CORONA VIRUS (NCOV) / MERS-COV…

Uncategorized
Spread the love

Oleh : Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Asy Syaikh Abdurrozaq Al Badr hafidzahullah

Banyak dijumpai pada majlis para manusia pada akhir-akhir ini pembicaraan tentang suatu penyakit yang meresahkan dan menakutkan dari tersebarnya wabah ini, antara canda dan nasehat serta banyak motif niat mereka dalam memperbincangkan akan hal ini.

Yang menjadi kewajiban bagi seorang muslim pada setiap keadaan dan waktu, termasuk tatkala munculnya suatu kejadian dan musibah hendaknya ia bertakwa dan berpegang teguh kepada Allah Ta’ala, dan sebaiknya niatan dalam berbicara, berdiskusi untuk menanggulangi akar masalah sesuatu hendaknya dibangun di atas asas yang syar’i, pondasi yang dilandasi diatas khouf (rasa takut) kepada Allah Ta’ala dan muroqobah(pengawasan) -Nya.

Di sini ada enam point yang berkaitan tentang kejadian ini, yang akan memberikan gambaran bagi kehidupan manusia di hari-hari yang dirasa amat penting ini:

  1. Kewajiban bagi seorang muslim hendaknya dalam segala keadaannya berpegang teguh kepada Allah Ta’ala, bertawakal, berkeyakinan bahwa segala perkara semuanya di atas kuasa Allah, sebagaimana difirmankan, مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS.At-Taghabun: 11)

Segala urusan berada pada gengaman tangan Allah semata, sesuai pengaturan dan penakdiran-Nya, jika Allah berkehendak pasti terjadi, dan apapun yang tidak dikehendaki Nya tidak akan pernah terjadi, tiada sesuatu penjagaan kecuali hanya datang dari Allah semata, sebagaimana difirmankan,

قُلْ مَن ذَا الَّذِي يَعْصِمُكُم مِّنَ اللَّهِ إِنْ أَرَادَ بِكُمْ سُوءاً أَوْ أَرَادَ بِكُمْ رَحْمَةً وَلَا يَجِدُونَ لَهُم مِّن دُونِ اللَّهِ وَلِيّاً وَلَا نَصِيراً

“Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah”. (QS Al-Ahzab: 17)

Allah Azza wa Jalla berfirman,

قُلْ أَفَرَأَيْتُم مَّا تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ

“Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmatNya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nyalah bertawakkal orang-orang yang berserah diri.” (QS Az-Zumar: 38)

Allah Tabbaroka wa Ta’ala berfirman,

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِن رَّحْمَةٍ فَلَا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلَا مُرْسِلَ لَهُ مِن بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorangpun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorangpun yang sanggup melepaskannya sesudah itu. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS.Faathir: 2)

Di dalam hadist, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Ketahuilah jika sekiranya umat ini berkumpul untuk memberikan sesuatu manfaat, maka tidak akan membawa kepadamu sesuatu manfaat kecuali bila telah Allah tuliskan bagimu, demikian pula sekiranya umat ini berkumpul untuk memberikan mudhorot, maka tidak akan sampai padamu sesuatu mudhorot kecuali apa yang telah Allah tuliskan untukmu, telah terangkat pena, dan telah kering lembaran takdir “.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Allah telah menuliskan takdir para makhluk hidup semua sebelum diciptanya langit dan bumi sebelum lima puluh ribu tahun“.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya pertama kali yang Allah ciptakan adalah sebuah pena, dan Allah perintahkan agar menulis, maka ia berkata, ‘Apa yang aku tulis?’, maka Allah perintahkan, ”Tulis takdir segala sesuatu hingga tegak hari kiamat“.

Baca juga:  David versus Goliath

Maka sepantasnya seorang muslim agar menyerahkan segala urusannya kepada Allah Ta’ala, dengan rasa berharap, bersandar, bertawakal, dan tidak mencari kesembuhan, keselamatan, kesehatan kecuali hanya kepada Allah Tabaroka Wa Ta’ala, sebagaimana difirmankan,
وَمَن يَعْتَصِم بِاللّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus”. (QS Al Imran: 101)

  1. Wajib bagi setiap muslim agar menjaga hak-hak Allah Ta’ala, dengan mengerjakan ketaatan, menjalankan perintah dan menjauhi larangan, sebagaimana wasiat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Ibnu Abbas, ”Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah Allah, niscaya engkau jumpai pertolongan Allah ada di hadapanmu”.

