Dilan adalah anakku

Dilan adalah anakku

Oleh : Ustadzah Yanti Tanjung

Dilan adalah anakku, karena aku Ummu Ajyal, ibu generasi, seharusnya tak kau biarkan dia bercumbu ataupun merayu Milea…

Dilan adalah anakku, seharusnya kau siapkan penghulu menikahkannya dengan Milea, minta mereka mengikat cinta di pernikahan sakral berdasarkan agama, menjaga kesucian gejolak muda mereka.Apa susahnya bagimu hei penguasa?

Dilan adalah anakku jangan kau bangun taman kemaksiatan untuk para remaja ,bangunkanlah sebuah rumah tangga yang di dalamnya bertabur sakinah mawaddah wa rahmah agar lebih mulia buat mereka.

Dilan adalah anakku, seusia SMA seharusnya sudah menjadi imam di hadapan orang-orang bertaqwa..Tapi kenapa kau jadikan dia pemmpin dalam kemaksiatan ahli neraka.

Dilan adalah anakku, kau hancurkan masa depat akhiratnya demi alasan pariwisata dan literasi novel cinta yang menggelorakan seksual sedari muda.

Dilan adalah masa depan bangsa, jika kau ingin kelak dia menjadi pemimpin yang meninggikan harkat dan martabat bangsa dan negaranya yang kau matangkan bukan seksualnya tapi akal benarnya…

Apa yang membuatmu gila memfasilitasi sarana maksiat para pemuda,

Tidakkah kau sadar betapa berat kegelisahan ayah melihat puterinya dibawa bercinta oleh lelaki yang tak jelas akhlaknya.

Tidakkah kau punya mata melihat batin setiap ibunda, ketika susah payah mejaga kesucian puterinya ternyata menjadi korban cinta terlarang.

Baca juga:  Media mainstream sudah ancang-ancang balik badan?

Tidakkah hatimu merasakan betapa beratnya guru mendidik, ustadz ustadzah membina agar terwujud keshalehan generasinya,tapi kau hancurkan karena kau berkuasa.

Dilan adalah anakku…..

Mata saya memerah. Dahi berkerut. Jantung saya berdetak lebih kencang. Jari saya tak bisa ditahan. Lalu memverifikasi kebenaran dari apa yang saya baca terkait kesaksian mereka yang sudah menonton Dilan 1991.

Apa yang membuat saya marah dan harus menulis ini? Hanya berharap agar para malaikat menulis ini sebagai bukti bahwa saya telah bersaksi.

Ini tanggungjawab moral. Ini kegelisahan saya sebagai orang tua dan guru ngaji.

Jangan tonton Dilan 1991! Di sana ajaran zina dibiasakan dan direstui orang tua.

Sudah lihat posternya? Apa-apaan anak sekecil itu diajarkan pelukan nempel?

Di filmnya, pacaran Dilan dan Milea direstui orang tua. Sejak kapan orang tua tahun 1991 merestui anaknya pacaran?

Dulu, orang tua menjunjung tinggi nilai-nilai ketimuran. Jangankan memberi izin anaknya pacaran, saat ada yang bertamu pun diinterogasi selengkap mungkin.

Ketika laki-laki berkunjung pada malam hari ke rumah perempuan, maka si perempuan diperintahkan masuk. Yang menemani si laki-laki adalah kakak laki-laki atau orang tuanya.

Bahkan di tahun itu, para pemuda kampung berjaga-jaga mengawasi siapa saja orang asing yang datang dengan niat memacari salah satu perempuan di kampungnya. Para pemuda mendatangi laki-laki yang biasa disebut apel untuk memberi tahu batas waktu kunjungan.

Baca juga:  Di balik Pembantain Pekerja Trans-Papua, Jubir OPM Blak-Blakan

Pemuda itu kemudian mengingatkan jika sudah jam 9 malam. Agar dia pulang. Jika terjadi pelanggaran, tak jarang pemuda-pemuda ini langsung memberikan peringatan keras.

Tetapi, di film Dilan 1991 ini, pacaran dibungkus dengan sangat menjijikkan.

Apalagi saat Dilan main ke rumah Melia di malam hari. Orang tua Melia tidak di rumah. Hujan deras.

Dilan dengan tanpa malu menawarkan zina b*b*r dengan mengatakan kepada Melia, “Mau nyobain beneran atau (kode tangan ditempelkan ke pipi dan bibir).”

Dan setelah itu, keduanya melakukan zina b*b*r meski adegan disensor!

_Astaghfirullah._ _Na’udzubillah._

Ya Allah, lindungi negeri ini dari penjajahan moral berkedok film romantis. Sungguh kisah romantis orang tua dan pendahulu kami jauh lebih mengesankan dibanding tontonan melegalkan zina yang dipenuhi imajinasi sentuhan dan interaksi terhadap lawan jenis yang melanggar aturan agama dan norma bangsa.

🏵️🌷🌷🌷🌷🌷🌷🏵️
masih mau nonton dilan?
Nak,mata itu,,,akan bersaksi di akhirat kelak…
#stop maksiat
#stop dukung maksiat
#dilan hijrahlah..

(Visited 86 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account