ADA APA DENGAN SANDIAGA UNO DAN FAHRI HAMZAH?

Opini Politik
Spread the love

OPINI – Sebagai seorang pendukung Sandiaga Uno dan Fahri Hamzah, saya menyayangkan sekaligus memahami langkah mereka yang tiba-tiba saja mendukung Gibran jadi Walikota Solo dan Bobby jadi Walikota Medan.

Pertama saya menyayangkan, karena setahu saya, sejak dulu, baik pemilih, pendukung maupun yang mengidolakan Sandiaga Uno (SU) dan Fahri Hamzah (FH) itu dari barisan oposisi.

Benar, secara Konstitusi, majunya Gibran dan Bobby tidak ada masalah. Justru masalahnya, masyarakat menilai, Pilkada bahkan sekelas Pilpres rentan dengan intervensi Kekuasaan. Khususnya di masa rezim sekarang.

Belum lagi, secara kemampuan, anak dan mantu Jokowi sama-sama tidak berkualitas. Tidak berpengalaman. Dan (sebenarnya) tidak diinginkan. Tapi justru di atas kertas, mereka sudah pasti jadi Pemenang (baca: Dimenangkan).

Jadi kalau SU dan FH berusaha membela diri dengan alasan, secara Konstitusi tidak ada masalah, memang tidak ada masalah.
Cuma pembelaan beliau jadi bahan tertawaan, karena mau tidak mau mereka harus melawan pemikiran dan menjilat ludahnya sendiri.

Sekarang saya masuk ke poin “Memahami”. Sebagai seorang Politikus, sikap SU dan FH bisa saya pahami.
Partai GERINDRA dan GELORA tempat mereka bernaung sudah memberikan dukungan, maka mau tidak mau sebagai Wakil Ketua Umum, beliau wajib dukung. Tidak mendukung, bisa-bisa jadi bumerang.

Baca juga:  Wartawan Senior Sebut Ada Media, Konglomerat Serta Parpol, Berperilaku Keparat, Bangsat Dan Laknat

Jadi sebenarnya, justru yang paling menarik adalah, ada apa dibalik dukungan Partai GERINDRA dan GELORA kepada Gibran dan Bobby?

Secara konstituen, saya yakin, Partai GERINDRA dan GELORA paham bahwa para pemilihnya mayoritas adalah masyarakat Oposisi. Bukan pendukung Pemerintah. Jadi kalau tiba-tiba mereka siap dengan resiko berlawanan dengan pemilihnya. Untuk partai Gelora ada dua alasan.

Pertama, karena balas jasa. Karena Partai Gelora sudah di loloskan oleh Kemenkumham menjadi Partai baru. Bukan hal yang mudah, karena Kemenkumham sebagai perpanjangan tangan rezim Penguasa bisa dengan mudah mematikan arus Gelora yang baru mengalir. Bahkan Partai-partai yang sudah eksis seperti PPP dan Golkar dengan mudah di intervensi Rezim berkuasa. Mengesahkan barisan yang Pro ke Penguasa ( Ingat kisah Abu Rizal Bakri dan Surya Darma Ali yang didongkel dari jabatan Ketua Umum).

Kedua, bisa saja, tapi ini cuma kemungkinan, diantara Petinggi Partai Gelora ada yang “Kartu As-nya” di pegang Penguasa.
Jangan lupa, ada Menkosaurus sekaligus Pencatat Dosa di Rezim Penguasa sekarang. Makanya semua yang memiliki “dosa” tiba-tiba bisa tunduk dan ikut kemauan rezim Jokowi..

Baca juga:  Keong Sawah jadi Trending Topic, Ternyata Netizen Bisa Lebih Lucu dari Pak Menteri

Konsep Rangkul atau Dipukul, Peluk atau Gebuk, ternyata sukses membuat Politik dan Sistem Demokrasi kita tidak ubahnya mirip-mirip Kerajaan.
Semua ikut maunya Pemerintah. Naikkan BPJS biarpun udah dibatalkan MA, tinggal bikin baru lagi.
Selesai.
Rezim salah kelola ekonomi sampai APBN defisit gila-gilaan, ya sudah tinggal rubah aturannya. Ngga ada yang berani teriak, karena berani teriak, “Kami akan cari dosamu !!!”, kata Oppung.

So.. Goodbye SU
Goodbye FH

Penulis : *Joked Abdur Rahman* :

(Visited 950 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Specify Facebook App ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Facebook Login to work

Specify Google Client ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Google Login to work

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *