Cheat

Cheat

Oleh : Tere Liye

Jika kalian suka main game online, maka sejago apapun kalian mainnya, kalau di game tersebut ada fasilitas membeli peralatan, senjata, skin, dll, maka mudah sj kalian kalah sama pemain game online yang rela mengeluarkan uang.

Mereka bisa naik level dari 0 jadi 99 hanya dalam waktu semalam. Sim salabim. Mendadak punya senjata paling bagus, euipment paling bagus, pakaian paling bagus, semua paling bagus. Bisa protes? Tidak. Karena game online memang didesain agar pemainnya tergoda belanja. Bagi pemain gratisan, mau protes, komplain, yeah, silahkan nikmati apa-adanya. Apakah mengeluarkan uang sungguhan itu cheat? Tidak. Dilindungi malah sama developer game-nya. Disayang2 malah.

Itu di dunia online, alias dunia maya.

Nah, di dunia nyata, situasi yang sama juga bisa terjadi. Ngeselin lihatnya, saat ada orang yang punya uang, mendadak bisa “naik level” dalam dunia nyata. Mendadak punya semua, terlihat hebat, dll. Tapi kabar baiknya, jika itu sebuah kompetisi, sorry, kalian tidak bisa cheat seperti ini.

Sepakbola misalnya. Sejak lama situasi ini jadi polemik. Sebuah klub sepak bola antah berantah, tidak terkenal, tidak punya sejarah panjang, mendadak dibeli oleh pemilik tajir melintir, dalam ‘semalam’, wush itu klub bola berubah menjadi sangat menakutkan. Membeli pemain2 top, merekrut pelatih top, staf, manajemen terbaik. Lantas tropi mulai mengalir. Apakah ini cheat?

Syukurlah, ada yang mau memikirkan polemik ini secara serius, lantas tiba pada kesimpulan, itu cheat. Curang. Tidak adil bagi klub lain yang memang berjuang keras membentuk tim terbaik. Kasihan tim lain yang susah payah mengumpulkan bakat2 terbaik, dan proses panjang yang harus dilalui barulah terbentuk tim yang kuat. Tapi sebelum tiba di sana, mari kita bahas dulu sumber penghasilan klub.

Ada empat sumber penghasilan klub sepakbola:

  1. Hak siar televisi. Wah, ini sadis angkanya. Liga Inggris, kontraknya setahun bisa 28 trilyun. Lantas dibagi2kan ke klub. Klub big four bisa dapat 2,6 trilyun (Liverpool, Manchester City), klub strip paling bawah dapat ratusan milyar.
  2. Tiket penonton. Sekali menggelar pertandingan, klub dengan stadion berkapasitas 50.000 penonton, jika penuh, bisa menangguk uang minimal 25 milyar (asumsi harga tiket 500.000 rupiah). Kalikan setahun ada 19 pertandingan liga sebagai tuan rumah, plus liga champions, dll, dll. Uangnya bisa trilyunan juga.
  3. Sponsor. Ini juga empuk. Pasang logo di kaos, jadi duit. Pasang logo di stadion, duit. Bahkan pasang logo mungil saja jadi duit. Secara total, klub yang punya fans besar, trilyunan juga duitnya.
  4. Jersey dan merchandise. Wah, ini juga ngeri. Satu pemain top, kasonya bisa terjual 1 juta kaos dalam setahun. Kalikan harga jersey orisinal 1 juta, hitung sendiri uangnya. Tentu uang ini dibagi2 dulu dengan toko dan merk jersey tersebut. Dan tentu, hanya pemain macam Ronaldo, Messi yang bisa begini. Pemain di liga antah berantah, laku 10.000 kaos orisinal saja sudah oke banget.
Baca juga:  Antara dengkul dan kepala

Nah, dari keempat sumber penghasilan ini, operasional sebuah klub bisa dijalankan. Karena memang mengelola klub hari ini muahal. Gaji pemain misalnya, menggaji 11 pemain top itu bisa ratusan milyar per bulan, belum skuad cadangannya. Setahun trilyunan totalnya. Juga biaya perjalanan, naik pesawat, dll. Gaji staf, manajemen, pun perawatan stadion. Belum lagi biaya kesehatan, pemulihan pemain, dll. Bejibun kebutuhannya. Dan yang paling menguras uang adalah: MEMBELI pemain top.

