“Euphoria” pers nasional sehubungan dengan meninggalnya Bu Ani.

“Euphoria” pers nasional sehubungan dengan meninggalnya Bu Ani.

“Euphoria” pers nasional sehubungan dengan meninggalnya Bu Ani.

KETIKA PERS IKUT TIDAK ADIL KEPADA RAKYAT KEBANYAKAN

Oleh : Iramawati Oemar
•••••••

Sampai pagi tadi pemberitaan dan talk show yang ditayangkan media TV masih seputar wafatnya Ibu Ani Yudhoyono, mantan Ibu Negara selama 10 tahun. Sudah hari ketiga sejak Bu Ani berpulang, tayangan televisi nasional masih didominasi pemberitaan dan testimonial seputar beliau. Tidak berlebihan kiranya kalau saya sebut ini “euphoria” pers nasional sehubungan dengan meninggalnya Bu Ani.

Ada begitu banyak kematian dalam 1,5 bulan terakhir ini. Ya, 45 hari pasca 17 April 2019 setidaknya ada hampir 700 orang yang terlibat dalam penyelenggaraan Pemilu dan Pilpres, meninggal dunia, sementara ribuan lainnya terbarung sakit di berbagai rumah sakit atau dirawat oleh keluarganya di rumah. Ada hampir 10 orang lagi tewas dan meninggal pasca “kericuhan” antara aparat Brimob dengan masyarakat pada 21-22 Mei, sementara ratusan orang lainnya luka-luka dan sakit, serta puluhan orang lainya dinyatakan hilang, belum kembali ke rumah dan tak diketahui keberadaannya hingga saat ini. Hampir semua yang meninggal itu anak muda, bahkan 3 diantaranya bocah ABG yang masih di bawah umur.
Terakhir, ada 2 “orang besar” yang juga meninggal. Yang satu tokoh ulama, Ustadz Arifin Ilham, yang satu lagi tokoh nasional/istri mantan presiden, Ibu Ani Yudhoyono. Keduanya wafat tersebab kanker yang menggerogoti tubuhnya, dan keduanya juga wafat di negeri jiran karena tengah menjalani pengobatan disana.

Dari serangkaian kematian itu, pers jelas lebih tertarik mengulas berita kematian tokoh. “Orang besar”, kata imam besar masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar. Sementara kematian orang biasa, tidaklah menarik untuk dikupas lebih dalam.

Padahal, hampir 700 orang meninggal dalam kurun waktu satu bulan bukan disebabkan bencana alam atau wabah penyakit menular yang mematikan, seharusnya dari sisi pers adalah “good news” untuk diangkat. Bad news is a good news, bukankah itu kredo pers? Orang digigit anjing bukanlah berita, tapi anjing digigit orang itu baru berita. Ratusan orang meninggal karena wabah flu babi, itu wajar. Tapi ratusan orang meninggal karena “kelelahan” itu aneh! Sebab jaman Deandels membangun jalan Anyer – Panarukan ratusan kilo meter dengan mempekerjakan paksa kaoem priboemi yang harus bekerja siang – malam tanpa asupan makanan yang cukup, apalagi kandungan nutrisi yang memadai, itu saja tidak sedahsyat itu kematiannya. Jadi seharusnya kematian ratusan petugas KPPS, saksi, Panwas itu benar-benar punya “news value” untuk diangkat.

Baca juga:  Puasa itu luar biasa

Begitu pula kematian bocah-bocah SMP belasan tahun, berwajah kalem, bukan typical anak jalanan, bukan anggota gank motor yang suka berulah brutal di jalanan, yang meregang nyawa dalam keadaan tubuhnya babak belur bahkan dan yang hasil otopsinya menyatakan kematiannya tersebab peluru tajam, seharusnya ini menarik bagi media massa untuk dijadikan obyek liputan investigatif. Kondisi jenazah yang umumnya penuh lebam dan bonyok, sangat kontras dengan 200an “perusuh” yang dipamerkan Polri dalam konperensi pers resmi, yang mana mereka tubuhnya penuh tattoo, seperti ciri khas residivis. Ironisnya para “perusuh” itu badannya yang rerata dempal tampak baik-baik saja, tidak terlihat ada lebam-lebam, mukanya tidak bonyok. Bahkan Andri Bibir yang mengaku korban pengeroyokan aparat, hanya diperban sedikit di kepalanya dengan 2 tetesan obat merah, plus bibirnya yang memang “dari sononya” agak dower tampak seperti habis kejeduk ujung meja saja. Jauh dari kondisi seharusnya jika dia dikeroyok beberapa orang sekaligus, dihujani tendangan sepatu lars dan tinju serta hantaman popor senjata. Nah, semua ironi itu seharusnya sangat menarik bagi media massa untuk mengulas, mengupas dan menginvestigasinya secara mendalam.

