Reklamasi. Orangnya. Big No

Top News

Oleh : Tere Liye, penulis novel Negeri Para Bedebah

Saya pernah merilis tulisan beberapa bulan lalu. Ketika ada yang bertanya ke saya. Bang Tere, siapa yang harus saya pilih pas pilpres 2024? Tulisan itu sederhana sekali kesimpulannya: kalau calonnya cuma orang2 itu, yg sekarang berkuasa jadi gubernur misalnya, yg sekarang menteri, dll, maka Big No, mending elu kagak usah milih.
Siapa sih yang kalian banggakan sekarang? Coba lihat kasus terbaru. Pemprov DKI Jakarta memberikan ijin reklamasi kepada Ancol seluas 155 ha. Apa kata Pemprov? Lewat sekdanya mereka bilang: itu untuk kepentingan publik, bakal jadi lahan rekreasi warga. Di atas lahan reklamasi itu juga bakal dibangun Museum Nabi Muhammad.

Bullshit.

Di Indonesia itu, jika ada reklamasi, maka kalian nggak usah banyak cincong, segala aspek lingkungan, kepentingan masyarakat, hewan, tumbuhan, Amdal, dsbgnya. Di Indonesia itu, reklamasi selalu saja aspek pentingnya: UANG. Termasuk rencana reklamasi paling terbaru yang akan dilakukan oleh Ancol. Itu uang saja alasannya. 155 hektare. Kalian tahu itu setara 1,5 juta meter persegi. Maka jika harga tanah di sana adalah 20 juta per meter, itu setara 30 trilyun rupiah.

Siapa yang menikmati? PT Pembangunan Jaya Ancol (PJA). Siapa pemilik PT ini? 72% punya Pemprov DKI Jakarta, 18% punya PT Pembangunan Jaya, sisanya masyarakat.

Kok bisa Gubernur DKI yang dulu konon katanya menolak reklamasi, eh sekarang malah bikin keputusan ngasih ijin? Simpel. Uang. Mari bungkus dengan penjelasan indah: agar Ancol besok lusa jadi pusat hiburan terbesar di Asia Tenggara. Agar Ancol jadi kebanggan nasional, bla-bla-bla. Dan astagfirullah, elu bawa-bawa Nabi Muhammad, bilang bakal bangun Museum Nabi di sana. Cuy, pernah gitu Nabi menyuruh laut ditimbun? Dibangun di atasnya?

Baca juga:  TIANG TURUS PANCASILA: Ketuhanan Yang Maha Esa bukan Gotong Royong

Apakah sejatinya rakyat Jakarta dapat manfaat? Bullshit lagi. Masuk Ancol tetap bayar. Kecuali jika elu bikin gratis 100 tahun buat seluruh warga Indonesia, baru kita bisa diskusi. Lah ini, tetap bayar. Apakah Ancol ini mendesak sekali menambah lahannya? Apakah tidak ada solusi lain? Kenapa nggak Ancol itu bikin saja lokasi wisata baru di tempat kosong? Semua ini alasannya Uang. Mending reklamasi cuy. Biaya reklamasi itu murah. Tinggal sewa kapal, keduk pasir dari mana, tumpahkan ke sana. Hancur lebur lingkungan, bodo amat. Biayanya paling 4-6 juta per meter persegi. Setelah jadi. Sim salabim! Langsung dapat asset 20 juta per meter. Bikin bisnis apapun di sana, cuan banget. Belum lagi 10-20 tahun kemudian, harga tanahnya dobel.

Duh Gusti, entah apa dosa kami semua. Kok pejabat kami itu gini2 amat sih?

Perkara reklamasi Ancol ini sebenarnya tidak mendesak2 amat. Memangnya Ancol bakal bangkrut? Kan tidak. Dan Kepgub ini dikeluarkan oleh orang yang dulu jualan soal reklamasi agar terpilih jadi pejabat. Ingat kagak elu? Atau mau bersilat lidah penuh catatan kaki? Kita itu yang diingat omongan kita. Masa’ mempertontonkan inkonsistensi dengan mudahnya. Apa susahnya bilang NO, pokoknya selama sy yang berkuasa, kagak ada itu reklamasi. Kan mudah, tinggal tolak usulan Ancol. Bukan malah nyari pembenaran.

Atau benarlah kata orang tua dulu. Kursi jabatan itu dengan mudah ‘menyihir’ orang lain. Yang dulu bilang A jadi B, yang dulu bilang B jadi A. Itulah kenapa my friend, jika besok2 opsi pemilihan itu hanya orang2 ini, Gubernur dari manalah, mantan menteri manalah, anak siapalah, keluarga siapalah, sorry, Big No. Kita butuh orang2 yang benar2 baru.

Baca juga:  Akhirnya saya paham

Terakhir. Jika memang nasib kita akan terus begini. Pemimpinnya itu2 saja, semoga orang2 masih bersedia dikritik. Semoga orang2 masih bersedia mendengarkan saran orang lain. Karena repot sekali jika sikap anti kritik ini mulai menggila dimana2. Lingkaran elitnya nggak mau dikritik. Fans alaynya apalagi. Sedikit saja idolanya ditulis, ngamuk dia, maki2, bilang Tere Liye anjing, monyet. Kita lupa jadinya, pemerintahan itu sejatinya melayani rakyat. Bukan sebaliknya. Tulisan ini misalnya, tolong dipahami ini sebagai ‘kemarahan’ sekaligus ‘kritik’. Batalkan rencana reklamasi 155 hektar kalian itu. Di tengah pandemi begini, daripada ngurusin Ancol, mending ngurusin yang lain.

Dan please, jangan bawa-bawa Nabi Muhammad dalam rencana reklamasi 155 hektare ini. Astgafirullah, Nabi tidak pernah minta dibuatkan museum oleh kalian. Elu cuma memanfaatkan namanya, biar orang nggak jadi protes gitu? Kalau elu benar2 paham ajaran Nabi, bahkan berwudu saja kita harus sayang dengan air, menyayangi alam sekitar. Lah ini, elu hancurkan lingkungan, elu keduk pasir dari manalah, elu timbun lautnya. Bullshit kalau itu tidak merusak alam sekitar. Dan itu 155 hektar. Itu setara 1 x 1,5 km persegi, 1,5 juta meter persegi.

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *