TAHU dan MENTRI MANTUK MANTUK DAN SUBSIDI KERETA DI BANDARA

Untuk kelas penumpang kereta bandara dengan harga tiket 70 ribu, walaupun berkaos oblong dan bersandal jepit, jelas ia akan mampu membayar ongkos kereta. Karena kaos oblong dan sandal jepit bukanlah indikator kemiskinan.

Kemudian. Jelas bagi penumpang kereta bandara, pada hand-phon atau sakunya telah tertera code bording pesawat, tentunya bagi orang yang mampu melakukan perjalanan mengunakan pesawat, mereka bukan tergolong miskin, logika sederhana.

Kereta bandara hanya sampai bandara 3, Garuda. Pasti Tau khn harga tiket Garuda berapa, muahal. kalau yang nanggung-nanggung duit-nya sey pasti pilih-nya Lion dan kawan-kawannya, lebih berkelas, berkelas ekonomi maksud saya — hehehe. Saya masuk pada golongan kelas ini — uhuuuiy.

Penumpang pesawat selain Garuda akan oper menuju C1 dan sebagainya, tentu akan sangat ribet, naik turunin koper. Saya mah ogah, mending taxi langsung turun depan terminal- C1, nga ribet.

Jadi secara pribadi saya menganggap, dengan keribetan juga ongkos semahal itu maka akan sulit mengarahkan calon penumpang untuk mengunakan transportasi kereta bandara,
wala-upun pemerintah men-subsidi untuk me-nekan harga tiket. Kemudahan yang belum tersaji masih akan menjadi kendala.

Baca juga:  Jokowi versus Emak-emak

Saya menyimak kuliah rocky gerung di youtube, berbicara mengenai konsep keadilan dalam menentukan kebijakan publik.

“Sistem kebijakan itu haruslah mengacu kepada kepentingan masyarakat secara meluas, jadi penentu kebijakan tidak bisa ngasal”. Bagaim-ana mungkin tercipta tatanan keadilan jika penentu kebijakan dalam menentukan kebijakan tidak mengacu pada ke-adilan mendasar, kira-kira demikian poin-nya.

Benar saja, maka kedangkalan itu terwujud dalam satu langkah pengambilan kebijakan yang salah fatal. Pencitraan dijadikan bangunan pokok dasar pengambilan kebijakan.

Tak heran jika sandal jepit dan kaos oblong yang sejatinya bukan merupakan indikator kemiskinan di-blow up untuk menentukan kebijakan men-subsidi proyek kereta bandara,- dan banyak lain-nya lah. Lalu staf ahli hanya mantuk-mantuk saja.

Tahu nasi dan cabai. Driver taxi pangkalan pagi ini, tempat saya biasa nongkrong kopi pagi.

Baca juga:  Jebakan IMF untuk masa depan Indonesia

Saya tanya, kok cuma pake tahu pak. “Wong setoran nyisa 70ribu mas, kue bae (itu saja) 24 jam dijalan.

Kalimat Pengantar twet sorang kawan yang menyertakan foto seorang driver Taxi yang nampak sedang lahap menyantap nasi putih dan dua iris Tahu beserta sepotong cabai, saya menyimak-nya pagi ini. Begitu nyata cara masyarakat lapis bawah bertahan untuk melewati situasi ekonomi yang berat.

Riil demikian terjadi, situasi yang dirasakan masyarakat lapis bawah. Situasi ekonomi makin berat. Listrik mahal, ibu rumah tangga juga kerap mengeluhkan demikian.

Lalu bijak-kah langkah untuk mensubsidi kereta bandara. Apa-kah sudah memenuhi kriteria keadilan dalam menentukan kebijakan, opa ora kewalik. Subsidi Listrik dicabut, kereta bandara yang belum jelas mafaatnya malah akan di-subsidi.

*ardi-tuan, wahai.
dodo-tuan , amboooy

(Visited 252 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account