Tapi entah kenapa, pers Indonesia sekarang cenderung seperti infotainment. Mereka hanya tertarik mengulas dan mengupas sesuatu yang sudah jelas sebabnya, terang benderang kronologisnya, lalu dikemas menjadi tayangan memorial, sentimentil, melow kata anak jaman now.
Apakah memang ini ciri industrialisasi jurnalistik?!

*****

Selama 3 hari stasiun televisi mengundang para tokoh dari berbagai kalangan, ada yang mantan pejabat sampai wartawan yang pernah bertugas di istana, semua orang yang mengenal baik Ibu Ani dan punya kenangan tentang beliau. Dari testimonial mereka itulah saya jadi tahu bahwa Ibu Ani orangnya memang benar-benar baik, genuine, bukan pencitraan. Komunikasinya bagus, ramah kepada semua orang, mampu mencairkan suasana yang kaku, pandai berpidato, punya ide-ide cemerlang dan mampu mewujudkannya. Masyarakat Indonesia pada umumnya akan punya penilaian baik kepada Ibu Ani setelah melihat tayangan di media-media mengenai pengakuan orang-orang yang mengenal beliau.

Saya membayangkan kalau saja seandainya itu dilakukan juga kepada ananda Harun Ar Rasyid, ananda Reyhan Fajari, dll yang menghadap Tuhannya dengan cara mengenaskan.
Alangkah bagusnya kalau keluarga mereka, teman-teman sekolah mereka, guru-guru mereka, tetangga mereka, dan orang-orang yang mengenal mereka juga diberi ruang cukup di media massa nasional untuk bertestimoni, memberikan kesaksiannya tentang sosok almarhum yang mereka kenal sehari-hari. Sebab, alangkah mengenaskan, sudahlah cara matinya sedemikian keji, masih ditambah pula rumor, issu, fitnah, bahwa mereka adalah bagian dari perusuh, anak yang lebih dahulu menyerang polisi, dsb. Sungguh tidak berperikemanusiaan, jika korban malah di-stigma-kan sebagai tersangka.

Baca juga:  Berapa Saldo Kita Yang Tersisa

Menilai orang kan tidak bisa dari kejadian sesaat. Karena itu testimonial dan kesaksian orang-orang yang sehari-hari berinteraksi dengan mereka, menceritakan kesehariannya, kepribadiannya, watak dan karakternya, teman-teman sepergaulannya, kebiasaannya, dll, akan bisa memberikan gambaran siapa mereka sebenarnya. Sehingga akan terbentuk persepsi yang benar dan utuh di benak masyarakat.

Alangkah kejinya kita, jika anak baik-baik kita “stempel” sebagai perusuh. Anak yang biasanya patuh, dijewer saja takut, disebut sebagai penyerang polisi, kan kasihan. Pers seharusnya mampu menjadi pilar keempat demokrasi dan mampu menyuarajan secara JUJUR fakta yang sebenarnya.
Sepertinya slogan KPK “BERANI JUJUR, HEBAT” patut ditujukan kepada insan pers, sejak dari pemilik media hingga para jurnalisnya.

Saya bermimpi, pers Indonesia punya intuisi jurnalis yang tajam, setajam 2 reporter The Washington Post ketika mencium aroma tidak biasa, bukan sekedar maling yang masuk, ketika terjadi pembobolan kantor Partai Demokrat pada suatu malam menjelang Pilpres 1972. Penelusuran berita yang gigih dan menemui banyak narasumber terpercaya, akhirnya Bob Woodward dan Carl Bernstein berhasil mengungkap “all the president’s men” dibalik semua itu, dan endingnya berhasil membuat Richard M. Nixon terpaksa mundur dari pada di-impeach, ketika dia baru saja menjalani periode kedua kursi presiden AS.

Come on, pers nasional. Kalau pejabat, penguasa, berlaku tidak adil kepada rakyatnya, janganlah pers ikut-ikutan tak adil kepada rakyat kecil.
Kalau kematian “pembesar” diblow up sedemikian rupa, berhari-hari, kenapa kematian “luar biasa” rakyat kecil tidak?!

Apakah 700an keluarga para penyelenggara Pemilu tidak punya kenangan indah tentang ayah/saudara mereka yang katanya meninggal karena kelelahan?!
Apakah keluarga dari mereka yang tertembak sebagai ekses Aksi Kedaulatan Rakyat pada 21 – 22 Mei juga tidak berhak bertestimoni tentang korban yang mereka kenal?!
Semestinya di mata insan pers semua orang berkedudukan sama. Sama-sama punya potensi diberitakan.

Semoga pers Indonesia bisa lebih peka, lebih punya instink jurnalistik, dan mampu bersikap adil dan berimbang dalam pemberitaan.

(Visited 67 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account