Berpikir beda

Top News

Oleh : Tere Liye

Saya bingung dengan orang2 yang protes soal sepeda dikenakan pajak. Eh, secara teoritis sepeda itu memang sudah sejak dulu kena pajak. Apa namanya? PPN, Pajak Pertambahan Nilai. Kita bayar saat beli sepedanya.

Sebenarnya, semua hidup kita itu sudah kena pajak. Iuran. Pungutan. Semua. Hanya namanya, atau bentuknya saja yang tidak kita sadari.

Pergi ke Alfamart, Indomart, barang yg kalian beli, kena pajak. Beli paket internet, pulsa, juga kena pajak. Punya tabungan di bank? Maka itu juga kena pajak (bagi hasil/bunganya). Makan di restoran/warung, juga kena pajak. Ada banyak jenis pajak di sekitar kita. Dan jika itu diterapkan semua secara disiplin, secara teoritis, memang betul, ‘kentut’ pun bayar pajak. Kok bisa? Silahkan cari sendiri logikanya.

Pajak adalah cara sopan pemerintah mengumpulkan uang dari rakyat. Karena mau bagaimana lagi, di dunia ini, pemerintah itu memang lemah kemampuan, tapi banyak kemauan. Bahkan dalam sistem kerajaan sekalipun. Mereka lemah kemampuan, lemah kreatifitas nyari uang, tapi kemauan banyak, jadilah pungut pajak. Ada memang negara yg diberkahi minyak, tidak butuh pajak dari rakyat, tapi tunggu saja pas minyaknya habis, sama saja, mereka mulai sopan minta pajak.

Sejak jaman dinosaurus, Ken Arok, pajak itu selalu ada. Nah, sialnya, pemerintah itu bukannya kreatif nyari duit dari sumber lain, pemerintah itu justeru kreatif soal pajakin rakyatnya. Mereka menciptakan berbagai jenis pajak. Ada pajak penghasilan, pajak pertambahan nilai, cukai, bea materai, pajak barang mewah, pajak kendaraan bermotor, semua bisa dimunculkan. Termasuk kalau sepeda itu mau dikenakan pajak kayak mobil, bisa. Lantas apa masalahnya? Namanya juga butuh uang, boleh dong apapun dikenakan pajak.

Baca juga:  Apa kabar shalat saya ???

Belum genap ngomongin pajak, jangan lupa, saking kreatifnya, kita juga punya iuran, pungutan. Kalian nggak ngerasa apa? BPJS itu iuran persis seperti pajak. Nanti ada Tapera, juga ada iuran ini, iuran itu. Gaji/penghasilan kita itu dipotong banyak hal.

Nah, sialnya, tidak selalu pajak atau iuran itu kita nikmati. Bayar PLN, jangan salah, itu juga iuran loh. Tapi kita nikmati memang. Beli BBM, itu juga iuran, nggak gratis. Malah apesnya, iurannya lebih tinggi dari harga dunia, gara2 kita harus menalangi investasi, dan bla bla bla Pertamina, termasuk buat ngasih gaji puluhan milyar direksi dan komisarisnya. Tapi no problem lah, memang dinikmati, lagian kalau males, nggak usah beli BBM. Beres. Tidak iuran lagi. Yang repot itu, mau males atau kagak, tetap harus bayar, itu yg ambyar.

Ada negara yang pajakin rakyatnya, itu duit memang digunakan untuk pembangunan. Negaranya maju. Ada negara yang pajakin rakyatnya, eh itu duit cuma buat proyek2 kagak jelas. Negaranya begitu2 saja. Ada negara yang pajakin rakyatnya, eh itu duit malah dikorupsi. Itulah nasib berbagai negara.

Baca juga:  Pekerjaan berat

Bisa negara hidup tanpa pajak?

Nah, ini yang jarang sekali dipikirkan banyak orang. Sejak dulu, kayak sudah given begitu saja, harus pajak. Mau dia lulusan S3 dari Mars, cumlaude dari Jupiter, tetap saja kepalanya begitu. Pajak. Pajak. Pajak. Tidak ada celah sedikit pun untuk mulai mikir, bisa nggak sih negara itu hidup tanpa pajak?

Bisa negara hidup tanpa pajak?

Nah, adik2 sekalian, mungkin kalian bisa memikirkannya. Seru loh kalau kalian sejak remaja mulai memikirkan hal2 begini. Kenapa tidak. Oh iya, benar juga. Kenapa tidak begini. Kenapa tidak begitu. Kepala kalian dipenuhi hal2 menarik yg luput dipikirkan orang banyak. Dan semoga besok lusa, saat giliran kalian meneruskan negara ini, boleh jadi kalian mulai muncul dengan ide kreatif. Jangan ragu2, jangan malu2, pemikiran simpel kalian hari ini, sepanjang terus dikembangkan, kongkrit, besok lusa bisa jadi sesuatu.

Dan saat itu terjadi, nama kalian akan dikenang spesial sekali. Sorry, dunia tidak pernah mengenang orang2 yg cuma mikirnya begitu saja. Dunia mengenang orang2 yg punya pemikiran beda. Dan itu bisa mengubah banyak hal, membuat lebih baik.

(Visited 18 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *