Mengenal media tanam hidroponik

Top News

Oleh : Bob – Dari berbagai sumber.

Hidroponik adalah suatu cara bercocok tanam tanpa menggunakan tanah (soilless culture), melainkan memakai air yang mengandung nutrisi. Pada tanah, akan lebih sulit mengatur kondisi yang sesuai untuk tumbuhnya tanaman. Sedang pada hidroponik, kondisi makanan tumbuhan bisa dilakukan secara lebih terukur. Tanah berfungsi sebagai pegangan atau tempat tegak dan tumbuhnya tanaman disamping menyediakan zat-zat hara yang diperlukan. Pada hidroponik, fungsi pegangan itu dilakukan okeh media tanam. Untuk keperluan zat hara, fungsi itu dijalankan oleh air sebagai pembawanya dan kadang media tanam juga menyimpankan zat nutrisi itu terutama pada fase awal tumbuh dimana akar masih berada di sekitar media tanam dan belum mencapai permukaan nutrisi.
Pengetahuan tentang media tanam sangat diperlukan dalam budi daya hidroponik.

Media tanam bisa dibagai atas halus kasar ukurannya, berserat atau tidak dan organik atau sintetis.

Berikut adalah media tanam yang umum digunakan.

(H = halus, K = kasar, S = serabut, Ns = non serabut, O = organik, No = non organik, S = sintetis)

A. Rockwool (H, S, No)

Merupakan media tanam paling populer di kalangan petanam hidroponik. Media tanam ini mempunyai banyak kelebihan antara lain dalam urusan perbandingan komposisi air dan udara yang mampu disimpannya. Rockwool merupakan media tanam bersifat ramah lingkungan yang terbuat dari kombinasi batuan basalt, batu bara, dan batu kapur yang dipanaskan pada suhu 1.600 – 3000 derajat Celcius hingga meleleh menyerupai lava yang kemudian dipusing sehingga berubah menjadi serat-serat. Setelah dingin, kumpulan serat tersebut akan dipotong dan dicetak sesuai kebutuhan. Rockwool mudah dalam perlakuan, bebas mineral tetapi punya kecenderungan pH di atas netral (>7).

B. Hidroton (Expanded Clay) (K, Ns, No)

Merupakan produk dari tanah liat dan termasuk ke dalam media tanam hidroponik terbaik. Hidroton diperoleh melalui proses pemanasan lempung atau tanah liat dengan suhu mencapai lebih dari 1000 derajat C. Media tanam ini sangat populer di kalangan petani hidroponik di Jerman. Hidroton merupakan media tanam yang praktis dan mudah digunakan karena mempunyai bentuk berupa bulatan-bulatan lempung berukuran kecil seperti kelereng. Kelebihannya antara lain adalah kemampuannya menyimpan air yang baik, pH netral, stabil, serta memiliki aerasi dan drainase yang terbilang sempurna. Bentuknya yang bulat membuatnya aman dari kemungkinan melukai bagian-bagian tanaman seperti akar dan batang seperti bila kita memakai penggantinya yaitu pecahan genteng dan bata, meski secara ekonomis yang terakhir ini lebih murah.

C. Pecahan Genteng atau Batu Bata (K, Ns, No)

Media tanam ini setara dengan hidroton karena sama-sama terbuat dari lempung atau tanah liat. Kemampuan aerasi dan drainasenya juga baik. Kelemahannya adalah karena bentuknya yang tak teratur dan bisa runcing atau tajam, ia bisa melukai tanaman. Penggunaannya bisa tunggal atau dikombinasikan dengan media tanam lain agar lebih kokoh menahan tumbuhnya tanaman. Banyak digunakan penanam karena lebih murah dan mudah didapat.

Baca juga:  Kalau PLN bubar, listrik mati?

D. Spons (H, S, Si)

Spons sudah lama digunakan oleh pembudidaya tanaman hias. Bobotnya sangat ringan dan tak mudah sobek, sehingga sangat mudah dipindah tempatkan. Setelah disiram air, spons akan menjadi berat sehingga tanaman akan tegak. Kelebihan spons adalah daya menyimpan air yang tinggi dan lama (hingga 2 minggu) sehingga menghemat waktu dan tenaga penyiraman, tetapi daya menyimpan oksigen kalah oleh rockwool. Kelebihan lain adalah kebal terhadap jamur yang berisiko merusak tanaman.

E. Arang sekam (H, Ns, O)

Dibuat dari sekam yang dibakar. Merupakan sebagai media tanam yang steril, murah, ringan dan efisien. Kelebihan yang dimiliki oleh arang sekam antara lain terdapatnya komponen kimiawi seperti protein, air berkadar rendah, lemak, serat kasar, karbon, oksigen, karbohidrat, hidrogen, dan silika. Sedangkan keunggulan dari arang sekam sebagai media tanam adalah harganya yang lebih murah, bahkan bisa dibuat sendiri. Selain itu, segala unsur yang berbahaya bagi tanaman telah hilang pada proses pembakaran.

F. Serbuk Sabut Kelapa (Cocopeat) (H, Ns, O)

Ditemukan pada tahun 80-an oleh Dutch Plantin, sebuah lembaga yang pertama kali melaporkan bahwa serbuk halus yang diperoleh dari sabut kelapa ternyata bisa dijadikan sebagai media tanam hidroponik. Di luar negeri, serbuk sabut kelapa atau cocopeat juga dikenal dengan sebutan coir pith, coir fibre pith, coir dust, dan atau coir yang berarti sabut. Memiliki daya tampung air yang tinggi, hingga 73% atau 6 – 9 kali lipat dari volumenya, hingga bisa menghemat waktu dan tenaga penyiraman. Kerugiannya adalah adanya zat tannin yang bersifat racun bagi tanaman sehingga cocopeat harus sering dicuci dan dikeringkan berkali-kali sampai air cucian berkurang warna coklat (kandungan tannin)-nya, sehingga aman untuk dipakai.

G. Perlite (K, Ns, No)

Merupakan media tanam berupa batu mineral berbobot ringan dan daya serap airnya tidak terlalu banyak. Perlite bersifat anorganik dan berasal dari batu silika yang dipanaskan pada suhu tinggi sehingga mencair dan diubah ke dalam ukuran kecil. Kelebihannya antara lain adalah kemampuan menyimpan nutrisi atau unsur hara yang diperlukan tanaman dalam jumlah tinggi dan drainasenya yang baik.

H. Vermiculite (K, Ns, No)

Berasal dari bahan anorganik yang mempunyai sifat mirip dengan media tanam hidroponik perlite. Keduanya sama-sama dihasilkan dari proses pemanasan batu. Vermiculite mampu menyerap kadar air lebih tinggi dibandingkan perlite. Selain itu, vermiculite mempunyai bobot lebih berat dari perlite sehingga lebih kuat menopang tanaman.

I. Kerikil (K, Ns, No/S)

Penggunaan kerikil bertujuan untuk mendapatkan ruang bagi akar untuk tumbuh secara optimal, serta pegangan yang lebih kokoh terutama untuk tanaman besar. Sirkulasi udaranya juga lebih baik. Kekurangannya adalah daya ikat air yang lemah sehingga diperlukan penyiraman yang lebih rutin. Di pasaran tersedia kerikil sintetis yang mempunyai kemampuan untuk mengikat air lebih baik.

Baca juga:  Menghancurkan Indonesia Secara Konstitusional

J. Pumice (K, Ns, No)

Pumice berasal dari batuan jenis basalt hasil letusan gunung berapi. Pumice dapat ditemukan di pantai-pantai yang terkumpul akibat letusan gunung merapi beratus tahun sebelumnya berbentuk batuan irregular kecil berwarna putih pucat seperti kapur. Kemampuan mengikat air pada pumice hampir sama dengan kerikil. Pumice sering dikombinasikan dengan sekam bakar atau vermikulit sehingga lebih kokoh menopang tanaman.

K. Pasir (H, Ns, No)

Pasir merupakan media tanam yang cukup banyak digunakan karena mudah didapat, murah dan bobotnya yang cukup berat sehingga mampu menopang tegaknya tanaman. Pasir mempunyai pori-pori berukuran makro dalam jumlah banyak sehingga mudah basah sekaligus cepat kering, dengan sirkulasi udara yang sangat baik untuk perakaran tanaman. Beberapa tanaman tertentu ternyata lebih baik disemai di pasir.

L. Serbuk kayu (K, S, O)

Merupakan media tanam yang cukup baik menyerap air dan menyediakan ruang tumbuh yang cukup bagi akar, sehingga akar tanaman yang tertancap ke dalamnya akan lebih cepat tumbuh dan berkembang. Kelemahannya adalah harus disterilkan terlebih dahulu karena rawan pertumbuhan jamur.

M. Batang Pakis (K, S, O)

Ada dua jenis batang pakis, yaitu coklat dan hitam. Yang baik digunakan adalah yang hitam. Karena lebih tua, lebih lunak dan mudah dipotong-potong dan mudah pula ditembus akar. Kelebihannya adalah dalam hal aerasi dan drainase yang baik.

N. Moss (H, S, O)

Terbuat dari akar paku-pakuan (kadaka). Sifatnya mirip batang pakis dan kelebihannya sama dalam hal aerasi dan deainase. Pada penggunaannya sering dikombinasikan dengan gambut, kulit kayu, daun kering, atau tanah.

O. Hidrogel ( K, Ns, Si)

Hidrogel terbuat dari kristal polimer yang selain mampu menyerap air dengan baik, juga mampu menyerap nutrisi dalam volume yang banyak. Hidrogel termasuk media tanam yang ramah lingkungan karena bisa terurai dan membusuk. Kelebihan media tanam yang satu ini adalah keajaibannya yakni bisa melepaskan kandungan nutrisi dan air sesuai dengan kebutuhan tanaman.

P. Styrofoam (H, Ns, Si)

Styrofoam atau gabus terbuat dari kopolimer styrene yang pada awalnya digunakan sebagai media adaptasi atau penyesuaian diri bagi tanaman sebelum ditanam ke lahan. Saat ini styrofoam telah dipakai sebagai campuran media tanam untuk mengoptimalkan porousitas pada media tanam. Untuk itu, styrofoam yang ada diuraikan dalam bentuk gerusan bola-bola-bola kecil.

https://www.facebook.com/groups/917635105342414/permalink/1011112382661352/
(Visited 34 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *