Dibalik tabir

Top News

Oleh : Ustadz Rendy Saputra

URS Business Notes


Beberapa hari yang lalu belanja di Indomaret. Di waktu yang bersamaan kebetulan logistik inventory Indomaret lagi datang. Truk putih panjang sedang menurunkan barang. Kotak-kotak biru di turunkan ke gudang.

Sudah lama sebenarnya menyadari kehebatan perusahaan ini dalam mengelola bisnis ritel. Kali ini kita akan melihat tabir lebih dalam tentang bisnis ini, mengapa bisnis bertumbuh cukup pesat dan kuat.


Indomaret Group dikelola oleh perusahaan PT Indomarco Prismatama. Percaya gak percaya, per Januari 2020 jumlah outletnya sudah mencapai 17.861 outlet. Dan penjualan di tahun 2019 menyentuh omset 80T. Silakan nanti cari sendiri net profitnya per tahun ya. Agar ada pembelajaran.

Pandemi sebenarnya mendorong bisnis ini untuk makin moncer, karena perilaku belanja bergerak dari area perkantoran dan sekolah menuju perumahan. Tetap saja bisnis ini nampak kokoh.

Di tahun 2020, Indomaret menargetkan untuk merambah Indonesia bagian timur. Dikutip dari berita daring, Indomaret menargetkan tumbuh 1.000 outlet hingga sentuh 18.600 outlet. Dengan target sales 95 T. Wow.

Kekokohan perjalanan bisnis ini dari 1988 patut kita pelajari. Tulisan kali ini mengajak pembaca untuk belajar dari kehebatan Indomaret.


Ketika melihat kontainer biru logistik inventory Indomaret, satu kotak tidak berisi satu jenis barang. Jika didalam kontainer itu biskuit, biskuitnya ada beberapa macam dan terlihat acak.

Hasil penelusuran pribadi, sebenarnya itu gak acak. Indomaret membangun sistem kecerdasan artifisial untuk menentukan jumlah stok terbaik untuk outlet tersebut. Berapa pasnya? Akan habis berapa lama? Indomaret punya catatan itu.

Misalnya stok biskuit Oreo standard. Indomaret punya histori penjualan yang terdata baik. Di Indomaret Cisitu Dago misalnya, berapa banyak oreo di “hit” setiap pekannya. Atau habis dalam berapa hari. Angka itu akan menentukan jumlah biskuit oreo yang akan dikirim oleh tim inventory.

Baca juga:  Pekerjaan berat

Apa masalah bisnis ritel hari ini? Stok mati. Stok di display terlalu lama. Laku juga nggak, tapi jatuh tempo ke supplier sudah masuk. Akhirnya putaran cash terganggu.

Dari Indomaret kita belajar, stok matinya relatif sedikit, karena semuanya sudah diukur dengan seksama. Setiap rak punya produktifitas yang diukur terus menerus.


Kekuatan berikutnya yang sangat terlihat adalah detail. Retail is detail. Itu ilmu pertama waktu saya mencoba belajar retail. Pernah juga pegang jadi konsultan di bisnis retail. Kekuatannya memang detail.

Coba Anda masuk Indomaret. Di semua Indomaret. Kita akan menyaksikan kerapihan yang “menasional. Letak kasir, letak kategorisasi barang, tata aturan peletakkan. Hampir semua tersusun rapi.”

Hampir kita tidak menemukan rak yang kosong, atau tak terisi. Indomaret selalu menjaga ini. “Kami lengkap, barang kami ada terus, gak ada istilah barang kosong.”

Detail ini yang kadang beberapa pebisnis retail gak kuat. Lampu redup gak terperhatikan. AC netes gak sensitif. Keset berubah jadi kardus juga gak diganti-ganti. Indomaret kuat di hal detail. Belajarlah.


Kekuatan berikutnya ada di optimasi sales. Indomaret sadar titik keberadaannya sudah menyebar ke seantero negeri. 18 ribu outlet itu bukan angka main-main. Jika tahun 2020 ini Indomaret menargetkan membuka 1.000 outlet, berarti kurang lebih 1 hari kerja Indomaret akan buka 3 outlet. Saat kita bernafas saja, mungkin ada Indomaret yang lagi launching.

Kekuatan jumlah ini dijadikan optimasi sales berbagai produk. Mulai ada Indopaket, jual pulsa, kanal bayar berbagai tagihan dan tiket, penyedia produk digital untuk Google dan game online. Dan masih banyak lagi.

Bahkan konon hampir-hampir distribusi beras miskin nanti akan didistribusikan oleh Indomaret. Goodbye Bulog. Konon demikian. Indomaret dengar-dengar sudah menghadap negara dan siap menyalurkan beras miskin lebih baik.

Baca juga:  Jangan teriak : Merdeka. Malu kita

Artinya, sales omset APBN saja, grup ini perhatikan. Kita mesti benar-benar belajar pada kegigihan bisnis ini.


Kekuatan berikutnya adalah visi Indomaret tentang coverage area.

Dahulu sebelum zaman reformasi, bisnis besar seperti Indomaret ini tidak boleh masuk ke grosir dan eceran ke wilayah pemukiman. Berkat reformasi pada demokrasi ekonomi, aturan ini dicabut dan membuat siapa saja yang mau buka grosir dan eceran ya boleh saja.

Semua area yang memungkinkan untuk dibukanya Indomaret pasti dibuka. Mungkin satu dua Kota Kabupaten yang masih anti, ya Indomaret belum bisa buka. Nampaknya tinggal nunggu ganti Kepala Daerah. He he he.

Visi coverage area ini jarang dimiliki oleh pengusaha nasional terutama UMKM. Padahal kekuatan bisnis terletak pada ketersediaan dan akses.

Jika suatu hari Indomaret menyentuh 80.000 outlet, berarti setiap kelurahan dan desa ada minimal 1 Indomaret.

Dan jika Indomaret jumlah outletnya 800 ribu outlet, itu berarti 1 TPS, 1 outlet Indomaret. Nampak bisa langsung berubah jadi parpol. He he he.


Nampaknya itu yang bisa saya tulis. Marilah kita belajar dari kesuksesan senior kita, pengusaha nasional negeri ini, Salim Grup.

Bisnis tidak hanya tentang apa yang dilihat di permukaan, namun juga tentang apa yang ada dibalik tabir.

17.861 outlet
80 T sales

Itu pencapaian yang patut diapresiasi.

“Bahagialah dengan pencapaian orang lain, jangan hasad, karena dengan berbahagia dengan pencapaian orang lain, kita sedang mengantre untuk mendapatkan pencapaian yang sama” – Kiyai Luqman

URS


Silahkan copaste dan forward tulisan ini ke jejaring sahabat Anda. Semoga manfaat

(Visited 17 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *