Perantau Minang : Asal Bukan “JIN”

Perantau Minang : Asal Bukan “JIN”

Perantau Minang : Asal Bukan “JIN”

Oleh : Abdurrahman Lubis

Perantau Minang bikin kerut wajah Jokowi, termasuk Ketua Umum MUI Pusat KH Maruf Amien,
Pasalnya, siapa saja yang ingin ke ranah Minang jangan coba membujuk “urang awak” agar menerima JIN (Jamaah Islam Nusantara).

“Kami mohon maaf terpaksa berkata, bahwa Islam Nusantara tidak diperlukan ummat manusia dan supaya pencipta serta pendukung Islam Nusantara “sadar” sebelum “nasi jadi bubur”.
Masyarakat Minang tak akan meninggalkan saudara kami sebangsa yang terkapar akibat permainan manusia aneh dan tidak peduli Islam, tegas pernyataan itu.

Kepada para pendukung Islam Nusantara yang ingin datang ke Ranah Minang.

Anda datang, kami berpikir.
Siapkan mental anda dalam menghadapi “tekat bulat sepenuh jiwa kami” yang tidak tergoyahkan oleh ancaman sekejam apapun”, tegas sebuah pernyataan lagi.

Mengenai Islam kami hanya patuh kepada Agama yang diredhai Allah SWT “hanya Islam”, bukan “Islam Nusantara” ( Al Maidah 3, Al Shaf 7 , Ali Imran 19 dan 85).

Nampaknya, mereka tak peduli MUI Pusat atau siapapun mereka, apakah diancam dengan kuali besar berisi minyak mendidih, apakah di tangan mereka ada meriam pencabut nyawa, mereka tak akan mundur, apakah di tangan “seseorang” kekuasaan pencopot jabatan, mereka tak gentar.

Dengarkan wahai penguasa / MUI Pusat!
MUI Sumbar yang diketuai Buya Gusrizal Gazahar adalah wakil seluruh masyarakat Minang telah memutuskan “Kami masyarakat Minangkabau tidak mengenal Islam Nusantara”, biarkanlah kami berprinsip seperti itu.

Kami semua masyarakat perantau Minang di lima benua, berdiri teguh membela ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar, karena kami tahu ulama Minang bukan ulama lapar jabatan, bukan ulama penggadai aqidah, bukan ulama penjual reputasi dengan harga murah, 2 Triliun, bukan ulama pendukung penista, bukan ulama yang sok toleran (berkata hanya muslim anti NKRI, menuduh hanya muslim anti Kebhinekaan, berkoar hanya muslim anti Panca Sila, berteriak hanya muslim intoleran).

Jangan paksakan kepada kami, masyarakat Minang, untuk ikut setuju Islam Nusantara, bagi kami Islam adalah Islam, hormati hak azazi kami masyarakat Minang dalam menentukan jalan Akhirat kami.

Kami tahu di dunia Iblis, ada Islam Arab, ada Islam Grup Penista, ada Islam Abangan, ada Islam KTP, ada Islam sok toleran, ada Islam Nasi Uduk dan seterusnya.

Baca juga:  Itu Beda Ustad Somad dengan Ulama-ulama Lain

Di sini kami tegaskan: kami masyarakat Minang 100% beragama Islam… kalaupun ada orang Sumbar yang murtad, sesuai hukum adat simurtad tersebut dibuang sebagai orang Minangkabau otomatis terpecat sebagai orang Minangkabau, walaupun nenek moyangnya lahir di Sumbar ( apakah penganut Islam Nusantara dibuang juga ?
Kita belum tahu, siapa tahu kelak? kita tidak tahu)

Kata, Adat basondi syarak, syarak basondi kitabullah, artinya Adat Minang mengikuti aturan agama, agama itu adalah Islam bukan Islam Nusantara.

Memang adat Minangkabau dicipta oleh Datuk Perpatih Nan Sabatang dan Datuk Ketamanggungan beratus-ratus tahun lalu, tapi dengan kesepakatan masyarakat Minangkabau diputuskan adat Minang dikokohkan wajib mengikuti ajaran Islam terutama sesudah Perang Paderi 1821 -1837 kelompok penjajah kalah walaupun Tuanku Imam Bondjol dijebak penjajah dan ditangkap.

