Berita dan Informasi Terkini
Pengertian Islam Nusantara versi Kaum Liberal
Dalam tajuk Wawancara di Majalah Aula seperti dikutip www.pesantrenpedia.com, Ahmad Baso, (aktifis NU yang menulis buku berjudul “Islam Nusantara”) mengatakan yang dimaksud Islam Nusantara adalah “Cara bermadzhab secara qauli dan manhaji dalam ber-istinbath tentang Islam dari dalil-dalilnya yang disesuaikan dengan teritorial, kondisi alam, dan cara pengamalannya”. Menurutnya, Islam Nusantara itu sejajar dengan kajian Islam India, Islam Turki, Islam Yaman dan sebagainya. Islam Nusantara bukan hanya Islam sejarah, juga bukan Islam lokal. Lalu dia mencontohkan dengan zakat fitrah, “Ayat al-Qur’an, Hadits dan teks-teks dari Arab berbunyi gandum. Tapi oleh para ulama kita kemudian diterjemahkan menjadi beras karena iklim, situasi, dan kpondisinya memang berbeda. Begitu juga dengan zakat unta dan penentuan hewan kurban. Ini baru contoh dalam zakat, belum yang lainnya,” kata Ahmad Baso.
Intelektual NU lain sekaligus eks-rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra menyatakan bahwa Islam Nusantara adalah Islam yang dibutuhkan oleh masyarakat dunia karena mengedepankan jalan tengah. “Karena bersifat tawasuth (moderat), jalan tengah, tidak ekstrim kanan dan kiri, selalu seimbang, inklusif, toleran, dan bisa hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain, serta bisa menerima demokrasi dengan baik,“ ujar penulis buku Islam Nusantara (2002) ini seperti diwartakan
www.bbc.com.
Menurutnya, Islam Nusantara itu berbeda dari Islam Arab. “Karena itu, dalam penampilan budayanya, Islam Indonesia jauh berbeda dengan Islam Arab… Telah terjadi proses akulturasi, proses adaptasi budaya-budaya lokal, sehingga kemudian terjadi Islam embedded (tertanam) di Indonesia,” jelas doktor lulusan universitas Columbia ini.
Salah satu tokoh Islam Nusantara, Said Aqil Siradj yang sukses menjadikan Islam Nusantara sebagai tema Muktamar NU ke 33 di Jombang -meski Muktamar tersebut sejatinya Muktamar PKB yang menjadi ajang bagi-bagi duit, jabatan dan kekuasaan- telah menambah bukti corak dari Islam Nusantara yang mereka usung, mulai dari adanya panggung-panggung hiburan nusantara sampai dengan hadirnya orang-orang kristen seperti Martin Van Bruinessen dari Belanda. Ada kepentingan politik yang tampak sejak awal pelaksanaan Muktamar. Mulai dari registrasi peserta hingga iming-iming uang dan pemaksaan sistem AHWA dalam pemilihan Rois Suriyah. (komentar Kiai Salahuddin Wahid tentang Mukatamar NU di Jombang, www.kompas.com/ lensaindonesia.com )
Ketua PBNU sekaligus pembela Islam Nusantara, Said Aqil Siradj juga menyatakan bahwa Islam Nusantara bukanlah suatu aliran baru. “Islam Nusantara bukan madzhab baru, firqah atau aliran baru. Islam Nusantara menjadi ciri khas Islamnya orang-orang Nusantara, yaitu melebur secara harmonis dengan budaya Nusantara, syara’, kearifan yang tak melanggar syara’, digunakan untuk dakwah Islam di Nusantara,” kata Said Aqil dalam sambutan pembuka Muktamar NU ke-33 awal Agustus kemarin.
Menariknya, dalam pembukaan Muktamar Jam’iyyah Ahlit Thariqah An-Nahdhiyah di Ponpes al-Munawwariyah Malang (Rabu, 10 Januari 2012) Said Aqil pernah mengatakan Islam Nusantara berakar dari ajaran “tauhid” Hindu-Budha. Menurutnya, dahulu orang Jawa sudah mengenal tauhid, hanya saja belum bernama Islam. Ajaran tauhid mereka saat itu bernama KAPITAYAN. Tuhan mereka yang satu ini dibantu oleh Sembilan penjaga penjuru, mirip dengan sembilan bintang yang ada di logo NU. Karena kemiripan inilah maka Mbah Hasyim Asy’ari menggunakan sembilan bintang dalam logo Nahdhatul Ulama. Ahlussunnah wa Jama’ah didefinisikan Said Aqil saat itu dengan “Pengikut Sunnah Nabi dan peduli Jama’ah (masyarakat seluruhnya).” (www.nugarislurus.com)
iqoma
ngelantur tulisannya lari kemana2 yang tidak subtansial, coba baca sejarah islam lagi yang bener mulai dari wafatnya nabi sampai rontoknya kalifah ustmaniyah….apa warisan dari sejarahh tersebut….bener kata paus islam agama pedang dan darah…lihat semua pergantian kalifah atau sultan ..hampir semuanya berdarah2