Kapan Indonesia harus melakukan Revolusi, jawabnya: Sekarang.

Kapan Indonesia harus melakukan Revolusi, jawabnya: Sekarang.

Kapan Indonesia harus melakukan Revolusi, jawabnya: Sekarang.

Oleh : Indra WARDHANA –

Pergerakan NasionalNasionalisme dalam dimensi historisitas dan normativitas, merupakan sebuah penemuan sosial yang paling menakjubkan dalam perjalanan sejarah manusia, paling kurang dalam dasa warsa seratus tahun terakhir.

Tidak ada satu pun ruang geografi sosial di muka bumi yang lepas sepenuhnya dari pengaruh ideologi ini. Tanpa ideology nasionalisme, dinamika sejarah manusia akan berbeda sama sekali.

Berakhirnya Perang Dingin dan semakin merebaknya konsepsi dan arus globalisme (internasionalisme) pada dekade 1990-an hingga sekarang, khususnya dengan adanya teknologi komunikasi daninformasi yang berkembang dengan sangat pesat, tidak dengan serta-merta membawa keruntuhan bagi nasionalisme.

Sebaliknya, medan-medan ekspresi konsepsi nasionalisme menjadi semakin intensif dalam berbagai interaksi dan komunikasi baik sosial, politik, kultur, dan ekonomi internasional, baik di kalangan negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Perancis, maupun di kalangan negara Dunia Ketiga, seperti India, China, Malaysia, dan Indonesia.

Nasionalisme tetap menjadi payung social-kultur negara-negara manapun untuk mengukuhkan integritasnya. Dan hal inilah yang terjadi saat ini di Indonesia.

Revolusi?
Sebuah revolusi seperti yang didefinisikan oleh Aristoteles, adalah modifikasi atau perubahan total untuk konstitusi . Revolusi telah terjadi sepanjang sejarah, contohnya adalah Revolusi Perancis, atau Revolusi Amerika. Setiap revolusi bervariasi dalam “metode, durasi, dan motivasi”.

Hasil akhir dari sebuah revolusi pada umumnya adalah perubahan besar dalam budaya, ekonomi dan pemerintahan.

Saya melihat dasar REVOLUSI yang diperlukan saat ini karena adanya suatu faham kebangsaan, Kita sadar sepenuhnya bahwa nasionalisme merupakan “ruh” social-kultur untuk membentuk dan memperkokoh identitas nasional sebagai jati diri bangsa yang telah memiliki martabat kemerdekaan.

Meskipun telah sering dianggap usang untuk dikaji dan diperdebatkan dalam komunikasi ilmiah, namun sejatinya nasionalisme tidak sekedar cukup untuk diperbincangkan dan dipertentangkan sebagaimana konsepsinya yang sering dianggap bias, melainkan perlu suatu penghayatan yang tulus untuk ditanamkan dalam kehidupan berbangsa, dan terinternalisasi serta terintegrasi dalam kultur kehidupan bernegara.

Apalagi dalam konteks kebangsaan Indonesia yang plural atau heterogen, maka diperlukan ikatan ideologis yang menjadi rasa milik bersama yang bersifat kolektif. Dan tentu saja, saya di sini mengabaikan teori yang dikemukakan oleh Charles Tilly.

Sejarah Indonesia mencatat bahwa REVOLUSI Yang di dasari oleh rasa Nasionalisme Kebangsaan selain pada perang menuju KEMERDEKAAN, juga terjadi saat Konferensi Asia Afrika di Bandung salah satunya, faktor-faktor NASIONALISME ASIA-AFRIKA

Baca juga:  "Euphoria" pers nasional sehubungan dengan meninggalnya Bu Ani.

melatarbelakangi timbulnya nasionalisme Asia dan Afrika dikarenakan Penjajahan bangsa Barat yang menimbulkan penderitaan dan kesengsaraan. Kenangan kejayaan masa lampau sebagai negara yang pernah mengalami kejayaan, seperti Indonesia masa kejayaan Sriwijaya dan Majapahit.Munculnya kaum intelektual, yang kemudian menjadi penggerak dan pemimpin pergerakan nasional.

Kemenangan Jepang atas Rusia tahun 1905, yang mendorong bangsa-bangsa Asia dan Afrika bangkit untuk melawan penjajahan bangsa Barat pada Sikap Zealotisme-dan Sikap Herodianisme. Seiring berjalannya waktu terbuktikan bahwa bentuk nyata sebuah REVOLUSI Nasionalisme sebagai gejala historis memiliki peranan urgent pada abad XX dalam proses nation formation negara-negara nasional modern di Asia dan Afrika. Ideologi kolektif nasionalisme tersebut memiliki fungsi teleologis (Teleologi berasal dari akar kata Yunani τέλος, telos, yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan λόγος, logos, perkataan.

Teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu.) serta memberi orientasi bagi suatu masyarakat sehingga terbentuk solidaritas yang menjadi landasan bagi proses pengintegrasiannya sebagai nasion atau komunitas politik. Sebagai ideologi kebangsaan,

Dengan adanya nasionalisme terbentuk counter-ideology terhadap kolonialisme dan imperialisme yang sanggup menawarkan realitas tandingan serta menyajikan orientasi tujuan bagi gerakan politik yang berjuang untuk mewujudkan realitas substantive tersebut. Dalam konsepsi ini, pengalaman kolektif yang serba destruktif masa penjajahan menawarkan fungsi sejati nasionalisme sebagai penyatu solidaritas baru, yang jauh melampaui fungsi ikatan primordialnya.

Nasionalisme adalah tawaran, sekaligus harapan bagi bangsa yang menghendaki kokohnya bangunan integrasi dan kedaulatan di atas fondasi moral humanistik. Hal inilah yang memicu kesepakatan dan kesamaan rasa dalam bersikap yang sama terhadap hasil dari evaluasi pemerintahan yang berjalan saat ini.

Merunut pada Anatomi Revolusi : maka Anatomi Revolusi di Indonesia dipandang perlu untuk dilakukan bersama, karena telah memenuhi syarat dari ANATOMI REVOLUSI, seperti yang telah dikemukakan oleh Crane Brinton.

REVOLUSI harus dilakukan karena telah memenuhi kriteria dari Anatomi Revolusi.
Kondisi yang sudah ada sebelumnya yang dapat menyebabkan revolusi:

Mari kita perhatikan dasar Anatomi Revolusi yang telah terpenuhi dan harus dilakukan dengan dasar Nasionalisme dan Kebangsaan, yaitu :
1. Orang-orang dari semua kelas sosial tidak puas.
2. Orang merasa gelisah dan tertahan oleh pembatasan yang tidak dapat diterima dalam masyarakat, berupa agama, ekonomi atau pemerintah.
3. Orang-orang berharap tentang masa depandan harapan , tetapi mereka dipaksa untuk menerima kurang dari yang mereka harapkan
4. Orang-orang mulai menganggap diri mereka sebagai milik kelas sosial, dan ada kepahitan yang tumbuh di antara kelas sosial.
5. Kelas sosial yang paling dekat satu sama lain adalah yang paling bermusuhan.
6. Para ulama dan pemikir menyerah pada cara masyarakat mereka bersikap dan berperilaku.
7. Pemerintah tidak menanggapi kebutuhan masyarakatnya.
8. Para pemimpin pemerintahan dan kelas penguasa mulai meragukan diri mereka sendiri. Beberapa bergabung dengan kelompok oposisi.
9. Pemerintah tidak dapat memperoleh dukungan yang cukup dari kelompok mana pun untuk menyelamatkan diri.
10. Pemerintah tidak dapat mengatur keuangannya dengan benar dan akan bangkrut atau berusaha memajaki banyak pajak dan tidak adil.

Baca juga:  Karir militer : Trio Hadi, Andhika dan Maruli di jalan toll

Penyebab lain Revolusi itu sendiri :

Revolusi juga dikarenakan, dalam perjalanan sejarah panjang bangsa teridentifikasi bahwa cita-cita kolektif kebangsaan tersebut masih jauh dari apa yang diharapkan
“nationalism is a state of mind in which the supreme loyalty of individual is felt to be due the nation state”.
Bahwa nasionalisme merupakan suatu faham yang memandang, bahwa kesetiaan tertinggi individu harus diserahkan kepada negara kebangsaan. Konsep nasionalisme tersebut menunjukkan bahwa selama berabad-abad silam kesetiaan orang tidak ditujukan kepada nation state atau negara kebangsaan, dalam konsepsi politik, terminologi nasionalisme sebagai ideologi yang mencakup prinsip kebebasan, kesatuan, kesamarataan, serta kepribadian selaku orientasi nilai kehidupan kolektif suatu kelompok dalam usahanya merealisasikan tujuan politik yakni pembentukan dan pelestarian negara nasional.
Dengan demikian pembahasan masalah nasionalisme pada awal pergerakan nasional dapat difokuskan pada masalah kesadaran identitas, pembentukan solidaritas melalui proses integrasi dan mobilisasi lewat organisasi. Dengan kata lain. Di identifikasikan bahwa nasionalisme merupakan suatu ideologi yang mencipta dan mempertahankan kedaulatan sesebuah negara (nation) dengan mewujudkan suatu konsep identiti bersama untuk sekumpulan manusia.Karena dasar yang cukup kuat tersebut maka REVOLUSI Indonesia harus segera dilakukan detik ini, dan saat ini juga, karena didasarkan pada semangat membangun NASIONALISME dan KEBANGSAAN sebagai perekat dan penjaga Republik ini.
Dan kami tidak ingin mempertaruhkan 2 perekat tersebut, ketika kata terlambat sudah tidak berguna lagi.
Sebagai bentuk wujud sumbangan pemikiran atas Sumpah pada Kongres Boemipoetra 2019 -Jakarta
(Visited 142 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account