Temanku, Ninuk Mardiana…

Temanku, Ninuk Mardiana…

Oleh: Maria Hartiningsih (Penulis, Wartawan Kompas, 1984-2015)

Serangan yang bertubi-tubi ditujukan kepada Ninuk Mardiana Pambudy, secara tidak langsung adalah serangan terhadap kami semua, khususnya terhadap saya, yang tumbuh, berkembang dan menyelesaikan tugas kami secara formal bersama Harian Pagi Kompas.

Saya mengenal Ninuk sejak hari pertama kami ikut tes bersama lebih 500 orang lainnya, fresh graduates dari berbagai universitas di Indonesia. Kompas adalah lembaga yang menjadi tujuan untuk berkarya bagi banyak orang muda saat itu, bukan hanya untuk numpang hidup. Banyak dari kami bahkan tidak bersoal dengan urusan gaji, meski kebanyakan dari kami berasal dari keluarga sederhana.

Ninuk dan saya adalah empat dari angkatan pertama yang lolos dari tes yang begitu lama dan ketat. Belakangan baru saya tahu, dari kami berempat, nilai tes Ninuk adalah yang tertinggi.

Setelah bekerja, dia tidak pernah menyebut sekali pun identitasnya sebagai putri pejabat tinggi di pusat kekuasaan. Kami berasal dari kelas sosial yang sangat berbeda, tetapi dia tidak menempatkan dirinya di atas . Dia hidup sederhana, makan di warung, duduk di pinggir jalan, dan seperti halnya wartawan pemula, harus harus melewati tahun-tahun dengan kerja keras di lapangan agar bisa lolos tes berikutnya. Bahkan dia terkesan sangat risih kalau dikait-kaitkan dengan posisi ayahnya.

Dia juga tidak mendapat privilege. Dia mengerjakan yang harus dilakukan wartawan baru, seperti halnya kami semua. Kantor polisi sampai kamar mayat dan tempat-tempat yang tidak pernah terbayangkan sebelum menjadi wartawan, adalah kerja lapangan kami selama lebih dua tahun, dengan jam kerja yang tidak pasti.

Seperti kami, semua wartawan baru, dia juga dibentak-bentak dan diragukan kemampuannya di lapangan dengan cecaran banyak pertanyaan oleh para senior.

Suatu saat, kami sempat mengalami perlakuan yang kurang baik dari para pengawal ketika kami ditugasi mengikuti kegiatan Putri Maha Cakri Sirindhorn selama enam hari di Jakarta dari kunjungan dua minggunya, pada bulan Oktober 1984. Ketika saya marah menerima perlakuan itu, Ninuk menggamit saya dan mengajak saya menyingkir. Dia mendinginkan hati saya dengan kalimat yang tidak pernah saya lupakan, “Mar, dia menjalankan tugasnya…”

Baca juga:  Panggilan sejarah Mahfud MD dan hilangnya "Political Ethics"

Banyak hal tidak bisa saya lupakan dari kebersamaan kami. Saya ingat, malam sudah larut ketika Pak Moerdiono datang ke kantor, mencari Ninuk. Pada malam di akhir bulan Januari 1985 itu, Ninuk masih di lapangan karena ditugasi meliput peledakan Gedung BCA.

Dia juga beberapa kali berada dalam kebimbangan antara melanjutkan studi ketika mendapat beasiswa ke luar negeri atau menikah. Dia juga pernah berada dalam kebimbangan sampai hampir memutuskan berhenti bekerja sesudah melahirkan anak keduanya. Sering saya melihat Ninuk membawa anaknya ke kantor, ditidurkan di bawah kolong meja kerjanya ketika dia bertugas sampai jauh malam selama bertahun-tahun sebagai editor Kompas Minggu.

Masih banyak kisah yang saya simpan dari kebersamaan kami. Tahun-tahun di mana kami selalu bersama-sama adalah pada pasca-reformasi. Kami, Ninuk dan saya beberapa kali mengikuti aksi damai menanggapi konflik yang terjadi di beberapa tempat di Indonesia. Ninuk bahkan membawa anak bungsunya, Indira, ikut dalam aksi di Bundaran HI bersama Ibu Sinta Nuriyah Wahid.

Kami mengikuti banyak diskusi, seminar dan kerja lapangan pasca keruntuhan Orde Baru. Saya terkesan dengan profesionalismenya. Sebagai wartawan kami melaporkan dan menjadi saksi dari berbagai peristiwa bersejarah di negeri ini. Saya mengikuti potongan-potongan perjalanannya yang membuat Ninuk tumbuh sebagai pribadi, lepas dari bayang-bayang kebesaran ayahnya.

Kami bersama-sama juga menempuh pendidikan lanjutan di bidang kajian gender Universitas Indonesia dan bersama-sama membidani lembar Swara di Kompas, kemudian merawat Rubrik Swara bersama-sama. Kami sering bersama-sama mengikuti diskusi dan menulis laporan mengenai pelanggaran HAM masa lalu, karena isu perempuan tidak bisa dilepaskan dari seluruh peristiwa politik di negeri ini.

Kami terus bersama-sama sampai hari terakhir saya bekerja secara formal sebagai wartawan Kompas. Saat itu Ninuk sudah menduduki kursi wakil pemimpin redaksi, suatu kenyataan yang membuat saya bangga karena inilah pertama kali dalam sejarah Kompas, seorang perempuan duduk pada jajaran pimpinan redaksi.

Lebih bangga lagi ketika akhirnya dia berhasil menembus glass ceiling karier professional perempuan di media sebagai pemimpin redaksi. Tetapi dia juga tahu dia akan berada di depan atas segala serangan terhadap Kompas, termasuk yang dikait-kaitkan dengan situasi personalnya.

Baca juga:  Presiden Prabowo, Jangan Ulangi Cara Mereka

Pertemanan kami dipenuhi banyak warna. Kami banyak berdebat keras dan bersilang pendapat dalam kerja. Tetapi kami tetap berteman baik, saling mendukung, saling melengkapi dan saling merasakan. Sebenarnya saya juga merasakan atmosfer sisterhood yang begitu kuat di Kompas, yang dibangun bukan dari hubungan yang selalu manis, tetapi terutama dari perdebatan dan perbedaan pendapat dengan sesama teman perempuan.

Ninuk adalah pribadi yang disiplin dan keras terhadap dirinya. Mungkin karena itu, dia bersikap keras pada anak buahnya, tetapi dia juga penuh perhatian, apalagi kalau terkait urusan domestik.

Ada banyak hal lain yang bersifat personal dari hubungan kami. Saya kira, Ninuk adalah satu-satunya teman yang mengirim bunga, ketika ada pengumunan bahwa saya adalah penerima Penghargaan Yap Thiam Hien untuk Hak Asasi Manusia, Desember 2003. Ketika saya menyelesaikan buku saya seusai pensiun, Ninuk adalah orang pertama yang memberikan selamat kepada saya. Dia juga selalu mengingatkan agar tidak berhenti menulis.

Saya ingat pertemuan kami beberapa hari setelah dia menduduki kursi pemimpin redaksi. Pertemuan yang tidak disengaja itu terjadi di toilet Bandara Adisutjipto, Yogyakarta. Dia yang memanggil saya. Lalu kami berpelukan dan saya sekali lagi mengucapkan selamat atas jabatan baru yang penuh tanggungjawab itu.

“Tugasmu sangat berat khususnya di tahun politik ini, Mien,” itu yang saya bisikkan. Ah ya, saya menyapanya dengan Mimien selama puluhan tahun.

“Iya Mar. Kamu kan tahu, dari dulu aku selalu menerima tuduhan seperti itu. Doain aku ya..”

Mengenalnya begitu lama, saya tahu itu bukan basa-basi.

Ninuk adalah wartawan. Integritas dan profesionalismenya terbangun matang selama lebih 30 tahun menyertai komitmennya pada prinsip jurnalisme yang kami kukuhi, serta menghidupi humanisme transendental yang menjadi nilai utama Kompas.

Ketika serangan bertubi menimpanya, saya marah dan sedih. Saya tidak boleh diam.

Saya tahu, dia beberapa kali menghadapi badai dalam kehidupannya, tetapi dia selalu bisa melewatinya dengan elegan. Saat ini pun, saya yakin, dia mampu.

Selamat berjuang Mien. Bersama banyak teman lainnya, saya bersamamu… ***

(Visited 82 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account