Pelacur Demokrasi

Oleh: Abu lintang

Nyawa seorang muslim lebih berharga daripada dunia dan seisinya

لَزَوَالُ الدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللَّهِ مِنْ قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِغَيْرِ حَقٍّ

“Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.”
(HR. Nasai, dan dishahihkan al-Albani).

Indonesia…
Negara mayoritas muslim terbesar di dunia menjadi sorotan internasional. Dari urusan pemilu serentak hingga NKRI yang retak.

Hampir 700lebih petugas pelaksana pemilu “tewas” tanpa ada penyelidikan tanpa ada outopsi, nyaris tak ada harganya nyawa mereka ,sedang mereka berjuang membela demokrasi dalam pelaksanaan kegiatan pemilu.
NEGARA TAK MENGHARGAI.

Setelah pemilu usai, terbuka ruang informasi publik tentang kecurangan pemilu, dari Vidio amatir warga sampai Televisi nasional dan swasta. Dimulailah kericuhan, demonstrasi dan berjatuhan puluhan nyawa melayang.
NEGARA TAK PERDULI.

Duka Nusantara terus menerus terjadi, kekerasan kelompok bersenjata di tanah PAPUA berlanjut. 31 pekerjaan trans Papua di bantai, di habisi dan publikasi pada dunia internasional. LAGI LAGI PEMERINTAH DIAM.

Baca juga:  Mengembalikan Kejayaan Indonesia (Make Indonesia Great Again)

konflik bersenjata terus menerus tanpa ada upaya tegas menghentikan, padahal negara ini punya ratusan ribu prajurit yang digjaya , namun kebungkaman istana dan Senayan kembali menelan korban.
Terdeteksi 188 masyarakat tak berdosa di Nduga binasa, demo anarkis menewaskan polisi dan tentara, masyarakat bersuku suka di Wamena mengungsi meninggalkan harta benda dan sanak saudara yang terbunuh oleh pemberontak.
NEGARA TANPA SUARA.

Belum lagi reda konflik di Papua. TANAH Borneo dan Maluku berduka, jutaan warga, ribuan balita terkena ISPA efek karhutla, dari ringan berat hingga ada yang meninggal dunia. Tanah Maluku di guncang gempa, ribuan pengungsi, puluhan meninggal ratusan terluka, kembali media alpa meliput peran NEGARA yang sedang berpesta.

Jakarta sibuk dengan agenda kekuasaan, dari pelantikan anggota dewan yang katanya terhormat, hingga persiapan pelantikan paduka yang mulia Presiden republik Indonesia. Suguhan seremonial pejabat yang ingin menjabat atau pejabat yang menjabat lagi. Memuakan, koalisi,kongsi, oposisi semua bulshit karena melupakan mereka yang telah menghantarkan ke jabatan masing masing.

Baca juga:  Pembangunan jalan tol adalah proses yang panjang dan rumit, bukan sekedar gunting pita dan selpih

Diskusi publik di layar kaca tak satupun yang mengarah pada solusi bagaimana rakyat yang terbunuh sia sia mendapat hak haknya, tak ada satupun statement pejabat negara yang mengklaim bertanggung jawab atas rentetan kejadian pilu anak bangsa.
Bahkan tak ada keprihatinan dari ucapan panglima tertinggi NKRI atas terbunuhnya putra terbaik bangsa, dari kematian remaja,mahasiwa dan abdi negara atas konstalasi politik dan pesta demokrasi berdarah.

DEMOKRASI BERDARAH melahirkan pemimpin yang mati rasa , pejabat pendusta, penjahat demokrasi yang tak akan pernah peduli pada Rakyatnya. Pelacur politik berkumpul bermufakat menguasai hampir semua jabatan pengambil kebijakan, dan ragam drama serta jualan isue menjadi modal mereka meraih simpati rakyat Indonesia yang masih berfaham feodalisme.

HARUSKAH RAKYAT DIAM??

(Visited 13 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account