Kenapa sih kita butuh BUMN?

Kenapa sih kita butuh BUMN?

Kenapa sih kita butuh BUMN?

Oleh : Tere Liye

*Kenapa?

Simpel: agar masyarakat itu jadi lebih sejahtera. Maka hal2 penting, dan menyangkut hajat orang banyak, ada BUMN. Hadirnya BUMN ini secara prinsip seharusnya membantu rakyat.

Tapi coba perhatikan.

Naik pesawat. Tiket maskapai apa yang paling mahal? Garuda. Fine, mereka bisa klaim servis mereka lebih baik dibanding maskapai lain. Tapi coba saja elu bolehin masuk itu Singapore Airlines, Qatar, dkk menggarap pasar domestik. Termasuk LCC, bebaskan mereka masuk di pasar domestik–asumsi besok2 penerbangan pulih. Bakal seru. Bukan malah industri penerbangan dijadikan oligopoli.

Mau beli paket data. Paket data apa yang mahal? Salah-satunya punya anak perusahaan BUMN. Fine, mereka punya jaringan dimana2, dsbgnya. Tapi ehem, dibanding negara lain yang kecepatan internetnya sudah Gbps, tarif elu yang cuma 10 Mbps itu mahal, silahkan hitung sendiri rerata tarif per kecepatan sana. Belum lagi, elu enak banget blokir ini itu, dsbgnya.

Listrik. Ini contoh berikutnya. Bisnis listrik di negeri ini dikuasai PLN. Yang selalu ada drama berkepanjangan penuh masalah. Mati lampu. Tagihan melonjak. Dsbgnya. Tiap hari ada saja drama. Bahkan saat tarif listrik tdk naik, dramanya ada. Apalagi pas naik betulan, lebih dramatis lagi. PLN itu untungnya trilyunan, tapi kayaknya selalu saja merasa kurang. Argumennya buat investasi nambah pembangkit dsbgnya. Fine. Tapi mbok ya, mulailah anggap rakyat itu sebagai pemilik. Sama pemilik kok galaknya ampun dah. Kami semua ini pemilik PLN.

Baca juga:  She packed her seven versalia

BBM contoh berikutnya. Negara tetangga sudah turun harga minyaknya, eh dia belum. Lagi2, Pertamina itu untungnya trilyunan. Buat apa sih untung trilyunan? Ketika rakyat harus beli Pertamax 9.600, padahal di Malaysia cuma separuhnya. Coba elu ijinkan itu SPBU milik swasta jual sebebas mereka, jangan diatur, kan seru. Dan lagi2, mulailah rakyat itu dianggap sebagai pemilik. Ini, diprotes harga nggak turun, apa jawaban mereka: “Sana beli minyak ke Malaysia.” Kan asem, jadi Pertamina itu punya siapa?

Daftarnya masih panjang ini jika mau dilanjutkan.

Setiap lima tahun ganti menteri, ada perubahan? Kagak. Di awal berkuasa pasti digadang2 itu menteri, dipuja2, tapi lama2, lihat saja polanya sama: jabatan komisaris, direksi, dll itu dibagi2 saja untuk pengurus/kader parpol, kawan dekat, dan kelompok tertentu. Mana data dan faktanya? Wow, coba kamu hitung sendiri berapa pengurus/kader parpol yg jadi komisaris? Ntar kuaget sendiri.

Saya benar2 tidak tahu di kepala elit pemerintahan ini, buat apa sih ada BUMN itu? Amanat konstitusi bilang apa? Kok semua jadi fokusnya ngejar untung? Belum lagi, lihat itu daftar koruptor dari BUMN. Nanti kita lihat lima tahun lagi, jangan2 nambah daftarnya dari bos2 BUMN yg sekarang baru ditunjuk.

Baca juga:  Menghancurkan Indonesia Secara Konstitusional

Ayolah, sekali2, coba elu tanyakan ke rakyat Indonesia, mereka merasa nggak sih sebagai pemilik BUMN ini? Mereka merasa dibantu, dan sangat berterima-kasih dengan BUMN2 ini? Mereka tambah sejahtera nggak dengan BUMN2 ini? Karena sejatinya bodo amat soal berapa dividen BUMN ke negara; yang penting itu, seberapa terbantu rakyat atas hadirnya BUMN. Horee! Gratis paket data selama enam bulan. Horee! Gratis listrik selama dua bulan. Horee!! Ngisi 1 liter dapat 1 liter. Itu nggak lebay, itu bisa saja terjadi, kalau petinggi2 BUMN ini benar2 mau membantu rakyat. Kan sudah digaji tinggi, mikir dong gimana biar rakyat, pemilik BUMN hepi. Bukan biar menteri-nya hepi.

Atau BUMN ini sekarang hanyalah tempat bagi2 posisi saja. Biar yg tdk kebagian di pemerintahan, masih bisa punya pekerjaan dan penghasilan. Kalau hanya itu, nasib. Besok2 pas mau kritik BUMN, bakal diteriakin lagi, “Nyet, lu pindah saja ke LN sana.”

*Tere Liye

**penulis novel “Negeri Para Bedebah”, pembayar pajak, selalu tertib lapor SPT. apesnya, jutaan buku bajakan sy dijual di mana2. kagak ada yg peduli. tekor berkali2 jadi warga negara ini.

(Visited 8 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account