Sakaratul Maut

Tulisan : Diah Rima

Selama 15 tahun dalam pekerjaan saya di salah satu rumah sakit banyak sekali melihat langsung bagaimana akhir hidup seseorang.

Berbagai macam “gaya” dan tingkah ketika kematian itu datang.

Gaya dan tingkah laku kematian mu adalah apa yang biasa kamu lakukan di waktu terdekat kematian mu. Sungguh itu benar adanya.

Pernah suatu saat mengantarkan kepergian salah seorang pasien bergidik dan sedih hati ini. Karena kata terakhir yang diucapkannya adalah uang saya ..uang saya …!

Beliau dengan paniknya melihat ke bawah tempat tidurnya _ mata nya panik ketakutan dan terus mengatakan selamatkan uang saya. Menangis keluarga mendengarnya, dibisikkan kalimat tauhid. Tetap bilang uang saya selamatkan !! Tak lama meninggal.

(Mungkin ada teman yg ingat kejadian ini, ingat sampai beberapa waktu kita tdk nafsu makan. Krn perasaan takut dan ngeri melihatnya)

Atau pernah mengantarkan kepergian seorang wanita. Beberapa hari sebelum kematiannya. Dia hanya ingin mendengar kidung Sunda, dia selalu bernyanyi, disetel ayat Alquran, berontak marah suruh ganti lagu kidung Sunda, sambil bernyanyi. Terkadang tangan nya melambai lambai, ikut menari.

Bergidik, karena kami tahu keadaannya sudah endstate dan seharusnya bukan lagu atau musik tapi beliau hanya mau bernyanyi dan menari. Tak lama meninggal.

(Mungkin ada yang ingat ? memori kita ke masa itu sebagai pelajaran).

Pernah juga seorang mantan PSK yang mempunyai susuk di beberapa titik dirinya. Tersiksa tidak bisa pergi,lama sekali. Jika malam datang terkadang kami pun takut dengan dirinya. Karena ada pantulan cahaya di beberapa titik wajahnya dan aroma mistik kental sekali. Sampai-sampai kami tidak berani jika menanganinya sendirian.

Baca juga:  Jadilah penyeru kebaikan, bukan hanya jadi orang baik

Walau akhirnya meninggal tapi kasihan tersiksa. Semua lubang didalam dirinya keluar kotorannya. Semoga dengan Allah timpakan itu di dunia sebelum kematiannya Allah mengampuni sebagian dosa nya.

Maka pesan saya lepas semua kemusyikan sekarang juga, yang punya jimat atau yang sedang berkompromi dengan dukun orang pintar atau orang bodoh. Cabut lepas semua mohon ampun.

Ajal tidak tahu kapan datangnya. Jika masih ada kemusyrikan. Dosanya besar tidak akan diampuni sebelum taubatan nasuha.

Yang paling mudah, pernah saya melihat pasien dengan down sindrom, sudah usia. Sudah direncanakan pulang kerumah. Subhanallah karena memang tidak punya dosa, secepat itu wafatnya. Ketika itu ada bel, saya datang. Tanya ke pasien ada apa? Dia agak gelisah,tapi ditanya keluhan tidak ada. Saya katakan nanti ya saya ambil tensi dulu. Baru beranjak ke pintu, keluarganya teriak..

Suster adik saya, dilihat sudah tidak respon. Nadi sudah tidak ada, langsung dilakukan RJP oleh tim walau sia-sia karena semudah itu beliau pergi.

Keluarga terlihat sedih tapi bahagia, bahagia bukan karena senang tidak mengurusnya lagi tapi bahagia karenanya yang mudah. Mereka bilang adik saya tidak pernah merepotkan dalam hidupnya. Kematiannya pun betapa dia tidak merepotkan.

Baca juga:  Janganlah sorga kita ini kita hancurkan hanya karena syahwat berkuasa dan keserakahan ketamakan tiada batas.

Ada juga yang ketika ajalnya sudah dekat. Ada pasien yang minta dipakaikan jilbab dan pakaian menutup aurat lengkap. Dia melihat ada yang datang, dia bilang ada yang datang saya mau aurat saya tertutup. Beberapa jam kemudian wafat.

Dan banyak cerita akhir hidup lain nya. Saya jadi berfikir mau seperti apa akhir hidup saya. Semua pilihan ada pada diri saya. Mau selalu berdzikir atau melantunkan ayat Alquran atau ingin naudzubillah scroling hp ? Atau nonton Drakor atau bernyanyi ? Atau menghitung untung rugi?

Semua pilihan akhir hidup saya adalah keputusan saya sendiri utk menjadi baik atau buruks ingin akhir yang baik .. semua ingin juga kan ya? Tapi usaha kita apa.

Masya Allah. Sebuah nasehat indah sekali buat kita ya sahabat muslim.

Nabi shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يُبْعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ

“Setiap hamba akan dibangkitkan berdasarkan keadaannya ketika meninggalnya” (HR Muslim no 2878)

Berkata Al-Munaawi, أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ

“Yaitu ia meninggal di atas kehidupan yang biasa ia jalani dan ia dibangkitkan di atas hal itu” (At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ As-Shogiir 2/859)

(Visited 43 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account