PHK Krismon vs PHP Krismen. Mana yang lebih parah?

PHK Krismon vs PHP Krismen. Mana yang lebih parah?

By : Luthfi Bashori:

Kita sering mendengar atau membaca istilah PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), entah itu dalam pembicaraan sehari-hari, atau dalam siaran media elektronik maupun berita media cetak atau membaca postingan yang viral dalam dunia medsos.

Demikian juga dengan istilah PHP (Pemberi Harapan Palsu) dalam kamus anak gaul yang saat ini cukup populer.
Bagi para pengguna dan penikmat media sosial, tentu istilah PHP ini sudah tidak asing lagi, karena seringnya kejadian-kejadian PHP yang sempat menviral di jagat dunia maya.

Kita masih ingat maraknya berita pada bulan Agustus 1997, dimana mata uang rupiah saat itu mulai bergerak di luar pakem normal. Rupiah tidak saja bergeliat negatif, tapi lebih dari itu, rupiah bergerak sempoyongan.

Kemudian di bulan September 1997, Bursa Efek Jakarta (saat ini menjadi Bursa Efek Indonesia) bersujud di titik terendahnya.

Perusahaan yang meminjam dalam dolar harus menghadapi biaya yang lebih tinggi untuk membayar utang. Di saat itulah terjadi Krismon (krises moneter). Tak sampai di situ, kemudian ratusan perusahaan, mulai dari skala kecil hingga konglomerat bertumbangan.

Baca juga:  DEBAT KE EMPAT "Kita harus jihad melawan kemiskinan"

Menurut berita, sekitar 70 persen lebih perusahaan yang tercatat di pasar modal mendadak berstatus insolvent alias bangkrut. Sektor konstruksi, manufaktur, dan perbankan adalah sektor yang terpukul cukup parah. Sehingga risiko lanjutannya adalah lahirnya gelombang besar pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pengangguran melonjak ke level yang belum pernah terjadi sejak akhir 1960-an, yakni sekitar 20 juta orang atau 20 persen lebih dari angkatan kerja.

Akibat PHK dan melesatnya harga-harga barang, jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan juga meningkat.
Begitulah peristiwa korban PHK yang pernah berjatuhan di negeri ini, dan viral menjadi topik pembicaraan secara nasional. Hampir serupa dengan PHK nasional, rupanya berita PHP pun tengah melanda negeri ini dalam skala nasional.

Kita masih ingat peristiwa seorang Profesor yang secara tiba-tiba terkena PHP sehari menjelang pendaftaran Capres-Cawapres 2019, hingga terjadi gonjang-ganjing dunia perpolitikan di tanah air tercinta.

Saat itu, hampir semua media tak ada yang tinggal diam untuk memberitakan peristiwa sejarah kelam, seorang ahli hukum tata negara kondang, ternyata bisa juga menjadi korban PHP hanya karena ditelikung oleh pihak lain.

Baca juga:  Berapa sich, biaya pernikahan itu?

Rupanya peristiwa PHP nasional saat ini, juga sedang menimpa seorang Da’i kondang yang sudah sepuh, usia 80 tahun, penghuni Lapas Gunung Sindur Bogor, dan tentunya juga menimpa pihak-pihak yang mengupayakan maupun yang menyiarkan pembebasan sang Da’i, walaupun upaya itu digelar atas nama kemanusiaan, namun bagi para pemerhati tetap terbaca sebagai peristiwa politik.

Yang patut disayangkan, rupanya kesepakatan pembebasan sang Da’i ini tidak dikoordinasikan secara baik di kalangan para penguasa negeri, hingga dengan pembatalan pembebasannya itu, semakin tidak jelas mana yang sebenarnya menjadi atasan dan mana yang menjadi petugas bawahan.

Karena itulah terjadi gonjang ganjing PHP secara nasional untuk kesekian kalinya.

Nah di saat muncul peristiwa-peristiwa seperti inilah, sejatinya telah terjadi Krismen (Krisis Mental) secara nasional di kalangan mereka.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=628339370935836&id=100012793361908

(Visited 44 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account