Pekerjaan berat

Top News

Oleh : Tere Liye

Di sebuah kafe, ada pelanggan yang baru saja makan. Terus dia bayar, pergi. Persis di parkiran, dia baru ingat, HP-nya tertinggal di atas meja. Bergegas balik. Lapor ke manajer kafe.

Karena manajer kafe ini bertanggung-jawab, maka dia sigap membantu. Semua karyawan ditanya, pengunjung ditanya. Tidak ada yang ngaku lihat HP tsb. Manajer kafe tidak habis akal, dia lihat CCTV dan memutuskan memeriksa tas pengunjung yg dicurigai. Mulailah keributan terjadi. ‘Enak saja, tas sy diperiksa, apa hak Anda?’, rusuh. Tapi tetap dipaksa. Akhirnya ketemu di tas pengunjung kafe yang tadi habis2an menolak diperiksa. Tapi masalah belum selesai, yang ngambil HP tsb tetap ngotot tidak mau balikin, ‘Saya nemu kok HP ini, barang bebas. Ini barang temuan, hak saya.’

Bersilat lidah, memutar-balik fakta. Dan jika orang ini jago sekali, dalam skala tertentu, semua argumennya masuk akal. HP tsb jadi milik dia. Demi ‘hukum’ dan ‘segala logika’ berpikir versi dia.

Bayangkan, dalam kasus sederhana ini saja, belasan celah ngeles, argumen bisa dilakukan. Apalagi saat kasus korupsi yang melibatkan uang milyaran, trilyunan. Sewa 10 pengacara, maka 10 pengacara ini bisa bersilat lidah, memutar balik fakta, mencari 1000 alasan ngelesnya.

Kalah di pengadilan tingkat pertama, banding, kalah lagi, banding, kalah lagi. Minta Peninjauan Kembali, dsbgnya, dsbgnya. Dan dalam level tertentu yang sangat mematikan, ‘argumen’ ini bisa masuk akal sekali. Terutama saat melibatkan uang, kepentingan, suap, sogokan, tambah kacau balau.

Baca juga:  Tips Desain Rumah, "Mungil itu Cantik"

Itulah kenapa, pekerjaan menegakkan hukum, menghabisi koruptor itu adalah pekerjaan berat. Beraaat sekali. Kita butuh penyidik2 yang visioner, progressif, dan tidak kalah pintar. Kita butuh jaksa2 yang gagah berani, jenius, dan selalu punya akal melawan kelompok pengacara2 yg bersedia melakukan apapun demi kliennya bebas. Dan kita butuh HAKIM, yang saat koruptor banding, HAKIM ini sebaliknya, dia ngamuk, memperberat 10x hukuman. Dijamin kalau sudah begini, itu koruptor dan pengacara akan ngeri mau banding.

Kita benar2 butuh generasi berikutnya yang bersedia mati demi menegakkan keadilan dan kebenaran.

Bukan bintang satu polisi, Brigjen loh, yang bersedia memberikan surat keterangan jalan kepada buronan negara hanya dengan alasan: menolong sesama manusia. Bukan jaksa yang bersedia pergi ke LN atas biaya sendiri, ehem, entah apa alasannya, foto2, wefie2, dsbgnya.

Ketahuilah, pekerjaan ini beraat sekali. Karena ada banyak yg bersedia membantu koruptor, termasuk pengacara kotor yang sibuk sekali membantu. Dia sih akan berlindung dibalik argumen: sepanjang masih ada cara banding, PK, masih boleh dong. Saya ini menolong orang lain.

Maka, adik2 sekalian, jika hari ini kalian masih SD, SMP, SMA kalian besok lusa tertarik jadi polisi, jaksa, hakim, jadilah penegak hukum yang berani, jujur dan amanah. Ayo! Jangan ragu2, kejar cita2 kalian, berdiri gagah memastikan hukum dan kebenaran tegak. Kalianlah yang bisa mengubah semua nestapa negeri ini. Kalian masih muda, mulai latih integritas dan kejujuran kalian.

Baca juga:  Sok Iye Pengen Majukan Pertamina, Kenyataan Ada Ahok Pertamina Rugi 11 Trilyun

Itulah kenapa saya menuliskan novel2 itu. Serial Ali, Seli dan Raib, itu ditulis agar kalian paham: kekuatan paling hebat di dunia paralel adalah berbuat baik. Selalu jujur, selalu peduli. Bukan pukulan berdentum, sambaran petir, dll.

Kenapa page ini tidak habis2nya merilis tulisan ttg ini, juga utk kalian, pembaca yang masih remaja. Sy sih tidak peduli lagi dgn orang2 dewasa hari ini. orang2 tua hari ini. Mereka sudah kadung begitu. Bahkan saat bicara korupsi waktu, banyak diantara mereka mengotot membela diri minta ampun. Bahkan saat diingatkan tentang amanah sebagai aparat, banyak diantara mereka yang tersinggung tidak terima. Cuma diingatkan loh, bahwa gaji mereka dari pajak rakyat, dada mereka langsung laksana terbakar. Benci sekali dengan Tere Liye.

Tapi kalian masih muda. Sangat menjanjikan. Semoga kalian tumbuh jadi anak muda yang tidak mau nyontek, selalu jujur, dan peduli. Besok2, saat kalian jadi polisi, jaksa, hakim, kita akan punya penegak hukum yang berbeda. Yang bahkan saat dijamu makan siang saja dia bisa tegas bilang; “Big No! Saya bawa rantang makan sendiri.”

Saya sih selalu percaya, masa2 itu akan tiba.

(Visited 28 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *