrik.

7. Kenapa sih orang2 rese banget sama perokok? Lah, yang merokok saja nggak rese?
Ini juga akurat sekali. Pahamilah, dia yang besok2 bakal kena kanker, jantung, impotensi saja santai2 saja merokok. Kenapa yg tidak merokok malah protes? Hormatilah para perokok. Dengan cara: menghindar jika bertemu dengan mereka. Karena sesungguhnya, yang waras mengalah. Kita tidak akan menang melawan orang kecanduan.

Baca juga:  Kita tidak akan pernah tau kapan *PERBUATAN BAIK* kita berbuah, tapi *PASTI AKAN BERBUAH.*

8. Merokok itu jantan, gagah dan keren.
Itu betul loh. Coba lihat akun medsos. Banyak perokok yang bergaya menjadikan fotonya sedang merokok sebagai foto profil. Juga lihat iklan2 rokok, merokok itu selalu dikaitkan dengan sukses, cowboy, gagah, keren, semuanya hebat. Tapi entahlah, kemarin saya lihat (maaf) banci, dia juga ternyata merokok. Juga lihat bapak2, kurus kering badannya, layu wajahnya–padahal usianya masih muda, dia juga ternyata merokok. Mungkin ini pengecualian, atau memang: merokok tidak ada korelasinya dengan jantan, keren, apalagi ukuran sukses. Dan di Indonesia, mayoritas perokok itu miskin. 80% perokok di negeri ini penghasilannya hanya UMP saja. Dan saya yakin, orang2 ngamuk setiap baca postingan di medsos soal merokok, penghasilannya dibawah 10 juta per bulan.

Demikian, agar kita paham sekali soal rokok ini. Sekali lagi, hanya orang bodoh yang menasihati seorang perokok agar berhenti. Lah, perokoknya saja sudah susah payah berhenti, dia tetap tidak bisa. Kita harusnya kasihan sama mereka, jangan2 itulah rokok terakhir yang dia nikmati.

Mari fokus saja kepada generasi berikutnya, anak2 kita, remaja kita. Tanamkan pemahaman agar mereka tidak merokok. Terus gelontorkan tulisan soal ini, menyelamatkan 1 anak, sama seperti menyelamatkan seluruh generasinya. Apalagi jika bisa 10 anak, 100 anak. Lindungi anak2 kita, remaja2 kita dari bahaya merokok.

*Tere Liye

**tidak perlu ijin lagi, silahkan dishare. ini catatan lama 5-6 tahun lalu, direpos lagi, mumpung lagi kekinian topiknya. tulisan ini sarkasme, dibutuhkan kemampuan literasi yg baik utk membacanya 🙂

https://www.facebook.com/tereliyewriter/posts/2617282061655679?__tn__=K-R

(Visited 93 times, 2 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account