Hubungan adat dengan Islam adalah “syarak mangato adat mamakai” artinya apa perintah agama harus dikuti oleh adat.

Jika ada pendukung Islam Nusantara ingin datang ke Sumbar untuk membujuk atau mengancam masyarakat Minang agar setuju dengan Islam Nusantara lebih baik berpikir beribu kali, seperti yang dikatakan wakil ketua MUI Bp ZT bahwa penolakan konsep Islam Nusantara oleh MUI Sumbar menyalahi khittah dan jati diri MUI, kami masyarakat Minang mempunyai khittah dan jati diri berdasarkan Islam bukan Islam Nusantara.

Ketua MUI Pusat K H MA mengatakan akan menegur pihak MUI Sumbar yang menolak konsep Islam Nusantara, sang ketua menambahkan bahwa MUI provinsi wajib mematuhi aturan MUI Pusat (Detik.com).

Aturan di masyarakat Minang “raja adil raja dipatuhi, raja tidak adil raja disanggah”.

Dengarlah wahai penguasa! Kami semua masyarakat Minang berdiri teguh mendukung dan akan membela ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar yang mengatakan “Kami teguh menjaga Ranah Minang tempat kami menghirup udaranya, meneguk airnya, kami merasakan detak nadi kehidupannya, karena kami hidup di tengah masyarakat, maka kami bertanggung jawab mengatakannya bahwa negeri kami tidak membutuhkan istilah Islam Nusantara.”

Baca juga:  Nyanyian sunyi, cinta sang Jenderal

Kalau anda ingin menjaga kesatuan ummat maka jangan mencari-cari penyakit dengan mencipta Islam Nusantara.
Kami ingin bertanya “apa untungnya membuat istilah Islam Nusantara ?
apakah ingin dipuji kafir?
apakah ingin disanjung oleh musuh Islam? apakah ingin dipuja oleh intelijen musuh Islam? apakah ingin dapat uang dua triliun?
Semua di atas Kita tidak tahu.
Jangan paksa kami masyarakat Minang menggunakan istilah Islam Nusantara.

Saran untuk Bapak-Bapak yang ingin datang ke Sumbar
(Kabarnya tuan prof. DS mau datang ke sumbar ) antara lain:
1. Seluruh masyarakat Minang baik perantau maupun yang tinggal di kampung halaman tetap kokoh di belakang ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar yang tak akan mengubah istilah Islam
dengan “Islam Nusantara”, kami tak peduli ia utusan presiden sekalipun.
Kami masyarakat Minang tak akan menyerah.

Oleh sebab itu Bapak undurkan saja untuk mengunjungi ranah Minang.
Ibarat pepatah “tersesat biduk dibelokkan, tersesat kata dipikirkan”, bagi masyarakat Minang pepatahnya: “sekali layar dikembangkan selama itu kebenaran ditegakkan”.

2. Bapak bapak belajar dulu sejarah adat basondi syarak, syarak basondi kitabullah.syarak yang dimaksud adalah agama Islam bukan Islam Nusantara.
Di ranah Minang Islam tidak akan digadaikan walaupun ditawar dengan emas sebesar gunung Uhud.

3. Kami masyarakat Minang tidak akan bermain-main dengan agama Islam.
Buya Hamka memilih penjara dari pada mencabut fatwa.
Dengan tekad yang sama dengan buya Hamka, kami seluruh masyarakat Minang memilih penjara daripada menyetujui Islam diubah menjadi Islam Nusantara.

4. Ada istilah di Minangkabau “syarak mangato, adat mamakai” syarak itu adalah Islam bukan Islam Nusantara, artinya adat Minang tunduk kepada perintah agama Islam bukan Islam Nusantara.

Kesimpulan:
Lebih baik kita pelihara persaudaraan se bangsa dan se tanah air daripada memaksa masyarakat Minang untuk setuju menerima Islam Nusantara.

Penulis, Pemerhati Keislaman.

Terima kasih.
Maaf lahir batin

(Payakumbuh, dipetik dari artikel Ketua Perencana Asosiasi Perantau Minang Sedunia
Dr. Wazri Abdullah Afifi Ph.D, MBA, MICR).

(Visited 58 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account