Saya Pernah Kecil, dan Bahagia di Masjid kala Ramadhan

Saya Pernah Kecil, dan Bahagia di Masjid kala Ramadhan

Saya Pernah Kecil, dan Bahagia di Masjid kala Ramadhan

Oleh: Ernydar Irfan

INGET dong zaman ingusan, kalau dateng bulan Ramadhan mesti jadi semangat banget ke masjid. Biasanya kalau shalat berdiri anteng cuma sampai teriak ‘aamiin’ pertama. ‘Aamiin’ berikutnya udah sambil lari lari ke sana kemari. Abis itu begitu deket ‘assalamualaikum’ ngacir lagi ke tempat shalat buat ikutan ‘assalamualaikum’. Dimarahin? Pastinya……. hahaha… biar dijewer sambil diseret pulang, besoknya tetep aja nongol di masjid.

Belum lagi paling seneng nuker nuker pasangan sendal orang, Main petak umpet, atau gak main petasan. Kalau inget itu rasanya konyol banget… Tapi dulu rasanya seneng banget. Keingetan dikejar-kejar dimarahin para orang tua dan ustadz. Yahh namanya juga anak anak. Kalau bapak bapak atau emak emak yang gitu mah pastinya gak pantes.

Ritual kehebohan Ramadhan ini selalu berulang di sepanjang zaman. Anak-anak dengan ulahnya, para orang tua dengan segala emosinya. Tapi zaman now semua jadi kayak sesuatu masalah yang maha dahsyat. Sampai-sampai ada masjid yang melarang membawa anak anak ke masjid.

Baca juga:  Realitas Infrastruktur Jalan Tol Indonesia

Padahal, anak-anak perlu diajarkan mencintai masjid. Harusnya orang tua yang menciptakan rasa itu, agar anak lebih menyukai masjid ketimbang ke tempat-tempat maksiat. Orang marah ketika anak anak bermain main di masjid, tapi gak marah ketika anak-anak bermain di warnet. Orang tua merasa ibadahnya terganggu manakala anak bermain di masjid ketimbang anaknya anteng dengan gadget sampai melewatkan waktu shalat.

Tapi ada juga orangtua yang tambeng. Mereka membiarkan anaknya pergi ke masjid tanpa pendampingan. Anaknya jadi trouble maker di masjid. Giliran anaknya ditegur, dimarahi, orangtuanya gak terima. Alasannya namanya juga anak-anak. Padahal namanya juga orangtua, udah kewajibannya ngedidik dan ngebimbing anak, bukan kayak ngangon bebek, pergi keluar yang penting balik.

Modelan orang tua ndableg juga ada… Bawa anak ke masjid anaknya ganggu orang ibadah, orang tuanya anteng aja. Tapi kalau anaknya ditegur gak terima. Alasannya namanya juga anak-anak…. Padahal namanya orang tua harus bisa jadi pendidik anak-anak, bukan cuma sekadar ngangon kambing… Kambingnya makan tanaman pagar orang cuek aja yang penting kambingnya kenyang.

Baca juga:  Kenapa Islam menjadi sasaran tembak ?

Tapi sekarang makin banyak juga orangtua yang sadar masjid ramah anak. Mereka gak membiarkan anak-anak mereka tanpa pengawasan. Mereka dengan kesadaran mengajak anak ke masjid dengan memberikan pengarahan di awal dan melakukan pengawasan hingga akhir. Banyak DKM pun menyiapkan berbagai fasilitas di masjid agar anak merasa cukup nyaman di masjid.

Terlepas dari jenis golongan mana kita bersikap sebagai orangtua, kita tidak bisa mengontrol sikap orang lain terhadap anak-anak kita. Tapi sebagai orangtua, fungsi kontrol dan pendidik kita harus bisa berjalan dengan baik.

Oya… jangan juga anak dibiarkan anteng di masjid dengan gadget. Udah pernah kejadian sementara orang tuanya shalat, anaknya anteng di pojokan nonton di gadget, ternyata nonton film porno.

 

https://www.islampos.com/saya-pernah-kecil-dan-bahagia-di-masjid-kala-ramadhan-87115/

(Visited 42 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account