Berita dan Informasi Terkini
MANUTUP AIB KINI HANYA DIKSI BASI
By : IP-Center.
Menutup aib setiap orang. Selagi namanya manusia, bukan malaikat, dipastikan sekecil apapun punya aib. Dalam Islam dilarang mengungkap aib seseorang, tentunya “temannya”, dominan ranah personal yang tak pantas, cacat moral.
Jelang akhir pekan ini kita membaca desas desus bupati Banyuwangi mundur sebagai Cawagub Gus Ipul, pilgub Jawa Timur. Konon karena foto aibnya beredar. Anas, begitu Bupati itu akrab disapa, Anas sudah mengatakan kepada media bahwa hal itu sebagai “black campaign”,mendown gred dirinya.
Hingga peradaban dunia hari ini, menyimak juga sistem politik di banyak Negara, maka Negara kita Indonesia ini juaranya ber-PEMILU. Pilkada hari-hari seakan tiada henti.
Sistem one man one vote totalfootbal menggelincirkan ranah kemuliaan peradaban ke juranng turbulensi oligarki fulus mulus sehingga diksi sebagai laku bijak bukan lagi perbuatan mulia. Produsen penyebar aib bisa menjadi, jasa, tersendiri, termasuk mengadakan aib. Maka dalam berpemilu, berpilkada ,segala cara bisa dilakukan, hoax, fitnah, aib berhamburan, semua itu kartu truf untuk menjatuhkan lawan.
Belajar ke sejarah anda semua dapat belajar dari laku tauladan Bung Hatta secara personal, pernah dalam berpolitik ia membongkar aib kawan maupun lawan politiknya?
Bung hatta memang hidup zaman old saat ini emang zaman Now, membuka aib bisa jadi mata pencaharian, karena demokrasi pancasila tinngal judulnya doank, maka aib-aib bertebaran, halal. Landasan iman dan ketuhanan dalam politik seakan nihil, maka menutub aib kini hanyalah diksi basi. Apalagi zaman now ada Hoax membangun.
Kultweet IP-center. 5 1 2018