Maka menjaga perintah-perintah Allah dengan megerjakan ketaatan dan menjauhi larangan akan menjadi sebab keselamatan dan penjagaan Allah di dunia dan akhirat, dan sekiranya ia mendapat musibah atau petaka, maka itu tidak menjadikannya kecuali semakin tinggi derajatnya di sisi Allah, sebagaimana disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ”Mengherankan perkara seorang mukmin, setiap urusannya pasti suatu kebaikan baginya, dan hal itu tidak akan terjadi kecuali hanya kepada orang mukmin, jika ia mendapat sesuatu yang menyenangkan dan ia bersyukur, maka ini kebaikan untuknya, dan jika ia ditimpa sesuatu petaka dan ia sabar, maka ini kebaikan baginya“.

Maka bagi seorang yang mukmin, segala apa yang menimpa dirinya dari sesuatu yang menyenangkan maupun petaka adalah suatu kebaikan baginya dan akan mengantarkan kepada kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali hanya kepada seorang yang beriman.

  1. Sesungguhnya syariat islam datang dengan memberikan anjuran agar berusaha dan menggapai sebab-sebab dan upaya untuk mengobati penyakit, daengan mencari obat dan penawar hal ini tidak berlawanan dengan sifat tawakal kepada Allah Ta’ala.

Pengobatan yang dijumpai dalam syariat islam mencakup dua unsur, pengobatan yang bersifat pencegahan sebelum datangnya suatu penyakit, dan pengobatan yang bersifat penyembuahan tatkala terkena suatu penyakit, dan keduanya dianjurkan dalam syariat islam.

Disana pula terdapat pondasi-pondasi penyembuhan dan penanggulangan, dan pondasi pengobatan sehingga seorang muslim dapat menggapai keselamatan dan kesembuhan baik di dunia dan akhirat.

Dan barang siapa menelaah kitab “Tibbun Nabawy”, karangan ‘Allamah Ibnul Qoyyim rahimahullahu, niscaya akan menjumpai sesuatu yang sangat mengherankan dari syariat islam dan apa yang shohih dari apa yang disabdakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Diantara pengobatan pencegahan adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barang siapa yang di pagi hari ia memakan tuju korma ‘ajwah, maka ia tidak akan terganggu pada hari itu oleh racun dan sihir”.

Diriwayatkan oleh Utsman Ibnu Affan radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Tidaklah seorang hamba mengucapkan di setiap pagi dan setiap sore, “BISMILLAHILLADZI LA YADHURRU MA’ASMIHI SYAI’UN FIL ARDHI WALAA FISSAMAA’I WAHUWAS SAMI’UL ‘ALIM” tiga kali maka tidak akan membahayakan pada dirinya suatu apapun”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa membaca dua ayat terakhir dari surat Al Baqoroh pada suatu malam, niscaya ia akan terbebas“. Yaitu ia terbebas dari setiap keburukan dan kejelekan dan kejahatan.

Dari sahabat Abdullah ibnu Hubaib radhiyallahu’anhu ia berkata, ”Pada suatu malam disaat hujan lebat lagi gelap gulita kami keluar rumah mencari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam agar sholat dengan kami, maka kamipun menjumpainya, maka beliau berkata, ”Katakan!”, maka aku tidak mengatakan sesuatu, kemudian beliau berkata, ”Katakan!”, maka aku tidak mengatakan sesuatu, kemudian beliau berkata lagi, “Katakan!”, maka aku bertanya, “Apa yang harus kukatakan?”, maka beliau bersabda, ”Katakan: QUL HUWALLAHU AHAD, dan MUAWWIDZATAIN (Al-Falaq dan An-Nas) di kala pagi dan petang tiga kali, niscaya akan menjagamu dari segala sesuatu”.

Dari hadist Abdullah ibnu Umar radhiyallahu’anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berpesan kepadanya agar jangan sampai lupa berdoa pagi dan petang dengan doa ini, ”ALLAHUMMA INNI AS’ALUKAL ‘AFIYATA FID DUNYA WAL AKHIROTA, ALLAHUMMA AS’ALUKAL ‘AFWA WAL ‘AFIYATA FID DIINY WAD DUNYAYA WA AHLI WA MAALI, ALLAHUMMA USTUR ‘AUROOTI WA ‘AMIN ROU’ATI, ALLAHUMMA IHFADZNI MIN BAINI YADAIYA WA MIN KHOLFI WA ‘AN YAMINI WA ‘AN SYIMALI WA MIN FAUKI WA ‘AUDZU BI ‘ADHOMATIKA ‘AN UGHTALA MIN TAHTI“. Dalam do’a ini terkandung permohonan perlindungan secara sempurna dari berbagai sisi.

Baca juga:  Ibu Sri Mulyani, berterusteranglah pada rakyat. Apa yang sebenarnya sedang terjadi pada keuangan negeri ini?!

Adapun dalam pengobatan penyembuhan, telah banyak dijumpai petuah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan petunjuk yang beraneka ragam yang terdapat dalam sunnah-sunnah yang panjang, tidak memungkinkan untuk diulas disini, sebagai isyarat bisa kaliyan telaah kitaab “Za’dul Ma’ad”, karya Ibnul Qoyim.

  1. Kewajiban bagi seorang muslim agar tidak mudah hanyut dan terlena dengan kabar-kabar dusta, karena sebagian manusia dalam situasi seperti ini menyebarkan sesuatu yang tidak memiliki sandaran kebenaran dan kenyataan yang menimbulkan keributan, keresahan dan kekawatiran yang tidak mendasar wujudnya. Maka sebaiknya seorang muslim tidak hanyut dan terlena dengan kabar burung yang tak berujung, akan tetapi menepisnya dengan kesempurnaan iman, yakin, tawakal kepada Robb Ta’ala.
  2. Sesungguhnya musibah dan petaka yang menimpa seorang muslim baik kepada dirinya, keluarganya, anaknya, hartanya, perdagangannya, dan semisalnya, jika ia menerimanya dengan lapang dada, sabar, mencari pahala Allah, niscaya akan menambahnya ketinggian derajat di sisi Allah Ta’ala sebagaimana difirmankan,

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوفْ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الأَمَوَالِ وَالأنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ , الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُواْ إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ . أُولَـئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُولَـئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” . Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al Baqoroh: 155-157).
Allah ta’ala memberikan ujian pada hamba agar mendengarkan keluhan, doa, permohonan, sabar, ridho, terhadap putusan-Nya dari para hamba. Maka Allah melihat hambanya tatkala memberikan cobaan agar diketahui diantara mereka mana yang khiyanat diantara mata-mata mereka dan apa yang tersembunyi dalam dada, sehingga memberikan balasan pada setiap hamba sesuai apa yang ia niatkan, maka sebaiknya tatkala mendapat musibah hendaknya ia meniatkan agar mendapat pahala Allah, dan menyambutnya dengan penuh kelapangan dan kesabaran hingga meraih pahala orang yang bersabar, dan jika ia diberikan ‘afiyah hendaknya memuji Allah hingga mendapat pahala orang yang bersyukur.

  1. Sesungguhnya musibah yang paling besar adalah musibah agama, yang ini merupakan ujian yang paling besar di dunia dan akhirat, yang akan membawa kepada puncak kesengsaraan yang tak berujung. Maka tatkala ia diberikan ujian pada tubuhnya , hartanya hendaknya mengingat akan musibah agama ini, dan memuji Allah atas selamatnya agamanya, sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam ‘Syuabul-Iman’, dari Syuraih Al-Qo’dhi rahimahullah ia berkata, ”Sesungguhnya aku ditimpa musibah dan aku memuji kepada Allah empat pujian, Aku memuji Allah atas ujian yang tidak lebih besar dari yang menimpa ini, Aku memuji Allah tatkala aku diberikan kesabaran atasnya, Aku memuji Allah karena diberikan taufik mengucapkan kalimat Istirja’ hingga mengapai pahalanya, dan Aku memuji Allah karena musibah yang menimpaku bukan musibah dalam agama”.

Dan aku memohon kepada Allah Ta’ala agar memberikan kepada kita perlindungan dan penjagaan, dan mengaruniai kita ampunan dan keselamatan dalam urusan agama serta dunia, dalam keluarga kita dan harta kita, sesungguhnya Dia adalah Dzat Yang Maha Dekat Lagi Mendengar Lagi Mengijabahi.

📝

🔊 [ 📖 ] BBG Al-Ilmu: https://bbg-alilmu.com/archives/7439

(Visited 70 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Specify Facebook App ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Facebook Login to work

Specify Google Client ID and Secret in Super Socializer > Social Login section in admin panel for Google Login to work

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *