Berita dan Informasi Terkini
Oleh : Tere Liye
Suka atau tidak suka, terima atau menolak, biaya hidup akan naik.
Biaya sekolah misalnya, untuk murid2 sekolah negeri, mungkin tidak ada lagi iuran, tapi tetap saja, seragam, sepatu, buku dan keperluan lainnya terus naik. Apalagi yang anak2nya sekolah di swasta, iuran SPP dan daftar ulang setiap tahun naik. Belum lagi jika anaknya sekolah di luar kota, biaya akomodasi, makan.
Transportasi juga naik. Per 1 September, transportasi online menaikkan harganya. Tiket pesawat, meski sudah mulai turun, tetap tinggi dibanding tahun lalu. Ongkos kapal, menyeberang, juga naik. Sementara kereta, sejauh ini stabil, tapi tidak ada yang tahu besok lusa. Tol. Harganya akan segera disesuaikan. Kok naik lagi? Tentu saja naik. Terima atau tidak, dikembalikan ke pengguna. Tidak mau, ya tidak usah naik tol. Kesal kan.
BPJS. Ini tak kalah peliknya. Pemerintah akan menaikkan iuran. Tidak ikut BPJS repot, ikut juga repot. Maka mau repot yang mana? Pun yang tidak pakai BPJS/asuransi, biaya berobat terus naik. Tahun2 lalu, bawa uang 50.000 mungkin cukup berobat di kota2 besar; sekarang sudah jarang cukupnya. Tapi jangan marah2 soal BPJS naik, mari fokus ke berita menginspirasi, masih ada dokter yang penuh kasih-sayang merawat yg sakit.
Listrik PLN. Apakah tarif listrik akan naik? Maybe. Maybe yes, maybe no. Yang pasti, pemerintah akan mencabut subsidi untuk pelanggan 900 watt (va). Subsidi hanya untuk yang 450 watt. Jangan sakit hati. Meskipun PLN untungnya 10 trilyun, mereka tentu butuh laba lebih besar lagi. Sudahlah, lupakan soal mereka BUMN. Untung besar, artinya bonus dan tunjangan bagi direksinya bisa bertambah, milyaran. Sama dengan kasus Pertamina, Bank2 milik pemerintah yang bahkan 500 milyar sendiri utk direksinya. Untung BUMN-nya gila, perkara rakyat susah dapat kreditan, itu masalah lain. Bisnis adalah bisnis.
Buat kalian perokok; ada kabar buruk, eh boleh jadi kabar baik ding. Cukai rokok naik, otomatis harga rokok akan naik. Mungkin itu kabar baik, jadi jalan berhenti merokok. Biar hidup tambah sehat. Kita butuh kesehatan prima menyongsong besok lusa. Lah, yg sehat saja masih susah hidupnya ditengah harga2 naik; apalagi yang sakit.
Premium nampaknya tidak akan naik dalam waktu dekat. Tapi susah dicari iya. Sejak kemarin2 malah, terbatas. Kalau tidak ada, kosong premium di SPBUnya, silahkan isi pertalite atau pertamax. Berat? Mau gimana lagi, kita harus bersabar dalam kondisi apapun. Itulah resikonya punya mobil. Coba kalau hanya punya sepeda, kan tidak perlu BBM. Kesal lagi kan?
Harga susu, gula, tepung, minyak goreng, sejauh ini stabil2 saja. Cabe, bawang merah, bawang putih. Daging, dkk. Maybe yes maybe no naiknya. Tapi dalam situasi apapun, Ibu-Ibu tentu tetap harus masak juga. Diakalin saja bagaimana bagusnya. Nanam cabe sendiri, nanam bawang sendiri. Telur ayam? Ini agak repot, masa’ disuruh bertelur sendiri.
Rumitnya, dalam situasi kebutuhan terus naik harganya, eh, penghasilan tetap itu2 saja. Atau kalaupun naik, tidak sebanding dengan naiknya harga kebutuhan. Maka, ibu2 sekalian, lagi2 harap bersabar dan cari solusi se-indah mungkin. Mau dikata apa, boleh jadi masalahnya di ibu2 sendiri sih. Kenapa milih suami yang gajinya segitu2 saja. Eh ups, maaf. Ini offside. Hanya bergurau.
Intinya adalah, tahun2 ke depan, tidak ada yang menjamin ekonomi rumah tangga kita akan membaik. Dunia sedang dalam gelagat resesi. Pertumbuhan ekonomi dunia melambat. Di Indonesia sendiri, lembaga pemberi rating hutang sudah memberi warning kepada perusahaan2 di Indonesia: bahwa hutang mereka berbahaya. Jika pendapatan perusahaan bermasalah, ada banyak perusahaan di negeri ini yang rontok gagal bayar. Jika perusahaan2 ini kena, maka batuknya bisa menjalar kemana2. Semoga kurs rupiah tetap stabil.
Maka jika biaya sekolah anak tercinta terus membumbung, biaya keperluan di rumah terus merayap naik, mari kita berhemat dan bersabar. Ketahuilah, masih banyak di luar sana yang kehidupan keluarganya jauuh lebih susah dibanding kita.
Apapun kesulitan keluarga kita, pastikan anak2 kita mendapatkan pendidikan, terus sekolah. Karena dengan jalan itulah besok lusa, boleh jadi situasi ekonomi keluarga kita membaik. Kalaupun kita tidak berkecukupan, semoga anak2 kita hidup berkecukupan dengan pendidikan yang mereka punya.