Surat terbuka Naniek S.Deyang tentang perbawangputihan

Top News

Kepada Bpk Prasiden RI
Bpk Jokowi

Dengan hormat

Pak Jokowi , sebagai mantan sohib saya yakin Anda percaya apa yg saya sampaikan ini bukan hoax, karena sejatinya selama ini penjenengan juga paham seperti apa seorang Naniek Deyang.

Pak Presiden yg terhormat, sungguh kemarahan yg memuncak saat saya mau nulis soal lika -liku perbawangputihan ini, karena saya sangat mengerti apa yg terjadi, dan sepertinya staf bapak rasanya belum ada yg lapor soal tangisan petani bawang putih ini.

Pak Presiden, beberapa hari lalu saya dibuat nangis saat bertemu petani sayuran di daerah Gunung Lawu ( Sarangan , Plaosan dan sekitarnya), dan petani sayur di bawah kaki Gunung Sumbing, Magelang -Jateng. Di antara petani sayur itu ternyata dikibulin habis sama importir bawang putih. Mereka ( para petani) disuruh nanam bawah putih , tapi setelah panen bawangnya nggak dibeli.

Jadi mereka ( para importir) membina petani bawang putih hanya sekedar formalitas utk memenuhi syarat DAPAT IZIN IMPOR bawang putih, karena syarat mendapat izin impor adalah membina petani kita utk menanam bawang putih ! Petani kita benar-benar diberi harapan palsu Pak Presiden..

Pak Prasiden yg terhormat, dari Pak Rizal Ramli dan beberapa mantan menteri saya dapat info total keuntungan bawang putih impor itu bisa mencapai trilyunan, makanya negeri kita dijajah habis oleh bawang dari Tiongkok dan pelakunya adalah para mafia importir alias bandar yg diantaranya dibekengi oknum Partai Politik.

Pak Presiden sedikit mereview soal seluk beluk bagaimana Indonesia akhirnya menjadi negara terjajah oleh bawang putih Tiongkok.

Alkisah di tahun 1990an, Indonesia sebetulnya penghasil bawang putih yg sangat potensial, dimana ciri bawang putih lokal ialah bawangnya lebih mungil dibanding bawamg impor dari Tiongkok. Tragedi terjadi saat jelang akhir tahun 1990 ( sekitar tahun 1996) , mulai masuk dari Tiongkok bawang impor yg dijual dengan harga dumping. Saat harga bawang putih lokal di pasar sekitar Rp 6000 /Kg, harga bawang putih impor hanya Rp 2500-4000 dengan fisik yg lebih besar bisa jadi harga impor saat itu Rp 1000-1500 saja per Kg.

Baca juga:  Partai Gelora Indonesia Bisakah Bergelora?

Tiongkok terus mendumping harga bawang putihnya termasuk yg di ekspor ke Indonesia hingga tahun 2005 -2006, dan yg terjadi akhirnya petani bawang kita pun akhirnya “MATI”.

Nah sejak petani kita mati suri dan tdk ada petani yg menanam, artinya tdk ada lagi produk bawang lokal, dan rakyat kita sdh tergantung impor ( 100 persen kebutuhan bawang putih kita impor),maka di sini Tiongkok dengan mafia importir kita mulai memainkan harga bawang putih, akibatnya harga bawang terus naik bahkan sampai tahun lalu bisa mencapai 100 ribu/Kg.

Pada saat bawang putih bertahan di harga tinggi itulah di pemerintahan bapak mulai ada niat utk kembali menggairahkan petani agar menanam bawang putih. Niat ini sangat baik Pak Presiden, tapi menyerahkan ke importir utk membina petani mau menabam petani itu yg SALAH KAPRAH pak Presiden.

Para importir yg hanya mau ngeruk keuntungan besar tdk akan pernah PUNYA RASA NASIONALISME Pak Presiden! Ketika mereka saat ini tetap diberikan izin impor dengan SYARAT MEMBINA PETANI UTK MENANAM BAWANG PUTIH KEMBALI, sejatinya mereka hanya melakukan formalistas, dan malah menghancurkan kehidupan petani Pak😭😭.

Memang betul Pak Presiden, mereka memberi bibit dan pupuk pada petani utk menanam, namun mereka JAHAT karena tidak membeli bawang hasil yg ditanam petani itu, padahal biaya yg sudah dikeluarkan petani sangat besar Pak Presiden. Mengaa mereka ( pengusaha /importis ) tidak mau beli hasil bawang putih yg ditanam petani yg dibinanya? Karena harga bawang impor lebih murah dan fisiknya besar.

Negara China yg memang menjadikan bawang putih menjadi tanaman utama, dan sdh ratusan tahun menanam, tentu tdk bisa dibandingkan petani kita yg baru belajar lagi menanam bawang putih setelah puluhan tahun dimatikan importir. Istilahnya membandingkan bawang putih impor dari China dengan hasil petani kita ya seperti menbandingkan Goliat dengab kutu air.

Harga jual petani karena cost produksinya mahal paling murah Rp 21 ribu ke pengusaha, sementara harga bawang impor hanya Rp 5 ribu ( di grosir Rp 9 ribu dan di retail 12 ribu saat ini). Ya otomatis importir pilih tetap impor sepanjang masa dan sewaktu -waktu bisa terus memainkan harga. Artinya kita akan terjajah bawah putih dari Tiongkok sepanjang hayat. Ini sama dengan kita tergantung kedelai dari Amerika!

Baca juga:  On her way she met a copy

Pak Presiden, akibat importir yg hanya pura -pura membina petani agar dapat surat izin impor ( sebagai syarat boleh izin), saat ini banyak petani nangis darah karena bawamg yg ditanamnya menumpuk di rumah -rumah mereka dan tdk laku dijual. Satu orang petani bisa mengalami rugi mencapai belasan juta. Duit belasan juta itu buat petani sama dengan 3/4 nyawa mereka Pak😭😭.

Bapak Presiden yg terhormat, bila memang benar -benar Bapak mau menghilangkan penjajahan bawang putih China di Indonesia yg sudah puluhan tahun ini, maka satu -satunya jalan adalah TUTUP KRAM IKPOR. Percayalah Pak lahan dan petani kita mampu utk memenuhi kebutuhan nasional. Utk menggairahkan petani, subsidi dulu benih dan pupuknya Pak Presiden.

Lima tahun mungkin petani masih terpkasa menjual dengan harga tingga, tapi Insyallah setelah mereka terbiasa menanam lagi, dan tanahnya juga sdh “akrab” lagi dengan tanaman bawang putih, maka kita bisa memenuhi kebutuhan sendiri, dan tdk tergantung lagi pada impor bawang putih dari China.

Sekedar gambaran Pak , setahun impor kita paling rendah sekitar 19 Triliun -20 Triliun, dan keuntungannya 5 -6 Triliun bersih. Importir dan partai mana yg tdk ngiler dengan kenikmatan ini Pak ?

Sekian surat saya Pak Presiden, semoga surat terbuka ini sampai ke panjenengan, karena kalau saya tulis surat tertutup malah saya takut tdk sampai ke meja Anda.

Sekali lagi mohon kebijakan mensyaratkan importir utk MEMBINA PETANI menanam bawang putih dihentikan, atau ditinjau ulang, karena hanya memberi harapan palsu pada petani. Dan mohon bawang2 putih hasil petani yg sekarang tdk dibeli pengusaha dibeli pemerintah utk kepentingan Bansos.

Terimakasih,
Naniek S Deyang

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=3071070232962243&id=100001778900270

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *