Pemimpin Tertinggi Adalah Presiden , Seharusnya Komandoi Penanggulangan Corona Dengan Tegas !!

Pemimpin Tertinggi Adalah Presiden , Seharusnya Komandoi Penanggulangan Corona Dengan Tegas !!

Pemimpin Tertinggi Adalah Presiden , Seharusnya Komandoi Penanggulangan Corona Dengan Tegas !!

Presiden Jokowi terlihat tidak memiliki mitigasi yang jelas, plin plan dan bingung. Aneh, padahal untuk melawan corona harus satu komando.











By : Eneng Humaeraoh

Penyebaran virus corona sudah tidak dapat dibendung lagi, pekerja medis harus membayar mahal dengan kematian para dokter terus berguguran. Dibanding Negara-negara lain, Indonesia merupakan yang tertinggi jumlah dokter yang meninggal karena terpapar corona. Terlalu semrawut mekanisme dalam menanggulangi wabah ini.
Jakarta, dinyatakan epicentrum corona. Gubernur Anies berhendak melakukan karantina wilayah dengan melakukan penutupan transportasi baik masuk atau keluar Jakarta, lockdown. Beberapa daerah lain sudah melakukan lockdown untuk memutus mata rantai penyebaran wabah. Namun terjadi kontroversi kebijakan Anies dengan Pusat tidak dalam satu komando, apalagi lockdown Jakarta dibatalkan LBP. Menyedihkan, nyawa berjatuhan, 283 orang warga DKI yang meninggal karena corona. Mereka dimakamkan dengan protokol Covid-19.

Presiden Jokowi terlihat tidak memiliki mitigasi yang jelas, plin plan dan bingung. Aneh, padahal untuk melawan corona harus satu komando. Komando tertinggi ada ditangan presiden. Tetapi presiden tak mampu menjadi komandan dalam melawan wabah ganas. Dengan sangat alot Presiden menetapkan status Darurat Kesehatan Masyarakat terkait pandemi Covid-19. Yang anehnya, setadinya akan diberlakukan Darurat Sipil, lalu batal dan memilih Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Presiden juga menerbitkan Perppu no. 1 tahun 2020 dan PP no. 21 tahun 2020. Dengan dua peraturan baru itu, Jokowi meminta agar kepala daerah tidak membuat kebijakan sendiri tanpa koordinasi. Bersamaan itu pemerintah akan menggunakan pendisplinan hukum. Polisi akan membubarkan kerumunan massa.

Baca juga:  Faizal Assegaf Terus-terusan Fitnah PKS, Netizen Geram!

Apa yang terjadi? Polisi membubarkan kerumunan masa yang sedang hajatan, atau kegiatan lain yang melibatkan masa. Lalu viral larangan tidak boleh mudik dan tetap berada pada wilayah karantina. Kontroversi lainnya mengenai bantuan pemerintah mengenai cicilan kredit, bantuan PLN, bantuan bahan pangan untuk warga yang dikarantina masih belum ada kejelasan.

Tetapi kontroversi dengan itu Menkumham Yasonna membeberkan data perlintasan WNA tahun 2020 sebanyak 722.000 orang, itu WNA dari sepuluh Negara, dan tertinggi dari China sebanyak 188.000, hal ini disampaikan dalam Rapat Kerja Komisi III yang berlangsung melalui teleconference, Rabu (1/4). Tidak ada ketegasan pemerintah terhadap keluar masuknya TKA dalam keadaan wabah yang semakin merebak dan ganas. Dan lebih menjengkelkan pembangunan ibukota baru terus berjalan, padahal itu tidak urgent dalam keadaan seperti ini.

Jika presiden tidak memiliki sikap tegas dan jelas maka penanggulangan bencana wabah dapat dipastikan gagal. Dan jangan menyesal apabila akan semakin banyak asset bangsa yang mati terpapar virus ganas corona. Sikap presiden dengan para Mentri Kabinet Jokowi tidak satu komando. Hal ini tentu membuat public semakin bingung, apa maunya pemerintah dalam menghadapi darurat corona. Presiden jelas terlihat bingung.

Apabila karantina wilayah sudah merata pada seluruh wilayah, maka roda ekonomi akan mati. Pasokan pangan mulai menipis, harga melambung tinggi, tidak ada income. Hanya sebagian kecil masyarakat yang bisa bertahan dalam situasi genting, sedang sebagian besar lainnya kekurangan bahan makanan. Pemegang kartu sembako? lalu sebagian besar yang lainnya bagaimana? Colaps!

Pak presiden, bapak harus mendengarkan apa kata rakyat, kebijakan bapak harus jelas dalam menangani corona, jangan plin plan, harus satu komando. Tertibkan para buzzer dan mentri yang berbeda pandangan. Aksi-aksi yang dilakukan di lapangan tentu tak akan bisa bertahan lama, mereka akan lelah jika tingkat infeksi terus meningkat, jumlah dokter semakin sedikit, relawan juga pada meninggal. Sekuat apa saudara saudara kita bisa bertahan di lapangan tanpa kebijakan? Jika tidak bisa ditekan laju penyebaran wabah maka tiba masanya akan colaps, kelelahan, kelaparan bahkan banyak yang mati. Itulah puncak wabah. Jika itu terjadi maka masyarakat akan menjadi brutal, terjadi penjarahan dan puncaknya chaos.

Baca juga:  Hasil Investigasi di Lingkungan Pendidikan Jatim: Siswa Lamongan Tidak Pernah Menulis Surat ke Ahok

Tentu bapak tidak menginginkan hal ini terjadi bukan? Maka ambil komando ditanganmu. Tertibkan para pengacau yang selalu membuat narasi keliru dan mengacaukan dan mengganggu konsetrasi orang bekerja. Para mentri segera satu komando dibawah petunjuk panglima tertinggi di Negara ini. Kebijakanmulah yang akan menyelematkan bangsa ini.

(Visited 35 times, 1 visits today)

Cinta Rahwana

leave a comment

Create Account



Log In Your Account