Agar tidak ada Reynhard Sinaga berikutnya

Uncategorized

Oleh : Dr. Intan Savitri, Psi (Psikolog Sosial)

Sebenarnya saya tidak terlalu bersemangat menulis tentang Reynhard Sinaga, laki-laki yang memperkosa 190 laki-laki dan kemudian mendapat vonis seumur hidup di UK. Tetapi karena ada seorang teman yang meminta saya untuk menulisnya untuk pembaca FB, baiklah.
Sebelum menulis tentang RS, laki-laki yang memperkosa 190 laki-laki di UK, izinkan saya menyampaikan beberapa peringatan (disclaimer)

Saya adalah psikolog sosial, itu berarti saya akan lebih banyak membahas tentang aspek-aspek sosial dan kognitifnyanya dibandingkan klinisnya

Saya bukan aktivis anti atau pendukung homoseksualitas, saya melihat segala sesuatu lebih pada aspek sainsnya karena saya peneliti. Bagi saya preferensi apapun adalah at your own risk

Preferensi seks saya hetero dan saya percaya bahwa homoseksualitas disebabkan karena aspek belajar sosial (pergaulan, cara parenting yang salah) dan bukan genetik.

Begini pendapat saya,
Kasus, Sinaga memang mengejutkan. Beberapa pihak kemudian bersemangat membungkusnya dengan isu dengan kepentingannya masing-masing (anti homoseksual akan berteriak keras tentang betapa menyeramkannya homoseksual itu, tetapi ingat, bukannya hetero yang pemerkosa juga banyak).

Alih-alih membahas tentang preferensi seksnya, saya lebih berkepentingan melihat kasus ini dari sisi bagaimana situasi kehidupan sosial Rey di UK sebagai seorang pelajar yang dibiayai kuliah dan hidupnya oleh orang-tuanya hingga ia usia dewasa madya dan beberapa spekulasi tentang bagaimana ia kemudian tumbuh menjadi homoseksual (karena belum ada media yang menyediakan referensi yang cukup tentang kehidupan Sinaga sebelum menjadi homoseks).

Pertama, bahwa fakta Sinaga kuliah hingga mendapat 2 master dan sekolah Ph.D atas biaya orang-tuanya, yang kaya raya yang tidak mengetahui preferensi seks anaknya hingga kasus ini terjadi (Daily Mail UK, 2020). Hidup Sinaga di UK sangat nyaman dengan pembiayaan penuh dari orang-tuanya, tinggal sendiri di sebuah flat di Manchester. Perlu ditekankan bahwa flat Sinaga dengan dengan pemukiman Gay di Manchester.

Baca juga:  Corona Virus Mah Apa Atuh

Apa yang bisa dipelajar dari fakta ini? Usia 36 tahun, sekolah Ph.D masih dibiayai orang-tua? Kenyamanan hidup yang dibarengi dengan ketidakmandirian . Menurut situs Numbeo.com sebuah situs yang menghitung biaya hidup, prosentase perbandingan hidup di Manchester dengan Jakarta adalah lebih tinggi 56,75%. Seorang laki-laki usia 36 tahun, secara sosial jika ia hidup di Indonesia mestinya ia sudah bisa membiayai orang lain, alih-alih mendapat support finansial dari orang-tuanya. Bahkan standar ini pun jauh dari standar kehidupan di Barat, yang menekankan kemandirian sejak usia 18 tahun. Sinaga biasa hidup enak, tanpa usaha keras!

Fakta lain adalah, ia tinggal di flat yang berdekatan dengan pemukiman Gay! Mengapa ia masih memperkosa? Menyerang orang lain yang sebagian besar pria hetero? Apakah ia sulit untuk mendapatkan pasangan? Mengingat penampilannya yang tidak buruk, seharusnya ia masih bisa menjalin hubungan ‘normal’ dengan sesama gay. Mengapa? Itu sebabnya saya berspekulasi bahwa Ia memperkosa karena inferiority yang dideritanya.

Mungkin saja Ia tidak mampu mendapatkan pasangan, atau ia tidak bisa berelasi dengan pasangan dengan baik, yang keduanya membutuhkan USAHA. Bagaimana seseorang dapat berusaha, jika ia tidak trampil dan dididik berusaha? (ingat usia 36 tahun masih dibiayai finansial oleh orang-tua).

Menurut saya, caranya memperkosa pun menunjukkan “ketidak-berdayaannya” ia lebih dulu membius korbannya dengan GHB (Gamma hidroksi butirat), obat illegal (daftar G) yang sering disebut “date rape drug”) yang akan membius calon korban untuk diperkosa atau dilecehkan. Efek obat yang bisa meningkatkan gairah dan pengalaman seksual ini, jika digunakan dalam dosis tertentu orang akan tidak akan menyadari apapun yang terjadi dengannya.

Perilaku tidak mau berusaha ini, menurut saya adalah efek fatal dari maladaptif parenting. Pola asuh yang salah dari orang-tua. Bagaimana tidak salah? Usia 36 tahun masih disupport finansial?

Baca juga:  Penyelesaian kasus Jiwasraya akan selamatkan Negara dari krisis yang lebih besar


Fakta lain dari Sinaga ia adalah seorang yang kerap datang ke gereja (saya tidak menyebutnya sebagai beribadah, karena orang pergi ke tempat ibadah intensinya bisa bermacam-macam, ada yang hanya ke tempat ibadah untuk kepentingan citra diri).

Fakta ini menunjukkan bahwa Sinaga pintar memanipulasi citra sosialnya. Ia menampilkan dirinya seolah-olah orang yang religius. Bahkan berdasarkan wawancara pada korbannya, ada diantara mereka yang menyambut pertemanan di media sosial setelah diperkosa (karena ia tidak menyadari bahwa ia diperkosa, dan Sinaga mengesankan sebagai orang baik).


Apakah Sinaga kelainan mental? Menurut saya Ya! Dia boleh jadi mengidap dark triad personality : Machiaveli, Narsistik dan Psikopati. Tiga ciri tersebut adalah machiavellianism (sikap manipulatif), narsisme (cinta diri yang berlebihan), dan psikopati (kurangnya empati).

Triad gelap secara tradisional dinilai dengan tiga tes tes yang berbeda, masing-masing telah dikembangkan secara individual. Paling umum, Narcissistic Personality Inventory (NPI) digunakan sebagai ukuran narsisisme, MACH-IV untuk machiavellianism dan Self-Report Psychopathy Scale (SRP) untuk psikopati. Memformat perbedaan antara administrasi dan analisis yang rumit (pilihan ganda versus peringkat). The Short Dark Triad dikembangkan pada tahun 2011 oleh Delroy Paulhus dan Daniel Jones.

Mau mendidik anak Anda dengan baik? Jadilah dulu orang-tua, pemimpin yang baik! Yang Mandiri, Empati, Berpengetahuan, Takut pada Azab Tuhan (berupa bencana masa depan itulah) dan Teguh pada nilai-nilai kebaikan dengan cara-cara yang Adil.
Yah, begitulah.

Darimana analisis ini? Manipulatif adalah ciri-ciri dark triad dimiliki Sinaga dari sisi kemampuannya untuk membujuk dan mempengaruhi korbannya, ia menggunakan ketrampilan berbahasa dan penampilannya yang seolah tak berdosa untuk membujuk korban masuk ke apartemennya, bahkan menggunakan aksi prososial (menolong, menawarkan bantuan) agar korbannya percaya.

Narsistik, nampak dari perilakunya memfilmkan aksinya dan menyimpannya dalam ponselnya (yang ternyata kemudian membuatnya ketahuan telah memperkosa hampir dua ratus pria)! Psikopati, karena ia tidak merasa bersalah atas kejahatannya dan bahkan cenderung bangga atas ‘prestasinya

Demikian dulu-ah, analisis sosial-kognitif saya tentang Sinaga. Sekali lagi bukan soal homoseksualitasnya. Pria atau wanita hetero juga memungkinkan melakukan kejahatan yang sama, jika memiliki prediktor yang sama. Bahkan ada yang lebih keji karena sifat kerugiannya yang massif seperti korupsi atau kejahatan manipulatif jangka panjang yang lain. Kita saja yang lagi-lagi tidak percaya bahwa pendidikan karakter yang baik, merupakan pencegahan untuk tidak terjadinya bencana masa depan.

(Visited 49 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *