JLEBB Bangets!!! Dua Argumen ini Mementahkan dengan Mudah Klaim Pengusung Pakaian Nusantara

JLEBB Bangets!!! Dua Argumen ini Mementahkan dengan Mudah Klaim Pengusung Pakaian Nusantara

JLEBB Bangets!!! Dua Argumen ini Mementahkan dengan Mudah Klaim Pengusung Pakaian Nusantara

Entah apa niat para pengusung narasi-narasi sampah dengan mengangkat isu yang sebenarnya sudah lama tidak pernah jadi masalah. Narasi yang dimaksud adalah tentang menusantarakan pakaian terutama bagi kaum hawa dengan mengangkat kembali pakaian tradisional adat (Jawa) dan dipaksa (jika tidak ingin menggunakan kata “diperkosa”) menjadi klaim sebagai pakaian Nusantara.

Herannya, lagi-lagi mereka lebih senang berdebat diwilayah “bahaya” yang menunjukkan gugatan terhadap perintah Agama (Islam). Setelah perdebatan tentang “Kafir” yang dipaksa diganti dengan kata “Non Muslim”, pengharaman bagi penyebutan “Khilafah/Khalifah”. Hingga pemaksaan “melenyapkan” simbol-simbol Islam dan Negara Islam seperti “Bendera” bertuliskan kalimat Tauhid dan Bendera Palestina.

Pengusung-pengusung narasi-narasi yang terus menerus “menggugat” Islam tersebut memang mulai keterlaluan, untuk sebuah negara yang jelas-jelas mayoritas berpenduduk Muslim. Mereka tidak sungkan lagi menunjukan ketidaksenangannya pada Islam. Hingga celana cingkrang dan acara seperti Hijrah Fest pun tidak luput dari sasaran.

Kegeraman ini pula yang akhirnya membuat sosial media tidak pernah “adem ayem” seperti yang selalu jadi himbauan. Melawan para pengusung yang sudah dianggap “kebangetan” tersebut, setidaknya ada dua argumen yang sangat mudah mementahkan narasi tersebut. Pertama, apakah benar pakaian Nusantara itu seperti yang digambarkan yaitu berbebaya? Kedua sebaliknya, apakah benar pakaian yang disebut ala “Arab” seperti yang mereka gambarkan juga?

Untuk argumen pertama jelas bahwa pakaian Kebaya hanyalah sebagian kecil dari banyaknya pakaian Nusantara yang berkembang. Sebagian besar malah menunjukkan bahwa sejak beberapa abad lalu di Nusantara sebagian wilayah justru memakai pakaian “syar’i” yang menutup aurat para kaum wanitanya. Sebutlah pakaian tradisional NTB yaitu RIMPU. Menggunakan 2 bagian seperti sarung yang satu dipakai sebagai penutup bawah dan satu lagi dipakai sebagai penutup atas yang dibuat seperti Jilbab. Sementara diwilayah lain Nusantara dikenal baju KURUNG seperti di Sumatera Barat dan Aceh. Yang juga menutup aurat. Dan sebaliknya, banyak wilayah lain di Nusantara malah menampakkan aurat terbuka seperti bagian dada, apa ini akan di promote juga sebagai pakaian Nusantara?

Untuk argumen soal asal muasal pakaian yang mereka klaim sebagai “Pakaian Arab”, akun @DukeCondet menjelaskan secara gamblang bahwa asal pakaian Arab justru terkait dengan masa jahiliyah dimana saat itu perempuan sangat direndahkan. Dan saat Islam turunlah maka wanita diberi tempat terhormat dan ditinggikan. Bahkan saking dimuliakannya, Allah SWT sampai membuat satu Surah khusus buat kaum Perempuan yaitu An-Nisa yang artinya PEREMPUAN.


Mudah sekali kan untuk membantah kaum yang seakan membenci Arab yang dalam kenyataan sebenarnya perlu dipertanyakan apa iya mereka membenci Arab? Atau jangan-jangan malah membenci Islam? Semoga tidak.

Baca juga:  Dengan Dukungan PKB dan Gerindra, Lukman Edy dan Hardiyanto Mendaftar ke KPU Riau Malam ini

Dan ketimbang berlelah-lelah diri dengan narasi yang tidak banyak berfaedah, kenapa tidak mempertanyakan soal me-Nusantara-kan Indosat yang sejak lima tahun lalu dijanjikan pak Jokowi? Juga me-Nusantara-kan BUMN-BUMN yang tergadaikan pada asing agar kembali menjadi milik Indonesia?

Apa kalian terlalu lemah atau terlalu lelah?

DU, 18 Juni 2019

(Visited 108 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account