Kenapa harus tegas menolak istilah New Normal?

Kenapa harus tegas menolak istilah New Normal?

Kenapa harus tegas menolak istilah New Normal?

Oleh : Nasrullah

Dunia memasuki era baru. Era mencari kewarasan atas kondisi covid-19 ini, era melawan kebosanan dalam lock down, era mencoba survive di bidang ekonomi setelah merasakan betapa hebat dampak ekonominya di seluruh kalangan. Apapun eranya, tulisan ini ingin mengkritisi dengan keras istilah new normal.

Di Indonesia, istilah bahasa Inggris itu dipopulerkan langsung oleh presiden kita tercinta dengan nama “adaptasi kehidupan baru” diubah ke bahasa Indonesia pun, hakikatnya tetap sama.

Dan, umat Islam harus menolak dengan keras istilah itu.

Dalam Islam, keadaan yang tidak biasa, disebut sebagai darurat. Dalam kondisi darurat, yang tadinya haram jadi halal, dan bisa jadi sebaliknya. Namun, darurat ada batas waktunya. Darurat tidak bisa disebut normal.

Contohnya, jika di tengah padang sahara, hanya tersedia makanan haram, setelah berhari-hari tidak makan, maka makanan yang semula haram, menjadi diperbolehkan, dalam keadaan darurat.

Baca juga:  Kejatuhan Sukarno Dipelopori I.J Kasimo Ketua Partai Katolik. PDIP (Jokowi dan Mega) Dendam Ideologis Terhadap Orang Katolik (Minoritas)?

Penulis tidak tahu relevansinya dalam bidang lain, semisal ekonomi yang memang mungkin akan ada kehidupan baru. Tapi faktanya, istilah new normal itu diterapkan bukan hanya untuk ekonomi tapi juga untuk aktivitas peribadatan.

Di masjid, kini shaf direnggangkan, bacaan dipendekkan, tidak boleh bersalaman, tidak ada wudhu di masjid, tidak boleh berlama-lama di dalam masjid dan banyak lagi protokol yang harus diterapkan jika ingin masjid dibuka. Hal ini semua bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah saw.

Nabi yang Mulia memerintahkan untuk merapatkan shaf, memanjangkan bacaan (di waktu-waktu tertentu), meramaikan masjid, menjadikan masjid sebabai pusat aktivitas, bersalaman bahkan berangkulan. Itu semua sunnah. Dan sunnah adalah kebaikan dan pahala.

Namun, semua sunnah itu harus hilang dengan istilah new normal.

Baca juga:  On her way she met a copy

Jika istilah ini terus disebut dan masuk dalam alam bawah sadar, bukankah akan membuat semua sunnah itu hilang juga di kalangan umat Islam?

Penulis teringat hadits Rasulullah saw, “Sungguh-sungguh kalian akan mengikuti sunnah (cara hidup) orang-orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, hingga seandainya mereka masuk ke dalam lubang dhabb (sejenis biawak), kalian pun akan memasukinya.” (HR Bukhori Muslim)

Maka, penulis menyarankan agar istilah new normal itu diganti menjadi “New Darurat” atau sejenisnya. Dengan menyebutnya sebagai Darurat, akan menanam maksud yang jelas di kalangan umat bahwa keadaan ini tidak normal, dan ada batasnya.

Semoga Allah mengembalikan kembali sunnah-sunnah Nabi yang Mulia yang membuat umat ini berjaya dalam keadaan apapun.

Sahabatmu,
Nasrullah

(Visited 19 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account