Hari ini, nyaris tidak ada klub top yang 100%, ah, jangankan 100%, 30% saja pemainnya hasil binaan sendiri. Tidak ada. Semua beli. Ada memang 2-3 pemain yang binaan klub sendiri, dari usia anak2 6 tahun sudah gabung klub, terus masuk U18, dstnya, terus masuk ke tim inti. Tapi itu hanya 2-3 pemain saja. Sisanya beli. Dan itu muahal.

Klub yang sehat, fair, maka dia pintar. Misalnya, dia beli pemain di harga 40 juta dollar (560 milyar), main 2-3 tahun, jadi pemain top dunia, eh dijual 100 juta dollar (1,4 trilyun). Ini klub yang jenius. Atas penjualan itu, dia beli lagi 2-3 pemain lagi. Klub ini tidak akan pernah kekurangan uang, karena mereka pintar jual-beli pemain. Tahu kapan seorang pemain dijual saja, untuk digantikan pemain baru. Tapi ada klub yang sebaliknya. Kerjaannya beliii melulu.

Apakah membeli pemain2 top itu berpengaruh langsung kepada prestasi tim? Tentu saja. Itu jalan pintas. Dapat pemain top yang segera klik ke permainan itu sama saja seperti dapat tenaga baru. Kabar buruknya, harga pemain semakin gila. Dulu tidak terbayang ada pemain dihargai 1 trilyun. Macam Zidane, dkk, hari ini, bahkan 3 trilyun pun ada jika klub mau menebusnya.

Baca juga:  Jokowier, pedagang pengaruh, Machiavelian, Rasialis dan Islamophobia

Sayangnya, banyak klub yang nafsu tinggi, eh tenaga kurang. Pengin beli pemain2 top terus tiap musim, eh, uangnya tidak ada. Tekor. Tapi ssst, masih ada solusinya, YAITU pemilik klub menalangi semuanya. Namanya juga pemilik klub, kalau dia mau, trilyunan uang bisa dia berikan demi klub bola. Ada pemilik klub dengan harta ratusan trilyun, maka nalangin trilyun bagi dia cuma kayak beli mainan saja. Itulah yang terjadi sekarang. Banyak klub2 dibeli orang tajir melintir.

Apakah ini curang? Iya. Itu tidak fair. Lama2, sepakbola kehilangan kompetisinya kalau begini. Akhirnya banyak2an uang saja. Maka organisasi sepakbola mulai merilis peraturan tentang ini. Eh, kamu, kamu, tidak boleh pemilik klub membelanjakan uang semaunya. Tapi kan itu uangnya sendiri, bodo amat. Tetap tidak boleh. Harus ada aturan mainnya.

Lantas apakah semua klub berlaku jujur? Patuh atas peraturan itu? Nah, itu yang jadi menarik. Karena banyak cara ngakalin peraturan ini. Misalnya, sponsorship. Sebuah perusahaan besar (milik pemilik klub) ngasih 100 juta dollar. Kan yang ngasih perusahaan, bukan pemilik klub. Susah membuktikan hal ini. Diam2 transaksinya terjadi. Kalau masuk pengadilan, wah, rumit membuktikannya, karena barang bukti biasanya hasil retasan, atau tidak sah, maka buktinya otomatis tdk bisa dipakai.

Tulisan ini tidak sedang dalam rangka menyebut2 klub. Momennya memang saat Manchester City terkena sanksi, tapi itu pas momennya saja. Toh, boleh jadi, klub2 lain juga melakukannya–hanya saja belum ketahuan. Dari dulu, klub itu memang banyak yang curang. Ada yang terlibat menyuap wasit. Ada yang diam2 membajak pemain klub lain. Namanya juga pengin menang. Bahkan suporternya ikutan curang. Ada loh suporter yang tega berisik di depan hotel tempat pemain lawan menginap. Biar pemain tidak bisa tidur.

Nah, tulisan ini dibuat untuk edukasi saja. Bahwa, di dunia ini, hanya karena kita punya uang banyak, bukan berarti kita bisa memenangkan semua pertandingan. Ada yang tidak bisa dibeli dengan uang. Maka semoga, industri sepakbola modern tetap kompetitif, seru, dan menyenangkan.

Tidak ada tempat untuk curang.

(Visited 29 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account