Akhirnya saya paham

Akhirnya saya paham

Akhirnya saya paham

Oleh : Tere Liye

Bukan penduduk kelas bawah yang terkena dampak serius pandemi ini. Bukan pula kelas menengah. Juga bukan kelas atas. Sepanjang mereka tidak melakukan hal ini: berhutang.

Sesusah apapun situasi, jika kalian tidak berhutang. Kalian minimal tidak pusing mikirin cicilan. Karena sungguh rumit, walaupun kalian kaya raya, tapi hutang menggunung. Wah, itu susah Bro. Karena akan ada yg nagih, jadi pikiran, stress, susah tidur, susah makan. Tambah susah semuanya. Penjualan seret, bisnis mampet, tapi cicilan tetap harus dibayar. Nah, kelompok inilah yang terkena dampak seriusnya. Kelompok rentan, rapuh, dan menjerit.

Nah, inilah juga yang terjadi hari-hari belakangan ini. Tiga bulan bisnis tidak jalan, mungkin masih kuat. Tapi enam bulan tidak jalan? Wah, mulai sadis dampaknya. Karena hutang harus dibayar. Sekali hutang tersendat, dampaknya lari ke bank. Bank2 mulai kesulitan likuiditas. Efeknya beruntun kemana2. Sekali bank jebol, kacau balau dunia persilatan.

Maka, apapun yang terjadi, bisnis harus dimulai Juni nanti. Sebelum semua yang berhutang semaput. Bukan rakyat kecil yg dikhawatirkan. Kalian kredit panci, lemari, gorden, itu sih tidak serius. Atau kredit motor, rumah, mobil, mungkin itu serius, tapi ssst, masih ada yang lebih serius.

Baca juga:  Drama pelayanan SIM

Apa itu? Perusahaan2 yang berhutang. Orang2 itu yang berhutang. Jangan keliru, pejabat2 ini ada punya bisnis, dan bisnisnya juga terbiasa dengan hutang. Belum lagi pengusaha di sekeliling kekuasaan, juga terbiasa dengan hutang. Dengan bisnis mampet, penjualan turun, wow, itu ngeri. Cicilan mau dibayar pakai apa? Daun? Tidak bisa.

Maka bisnis harus jalan.

Apalagi JIKA negara itu juga berhutang gila2an, ribuan trilyun. Wah, sekali ekonomi terjun bebas, maka pajak akan berkurang drastis, cukai, penghasilan lain, terjun bebas. Tambah kacau balau. Penerimaan mampet. Kurs menggila. Itulah kenapa BBM tidak turun di negara ini, karena konsumsi BBM turun. Makanya harga BBM tetap selangit, itu penting agar tidak tekor. Buat nalangin turunnya konsumsi.

Maka bisnis harus jalan segera. Apapun resikonya. Mari dibungkus dengan “new normal”, “sepanjang protokol kesehatan” dilaksanakan. Pokoknya dibungkus apapun, bisnis harus jalan. Mall2 harus buka, karyawan harus masuk, pabrik beroperasi lagi. Itulah yang terjadi, sesederhana itu.

Gara-gara hutang.

Maka, bersyukurlah jika kalian hari ini tdk punya cicilan. Tidak pusing, toh? Meski susah mikir besok harus makan apa, minimal tdk perlu mikirin besok nyicilnya bagaimana. Pun yang terlanjur dan terpaksa berhutang, semoga segera bisa dilunasi. Agar beban itu tidak mengikat kita. Sungguh2 berdoa, semoga rezeki datang, hutang lunas.

Baca juga:  Praktek kedokteran Gigi di tengah Pandemi Covid 19

Karena yang repot adalah: yang hobi berhutang.

Wah, ini repoooot, Rek. Kemampuan kurang, tenaga lemah, eh nafsu hutang tinggi. Numpuk hutangnya. Tapi dia tetap bangga. Selalu punya alasan dan puja-puji logika. Seolah berhutang itu prestasi, kan hancur logika. Nah, yg ini jelas susah. Karena benarlah kata orang tua dulu: tabiat berhutang itu berbahaya. Sekali seseorang suka berhutang, maka dia akan lagi, lagi, dan lagi berhutang. Dia bisa membuat susah keluarganya, semua jadi kena.

Sungguh, hutang tinggi itu bukan prestasi. Karena kalau itu prestasi, waduh, hahaha, lucu sekali, banyak-banyakan hutang prestasi? Oooh, kulit kerang ajaib, entah itu nasihat dari mana. “Nak, berhutanglah banyak2, semakin banyak hutangmu, semakin berprestasi kamu.”

*Tere Liye

(Visited 22 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account