Prabowo Tanam Singkong

Malesin! Capek-capek di Dukung, Ternyata Keinginannya Cuma Nanem Singkong

Opini Politik Top News
Spread the love

Punya Presiden yang tegas, gak plin-plan, gak planga-plongo sepertinya mimpi lama yang gak pernah kebeli. Tegas dan dihargai oleh mata dunia sehingga setiap dia berbicara “Aura” kharismatiknya keluar. Tegas dan ditakuti pengusaha, bohir dan para mafia sehingga membuat mereka terlalu takut untuk bermain mata. Tegas pula dalam sikap dan pengambilan keputusan sehingga tidak bermain-main dengan kata, “selesai dalam 2 minggu” setelah itu menghilang tanpa bekas dan tanpa merasa berdosa.

Udah beberapa tahun kita cuma disuguhi lawakan-lawakan basi yang bukan kelas “62”. Kelas sebuah negara besar dengan pemimpin besar, visi-visi besar. Keputusan berani dan bertanggung jawab. Kita dinina bobokan dengan suguhan angka-angka dan fakta-fakta “khas” KPU yang bisa berubah kapan saja, dimana saja dan oleh siapa-saja.

Negara ini “meroket” menuju krisis, menuju perpecahan, menuju keberhasilan semu yang digoreng setiap hari dan berulang-ulang sehingga alam bawah sadar masyarakat kita tidak pernah tersadarkan bahwa ada peran besar Pemimpin yang hanya mampu segitu “doang”, bahkan disaat masyarakat sedang mengganjal perut dengan ikat pinggang.

Baca juga:  HIHIHI, DEMOKRAT Ngambek Ngajak Bubar? Bubar Aja Sendiri!

Menutupi kegagalan dengan suguhan akrobatik, harus diakui, itulah satu-satunya keberhasilan…

Lalu kita coba membeli mimpi itu. Seberapapun besar harga yang harus kita bayar. Seberapa beratpun tantangan yang harus kita terjang. Sebanyak pengorbanan yang kita bisa berikan.

Euforia akan hadirnya seorang Satrya Piningit kita percayai dalam sosok yang menjadi lawan petahana. Kita “paksa” logika kita bermain pada kelebihan sang calon, sambil mengabaikan beberapa fakta kekurangannya.

Kita memang tidak punya harap saat itu. Selain mengganti harapan yang telah lama hilang. Kita terpaksa melakukan “ijab kabul”, hanya karena calonnya ya cuma 2 orang itu. Buah simalakama…

Meski akhirnya kita pasrah karena tidak bisa mewujudkan keinginan. Sebenarnya semua selesai sampai disana. Tapi ternyata kita masih perlu “disiksa” dengan kenyataan bahwa sang “Satrya Piningit” itu cuma punya keinginan sederhana. Tidak segarang penampilannya menggebrak keras podium.

Baca juga:  Jakarta [Seharusnya] Sudah Bebas Banjir!

Ia hanya ingin menanam Singkong, tidak lebih! Dan “Surat Wasiat” yang kita tunggu-tunggu terbenam bersama bibit-bibit singkong dilahan ribuan hektar.

Sungguh tragis!

David Usman

(Visited 176 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Specify Facebook App ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Facebook Login to work

Specify Google Client ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Google Login to work

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *