Mahasiswa Sang Revolusioner

Mahasiswa Sang Revolusioner

Mahasiswa Sang Revolusioner

Oleh : @ Dr. Syahganda Nainggolan
_(Sabang Merauke Institute)_

Telah saya sebutkan dalam beberapa tulisan saya yang bisa di _googling_ tentang mahasiswa, bahwa mereka adalah _avant garde_ alias garda terdepan kaum revolusioner.

Hariman Siregar, legendaris dalam gerakan mahasiswa, menyebutkan bahwa kekuatan mahasiswa adalah _”deep feeling”_ tentang nasib bangsanya. Jika situasi bangsa memburuk maka mereka akan tersadarkan.

Saya sendiri harus menambahkan bahwa kekuatan mahasiswa terletak pada idealisme mereka, independensi dan kemampuan kekinian mereka menggunakan _big data_ dan _IT_ dalam merespon situasi yang ada.

Tesis ini saya kemukakan untuk menjawab kegelisahan banyak pihak yang bingung apa dan kemana arah gerakan mahasiswa saat ini. Pertanyaan ini muncul karena terkesan tiba2 saja gerakan mahasiswa ini menguasai seluruh ruang publik dan semakin radikal.

Dalam banyak analisa merujuk pada masa lalu, memang gerakan mahasiswa biasanya bertahap dari tingkat kampus ke tingkat kota baru ke tingkat nasional di Jakarta (DPR dan Istana). Namun, anehnya, sekarang sudah ada pada semua tingkatan.

Professor emeritus Shoshana Zuboof dari Harvard University dalam bukunya _”The Age of Surveillance Capitalism”_, 2019, justru mengatakan era ini ditandai dengan _”the unprecedented”_, sesuatu yang tidak di-sangka2 muncul.

Jadi memang sejarah di masa lalu tidak harus terjadi dalam skenario yang sama di masa kini. Gerakan mahasiswa saat ini mampu datang dengan cepat menguasai ruang publik. Itu fakta.

Memang dari segi tema, _spectrum_ tuntutan terkesan bervariasi. Namun, sasaran mereka sebenarnya jelas, melawan pada pusat/elit kekuasaan zalim. Dalam hal ini sementara adalah DPR RI, yang dianggapnya melumpuhkan KPK, via revisi UU KPK. _Trigger_ undang2 KPK ini adalah permulaan. Namun, teriakan revolusi sudah terjadi di beberapa daerah, seperti demo mahasiswa hari ini di Malang, dan teriakan *Jokowi turun*, sudah diteriakkan di Makassar.

Baca juga:  PRABOWO PEMBAYAR HUTANG TERBAIK DI DUNIA (BAGIAN 2)

Mahasiswa yang diduga “tidur” selama ini, lalu terkesan tiba2 bergerak, kemudian dicurigai adanya pihak2 yang menunggangi. Pada saat bersamaan, Moeldoko, ketua KSP mengeluarkan pernyataan bahwa ada upaya kelompok2 tertentu menggagalkan pelantikan Presiden Jokowi, 20 Oktober mendatang.

Namun, tentu saja dugaan dan kecurigaan terhadap mahasiswa seperti itu kurang beralasan. Gerakan mahasiswa adalah gerakan yang sifatnya historis. Sehingga kesadaran historis itu mengantarkan klaim mahasiswa untuk eksis sebagai pelaku kontrol sosial. Dalam perspektif kesadaran kelas, dalam analisa kaum _Marxian_, mahasiswa tentu berpikir tentang _previlage_ itu, bahwa mereka harus menunjukkan eksistensi dan eksklusifitasnya sebagai sebuah kelompok sosial.

Koeksistensi antara munculnya gerakan mahasiswa saat ini dengan adanya kelompok-kelompok sosial yang dituduhkan Moeldoko, tentu saja dapat terjadi. Di Hongkong pun, misalnya, gerakan mahasiswa Hongkong selama 12 minggu terus menerus, bersinergi antara idealisme mahasiswa Hongkong bertemu dengan kekuatan kapitalis Hongkong dan kelompok2 Triad yang anti hukum ekstradisi RRC. Namun, idealisme mahasiswa Hongkong tetap berada pada jalur idealisme alias jalur revolusi.

Hanya saja dugaan dan kecurigaan itu tidak mampu mereduksi kesadaran politik mahasiswa saat ini. Mahasiswa sebagai kelas menengah sadar (tercerahkan), tentu selama bertahun-tahun belakangan ini sudah menyerap problema sosial yang ada. Secara kesadaran, semua data dan peristiwa yang diproduksi sistem sosial yang timpang, akan mengakumulasi dalam kegelisahan jiwa-jiwa muda mereka. Kasus kebakaran hutan dan asap yang mematikan yang kesannya dianggap sepele sejak bertahun tahun, kasus-kasus terkait kemiskinan buruh dan sulitnya lapangan kerja, kasus rasisme di Papua, ekonomi yang memburuk disertai hutang luar negeri yang terus membengkak, penguasaan kekayaan di segelintir elit dan terakhir kasus revisi UU KPK yang ganjil prosesnya, telah menyentuh sanubari jiwa-jiwa muda ini. Maka, ketika situasi politik kekuasaan _an sich_ seperti pilpres mereda, mahasiswa punya kesempatan masuk ke ruang publik. Dengan demikian, gerakan ini adalah gerakan idealisme, gerakan moral dan revolusioner.

Baca juga:  Defisit Guru Dan Kebisuan Pemerintah

*Catatan Akhir*

Gerakan mahasiswa saat ini sudah kembali. Jogya, Surabaya, Malang, Bandung, Bogor, Makassar, Papua, Medan, Aceh, Riau, dlsb sampai Jakarta, telah ditandai gerakan mahasiswa. Berbagai kepentingan kelompok non mahasiswa berusaha, mungkin mencari keuntungan dari gerakan ini. Alias upaya penunggangan. Namun, mahasiswa bukanlah orang orang naif dan bodoh. Karena kekuatan mahasiswa adalah pada idealisme, independensi dan kemampuan mereka mengartikulasikan kepentingannya.

Ketika sudah di seluruh kota gerakan mahasiswa bergerak, maka mereka akan bergerak lama. Ini akan melewati batas2 siklus politik, seperti urusan pelantikan Jokowi nanti. Karena gerakan ini akan bersifat revolusioner, yang menggugat soal nilai _(value)_ atas sistem sosial kita yang rapuh. Saat ini DPR dikecam mahasiswa sebagai penjahat. Sebentar lagi akan menyasar juga pada eksekutif. Sehingga kemungkinan reformasi jilid dua akan terulang kembali.

Kita, di luar kekuatan2 mahasiswa, perlu memikirkan bagaimana kekuatan revolusioner ini menemukan jalannya dengan damai. Membangun dialog tanpa berniat menunggangi. Yakni dengan melihat mereka sebagai “moral force” dari bangsa kita yang sudah kehilangan moral.

Selamat datang gerakan mahasiswa, selamat datang kaum revolusioner.
🇮🇩

(Visited 29 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account