Debat sesi pertama capres dan cawapres : Panggung ‘reality show politik?’ .

Debat sesi pertama capres dan cawapres : Panggung ‘reality show politik?’ .

Debat sesi pertama capres dan cawapres : Panggung ‘reality show politik?’ .

by : Nadya Valose

Berani bertaruh, pada acara debat berikutnya, TKN Jokowi-Ma’ruf pasti akan merombak total ‘gaya’ Debat Jokowi yang dianggap salah action. Begitu juga pada Kyai Ma’ruf yang terlihat jelas gugup dan grogi dengan ‘tekanan’ suasana panggung yang dinilai membebani psikis beliau.

Panggung Debat pertama antar capres kemarin benar-benar telah menjadi panggung ‘reality show’ bagi kedua pasangan capres-cawapres.

Jika Prabowo Sandi menggambarkan ekspresi keakraban antar ayah dan anak, disisi lain Jokowi dan Kyai Ma’ruf melukiskan ekspresi ‘keterpaksaan’ dan ‘penyesalan’ atas sebuah hubungan yang disharmoni.

Gestur Prabowo yang mengekspresikan rasa bangga seorang ayah terhadap Sandi diimbangi pula dengan ekspresi rasa hormat dan sayang Sandi terhadap Prabowo bak anak terhadap bapaknya.

Sementara pada podium sebelah, Jokowi disadari atau tidak melukiskan bahasa tubuh yang penuh beban disisi Kyai Ma’ruf.

Jokowi menggambarkan kesan kalau ia merasa sedang berperang sendirian. Keberadaan Kyai disebelah tidak lagi dirasakan memberikan efek bantuan apapun bagi dirinya kecuali malah memperberat beban yang tengah ia pikul.

Podium kedua pasangan itu seakan menjadi simbol duet Protagonis dan Antagonis. Di panggung debat terpancar dua wajah kubu yang berbeda kutub. Kubu Parabowo Sandi memancarkan wajah harmonis hubungan ayah-anak yang guyub, sementara kubu Jokowi Ma’ruf memancarkan wajah disharmoni yang memendam rasa ketidak sukaan satu sama lain.

Baca juga:  Puisi untuk Ainun, oleh BJ Habibie

Semua mungkin saja berlaku tanpa sadar dan disengaja, namun publik menangkap jelas sinyal-sinyal yang terpancar diatas panggung itu.

Dan karenanya publik dapat merasakan dan semakin meyakini kenyataan, bahwa isue Jokowi sejak semula tidak menginginkan Kyai Ma’ruf nemang benar adanya. Bukan cuma sekedar dongeng Prof Mahfud MD.

Panggung Debat pertama Capres mempertegas keengganan Jokowi bersanding dengan Ma’ruf. Bagai perkawinan paksa, mempelai yang satu gagal menampakan kemesraan malam pertama dihadapan tamu undangan terhadap pasangannya diatas puada.

Jauh sebelum hari H debat, Jokowi sudah memperlihatkan sikap yang tidak mesra dengan Ma’ruf. Jalan kampanye sendiri, menemui konstituen sendiri, rapat dengan 9 ketum atau sekjen parpol sendiri, bahkan tour keliling pondok pesantren yang menjadi area Kyai Ma’ruf pun Jokowi sendiri tanpa didampingi pak kyai sepuh itu.

Wajar saja ketika pada waktunya di acara sesi debat Kyai Ma’ruf terkesan seperti ngambek, banyak berdiam diri, cuek dan tidak peduli pada Jokowi.

Baca juga:  Realitas Infrastruktur Jalan Tol Indonesia

Kyai Ma’ruf seakan merasa ada ketimpangan sikap yang tidak wajar Jokowi terhadapnya. Mimik wajah ketua MUI itu mulai menyiratkan kecurigaan, bahwa jangan-jangan seperti dugaan banyak orang, ia hanya dimanfaatkan untuk kepentingan politik Jokowi semata.

Pada akhirnya semua sorot pandang pemirsa memaklumi seluruh rangkaian yang selama ini berlangsung ‘behind the scene’ (dibalik layar) politik masing-masing pasangan.

Paras elok kejujuran atau buruk rupa kepura-puraan terungkap semuanya disana menyisakan hingar bingar komentar rakyat dan testimoni para pemilih 2014 lalu di akhir acara.

Episode debat belum berakhir. Masih ada babak-babak debat berikutnya. Namun sebagian besar publik mulai mencium gelagat ada yang terkapar sebelum usai babak terakhir .

Siapkan saja popcorn, kacang, adamame dan jagung rebus di depan layar televisi anda. Sertakan pula teh atau kopi hangat. Karena debat berikutnya akan berlangsung lebih seru lagi.

Selamat menonton, selamat menilai dan selamat menentukan pilihan, karena pemenang sejatinya bukan ditentukan sang sutradara, melainkan ditentukan oleh jari-jari anda sebagai pemirsa.!!.

– Pegiat Akal Sehat –

(Visited 60 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account