Berita dan Informasi Terkini
Dari berbagai sumber
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
mengingatkan bahwa harta akan dihisab. Tidak
hanya dihisab untuk bagaimana cara
mendapatkannya, tapi juga dihisab terkait
bagaimana cara menggunakannya.
Anda bisa menjamin harta yang anda dapatkan
halal. Tapi itu belum cukup. Ada tugas yang
kedua, yaitu bagaimana menggunakan harta itu
untuk sesuatu yang benar.
Dalam hadis dari Abu Barzah al-Aslami
radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda,
.
ﻻَ ﺗَﺰُﻭﻝُ ﻗَﺪَﻣَﺎ ﻋَﺒْﺪٍ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﺣَﺘَّﻰ ﻳُﺴْﺄَﻝَ … ﻭَﻋَﻦْ ﻣَﺎﻟِﻪِ
ﻣِﻦْ ﺃَﻳْﻦَ ﺍﻛْﺘَﺴَﺒَﻪُ ﻭَﻓِﻴﻤَﺎ ﺃَﻧْﻔَﻘَﻪُ …
.
Kaki seorang hamba di hari kiamat tidak akan
bergeser sampai dia ditanya tentang (beberapa
hal, diantaranya) tentang hartanya, dari mana dia
dapatkan dan untuk apa dia gunakan… (HR. Turmudzi 2602, ad-Darimi 546 dan statusnya hasan)
[6] Maksimalkan untuk mendukung taqwa.
Harta ketika dipegang oleh orang yang tidak
memiliki taqwa bisa berpotensi bahaya. Karena
itu, beliau menyarankan, siapa yang siap kaya,
harus siap bertaqwa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
ﻟَﺎ ﺑَﺄْﺱَ ﺑِﺎﻟْﻐِﻨَﻰ ﻟِﻤَﻦْ ﺍﺗَّﻘَﻰ ﺍﻟﻠﻪَ
.
Tidak masalah adanya kekayaan bagi orang yang
bertaqwa.
(Ahmad 23158 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
Bahkan sampaipun ketika kita hendak
memberikan harta ke orang lain, upayakan
memilih orang yang bertaqwa.
Dari Abu Said al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
.
ﻟَﺎ ﺗَﺼْﺤَﺐْ ﺇِﻟَّﺎ ﻣُﺆْﻣِﻨًﺎ، ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺄْﻛُﻞْ ﻃَﻌَﺎﻣَﻚَ ﺇِﻟَّﺎ ﺗَﻘِﻲٌّ
.
Jangan mengambil teman dekat kecuali orang mukmin, dan jangan makan makananmu kecuali orang yang bertaqwa.
(HR. Ahmad 11337 dan dihasankan Syuaib al-Arnauth)
Hadis ini tidaklah menunjukkan bahwa kita
dilarang memberi makan orang yang tidak
bertaqwa. Kita boleh memberi makan orang kafir,
sebagaimana Allah memuji muslim yang memberi
makan tawanan. Dan tawanan bagi para sahabat
adalah orang kafir.
Allah berfirman,
.
ﻭَﻳُﻄْﻌِﻤُﻮﻥَ ﺍﻟﻄَّﻌَﺎﻡَ ﻋَﻠَﻰ ﺣُﺒِّﻪِ ﻣِﺴْﻜِﻴﻨًﺎ ﻭَﻳَﺘِﻴﻤًﺎ ﻭَﺃَﺳِﻴﺮًﺍ
.
Mereka memberi makanan yang paling dia sukai
kepada orang miskin, anak yatim, dan tawanan.
(QS. al-Insan: 8)
Lalu apa makna hadis ini?
Sebagian ulama – seperti Imam Ibnu Baz, Syaikh
Abdul Muhsin al-Abbad dan yan lainnya –
memahami, maksud dari hadis ini adalah
perbanyaklah berteman dekat dengan orang yang
bertaqwa.
Karena ketika hartamu lari keluar,
penerimanya adalah kawan dekatmu.
Ketika menerima harta kita adalah orang yang
rajin menghafal al-Quran, maka harta yang kita
berikan kepada mereka akan berubah menjadi
amalan hafalan al-Quran. Demikian pula ketika
harta itu kita berikan kepada orang soleh lainnya.
Demikian, Allahu a’lam.