Mengapa Allah kembalikan kita ke Al-Kahfi (Gua Corona)?

Mengapa Allah kembalikan kita ke Al-Kahfi (Gua Corona)?

MENGAPA ALLAH KEMBALIKAN KITA KE AL-KAHFI?

Oleh: Dr. Jamal Abdul Sattar

Diterjemahkan oleh,
Dr. Muzakkir M. Arif

Secara mendadak, tanpa pendahuluan, Allah menghentikan laju kecepatan hidup ini. Allah mengembalikan seluruh manusia ke kehidupan “Gua” (Al-Kahfi).

Allah Ta’ala menghentikan kita, untuk menarik perhatian kita semua, dan DIA bertanya kepada kita semua: “Kamu semua mau ke mana?”.

Allah menghentikan kita, untuk memberi tahu kita bahwa semua kesusahan, kesibukan, pekerjaan, semua itu tidak hakiki, tidak asli. Semua itu pasti sirna bersamaan dengan hilangnya nilai dari semua itu pada diri kita.

Kitalah sebenarnya yang selama ini membesar-besarkannya.

Allah menghentikan kita, untuk mengingatkan kita bahwa DIA maha berbuat atas semua yang DIA inginkan; dan bahwa semua kekuatan materil yang telah mencuri pandangan kita, teknologi canggih yang telah merampas akal kita, semua itu hanyalah permainan dan kelalaian; dan bahwa Allah Ta’ala melalui makhluk yang tidak terlihat dengan mata, maha kuasa untuk menghentikan segalanya di depan kekuasaanNya.

Allah menghentikan kita, untuk membersihkan hati kita dari kebanggaan dengan syubhat para atheis, dengan serangan para materialis, dengan ketakburan para pengagum kuffar Barat. Allah bermaksud untuk mendidik kita agar tidak terpengaruh dengan popularitas orang-orang yang berakhlak buruk.

Allah mengembalikan kita ke “Gua”, untuk mengingatkan kita, bahwa di rumah kita ada teman teman hidup, yang tanpa terasa, kesenjangan hubungan batin dengan mereka semakin luas, walaupun secara fisik kita sangat dekat dengan mereka. Tanpa terasa, mata air cinta terhadap mereka mulai mengering, akibat kesibukan dan beban hidup. Tanpa terasa, suara dari perasaan kasih sayang dan cinta, semakin mengecil, hampir tak terdengar, di tengah bisingnya deru kehidupan yang berlalu sangat cepat.

Allah mengembalikan kita ke “Gua”, untuk mengingatkan kita bahwa kita dikaruniai putera dan puteri yang mungkin telah beranjak dewasa, tapi kita belum mengenal mereka dengan baik. Batin kita cukup jauh dari batin mereka. Mungkin mereka telah matang, tapi mereka belum mengambil pelajaran yang cukup dari kita. Bahkan mungkin kita belum menemukan hakekat mereka, belum mengenal mereka secara mendalam, sampai kita belum paham bahasa tubuh mereka, problem mereka, pemikiran mereka, cita cita mereka.

Baca juga:  Melewati 30 Hari Warung Makar Berdonasi

Boleh jadi, kita di mata mereka bagaikan tamu yang pulang dari tempat kerja, lalu berangkat ke tempat kerja lagi. Boleh jadi mereka menilai kita yang duduk duduk berkumpul dengan mereka di rumah, tapi dalam batin mereka, mereka menganggap kita masih tetap memikirkan urusan lain, tetap sibuk dengan orang lain.

Allah mengembalikan kita ke “Gua”, agar kita menyadari bahwa ternyata kita punya keluarga yang terputus hubungan kita dengan mereka sejak lama. Kita punya teman teman lama yang juga sudah cukup lama menghilang dari batin kita.

Allah mengembalikan kita ke “Gua”, agar kita bertanya kepada diri kita:
“Siapa Saya?”.
“Benarkah saya telah melalui tahun tahun kehidupan yang panjang ini?”.
“Terasa bagai mimpi”.
“Apa karya bermanfaat untuk orang lain yang telah saya selesaikan?”.
“Apakah saya benar benar telah siap untuk menemui Allah dengan tenang, dengan rasa rindu kepada Allah?”.

Allah mengembalikan kita ke rumah, agar kita tinggal di rumah dalam keadaan sehat, agar kita tidak terpaksa tinggal di rumah dalam keadaan sakit.

Allah mengembalikan kita ke rumah agar kita menikmati bahagianya berkumpul dengan keluarga dan anak anak kita, pada saat kita masih punya sisa kesehatan, sisa kekuatan, sisa harapan!.

Kita dikurung di “Gua”..
Agar kita mengevaluasi diri kita, pemikiran kita, sikap sikap kita, sistematika berpikir kita.
Agar kita memperbarui tekad kita.
agar kita terbebas dari penyebab kegagalan.
Agar kita sungguh sungguh bertaubat.

Ibnu ‘Atha’ pernah mengatakan:
“Tak ada yang lebih bermanfaat bagi hati, dari menyendiri di medan tafakkur”.

Kita dikurung di “Gua”, agar kita mentadabburi Surah Al-Kahfi (Gua).
Agar kita mencari padanya Rahmat Allah.
“Niscaya Tuhanmu akan melimpahkan kepadamu sebagian rahmatNya dan menyiapkan untukmu sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu”.
QS: AL-KAHFI: 16

Agar kita memperbaiki hubungan kita dengan Risalah Terakhir dari langit untuk bumi ini:
“Dan bacalah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu (Al-Qur’an)”.
QS: AL-KAHFI: 27

Agar kita berusaha mengembalikan dzikir ke hati yang berkarat, ke jiwa yang kosong, ke akal yang goncang, ke mata yang menyimpang, ke telinga yang bising.
“Dan ingatlah kamu kepada Tuhanmu jika kamu lupa, dan katakanlah: “Mudah mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini”.
QS: AL-KAHFI: 24

Baca juga:  Akhirnya saya paham

Agar kita yakin bahwa pandangan kita kepada masa depan, dugaan kita terhadap tanda tanda masa depan itu, tidak akan benar dan tidak akan terwujud, jika itu tidak dikaitkan dengan kehendak Allah dan tawakkal yang benar kepada Allah.
“Dan janganlah kamu mengatakan kepada sesuatu: “Sesungguhnya aku akan melakukan ini besok” kecuali (dengan menyebut): “In Sya Allah”.
QS: AL-KAHFI: 23 – 24

Agar kita bertafakkur pada nikmat yang tak terhitung banyaknya yang diberikan oleh Allah kepada kita, lalu kita meningkatkan syukur kepadaNya, menghayati pengakuan atas pemberianNya yang sangat banyak, sambil kita bersama membaca:
“Masya Allah. La Quwwata Illa Billah”.
“Sungguh atas kehendak Allah semua ini terwujud. Tak ada kekuatan selain dengan pertolongan Allah”.
QS: AL-KAHFI: 39

Allah mengembalikan kita ke Al-Kahfi, agar kita belajar dari kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhr -‘Alaihimassalam- tentang hikmah yang luar biasa dari setiap gerak dan diam, kematian dan kehidupan, pemberian dan penahanan.

Agar kita melesat ke depan bersama Dzul Qarnain, dengan penguasaan sebab sebab kemajuan, dengan mengakui hukum hukum Allah pada alam ini, dengan menggunakan ilmu ilmu ini untuk membawa kebaikan kepada seluruh manusia.

Akhirnya..
Siapa yang tidak mengambil manfaat dengan sebaik-baiknya dari “Gua”nya, lalu ia menyia nyiakan ajaran Agama Islam, ia tidak taat kepada Allah, ia membangkang dan takabbur, maka sungguh kerugian dan kehancurannya tidaklah merupakan kejutan, karena ia tidak peduli terhadap ancaman yang telah disampaikan oleh Allah:

“Katakanlah: “Apakah kami akan sampaikan kepadamu tentang orang orang yang paling rugi dalam pekerjaannya?”….” dst. QS: AL-KAHFI: 103

Semoga tulisan ini memotivasi kita untuk mentadabburi Surah Al-Kahfi dan menghubungkannya dengan kondisi kehidupan yang mirip “Gua” yang kita lalui saat ini. Teriring do’a semoga bala’ ini segera dihilangkan oleh Allah dengan iman kita yang semakin dikuatkan oleh Allah, dengan kehidupan yang semakin diberkahi oleh Allah. Semoga kita dikaruniai oleh Allah husnul khatimah. Amin.

https://www.portal-islam.id/2020/04/mengapa-allah-kembalikan-kita-ke-al.html

(Visited 117 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account