Parliamentary Threshold Ganjal Ambisi Cendana Bangkit Lewat Partai Berkaryanya?

Parliamentary Threshold Ganjal Ambisi Cendana Bangkit Lewat Partai Berkaryanya?

Parliamentary Threshold Ganjal Ambisi Cendana Bangkit Lewat Partai Berkaryanya?

Parliamentary Threshold Ganjal Ambisi Cendana Bangkit Lewat Partai Berkaryanya
——-
Terdapat 18.185 kursi legislatif baik di pusat (DPR) maupun daerah (DPRD) yang bakal jadi rebutan pada Pemilu Legislatif (Pileg) 2019.

Jika tiap kursi diperebutkan oleh minimal 3 Caleg dari 14 Parpol yang berlaga, maka terdapat 218.220 Caleg dari partai lama pun partai baru yang turut berlaga pada Pileg 2019 ini.

Sesuai Aturan Undang-undang 7 Tahun 2017 Pasal 414 dan 415 tentang Pemilihan Umum, bahwa
Partai Politik Peserta Pemilu harus memenuhi ambang batas perolehan suara paling sedikit 4%(empat persen) dari jumlah suara sah secara nasional untuk diikutkan dalam penentuan perolehan kursi anggota DPR-RI

Lalu pertanyaan mendasar yang diajukan adalah : bagaimana cara mereka memenangkan hati para pemilih? Dan, strategi apa seharusnya mereka siapkan? Terutama jika kita berbicara mengenai partai baru. Salah satu contoh, sebut saja Partai Berkarya .

Partai keluarga Cendana yang dinilai memiliki logistik tambun itu malah cenderung terlihat gagap mengelola partai. Kita simak, pola-pola kampanye lapangan yang dilakukan hanya semacam Seremonial dan Repetisi, tidak Populis, bahkan sangat jauh dari pola kampanye yang mampu bersentuhan dengan kaum milenial yang merupakan kelompok pemilih terbesar.

Baca juga:  Terusir dari rumah sendiri

Sedangkan kita ketahui bahwa Pileg 2019 adalah pertarungan melawan persepsi masyarakat, sehingga dapat dipastikan bahwa para Caleg tidak bisa lagi hanya sekedar memajang photo pada Baliho dan kemudian berharap bisa terpilih.

Sedangkan, figur-figur sentral partai Berkarya seperti Siti Hardianti Rukmana yang akrab disapa Tutut Soeharto, dalam beberapa kunjungannya di daerah Provinsi Bantan baru-baru ini yang diharapkan akan dapat menarik perhatian publik sehingga menimbulkan efek elektoral bagi para Caleg dan partainya, malah sebaliknya, Tutut gagal mengugah minat media-media Nasional untuk turut meliput.

Dari hal tersebut bisa kita tarik kesimpulan, bahwa Partai Berkarya tidak memiliki strategi dalam kegiatan kampanye-nya, bahkan bisa kita katakan seperti partai baru yang kekurangan logistik.

Baca juga:  Masih Trauma dengan Traktor Jokowi, Ponorogo Sambut Voorijder dengan Salam 2 Jari

Tommy Soeharto sendiri sebagai ketua umum Partai Berkarya, figur sentral yang dianggap akan mampu mendongkrak populeritas dan elektabilitas partai justru sejauh ini gagal memahami perannya sebagai Ketua Umum. Kegiatan kepertaian yang dilakukannya tak lebih hanya sebatas ia sebagai Caleg dari Dapil Papua. Lalu, bagaimana mungkin dengan pola-pola kampanye minus strategi itu kemudian Partai Berkarya berharap akan mampu untuk lolos PT 4 persen ?

Febri
Citizen Jurnalis

(Visited 120 times, 1 visits today)

admin

leave a comment

Create Account



Log In Your Account