Pendukung Prabowo adalah Marketer terbaik Jokowi

Pendukung Prabowo adalah Marketer terbaik Jokowi

_By Arbow_
_Budayawan Jalanan_

Sekilas judul diatas terasa absurd dan Paradoks. Bagaimana mungkin pendukung lawan politik dapat menjadi marketer terbaik ‘musuh’ politiknya. Polarisasi yg tajam dlm pertarungan politik kali ini memang perlu di cermati secara waras dan wajar. Sebab bila tidak kita bisa terjerembab pada budaya dan gaya politik yg bukan hanya tidak sehat tetapi melemahkan kualitas demokrasi itu sendiri.

Kembali kepada judul diatas, pada faktanya, berbagai kebijakan politik petahana hingga ulah serta sikap yg cenderung diluar nalar, logika dan mainstream, seperti  sebuah hidangan lezat  yg harus disantap dalam pesta pora euphoria dan mungkin juga sebuah rasa kesal publik terhadap petahana yg selalu mempertontonkan kedegelian, keanehan yg mendekati kedunguan petahana.

Perhatikan , sedetik saja, petahana berulah, sedetik itu pula, jagat media terutama media sosial ramai memperbincangkannya. Mulai dari kebijakan politik yg terkesan ngawur, sampai gesture dan gimmick yg tdk perlu. Bahkan beberapanya hingga dapat mencapai trending topik nasional.

Siapa yg diuntungkan dalam kontestasi ini ? Tentunya adalah petahana dan tim nya. Mereka dengan sangat murah dan mudah di endorse oleh para pendukung Prabowo. Isu dan topiknya bisa bertahan bahkan hingga berhari-hari malah berminggu2, menjadi anekdot, meme, status dan berbagai hal. Yang intinya, petahana mendapat pemberitaan, diskusi, ejekan, cibiran dan lain sebagainya seantero nusantara yg bernada miring atau negatif.

Apakah  negatifitas isu ini menjadi penting dan merugikan ? Bisa ya bisa tidak.

Tetapi, dalam konteks marketing dan statistika politik, kadang positive dan negatife side, menjadi bukan faktor dominan.

Dalam bahasa marketing, upaya mencapai top of mind di market menjadi nomor utama  dengan berbagai cara, baik bedimensi negatif maupun positive. Apalagi dalam kultur masyarakst Indonesia yg cenderung pelupa thd konten dan esensi.

Baca juga:  Takut pada "HANTU" yang dibangun sendiri

Begitu pula dalam ranah statistika politik, yaitu elektabilitas dan popularitas.  Cenderung soal konten tdk menjadi begitu dipusingkan. Tetapi mencapai Popularitas dan Elektabilitas adalah koentji. Apalagi akhir2 ini, Elektabilitas petahana disinyalir begitu menurun drastis sampai ke level memprihatinkan.

Menurut hemat kami, penurunan Eletabilitas tsb pun bukan semata2 krn salahnya kebijakan dan kedunguan bersikap pertahana, tetapi lebih tepat kepada , makin cerdasnya publik serta kesadaran politik dan demokrasi masyarakat yg semakin matang.

Wajar, jika elektabilitas petahanan semakin nyungsep, sebab semakin tergerusnya kebodohan publik atau lbh tepatnya yg mau di bodohi oleh petahana.

Iklim ini menarik sebenarnya bagi demokrasi. Memberi harapan baru akan munculnya kecerdasan dan kesadaran publik thd demokrasi yg belakangan ini terdegradasi oleh tata kelola demokrasi dan kenegaraan yg amburadul, amatir serta asal2an.

Satu hal lagi, apakah beberapa kejadian yg membuat ramai jagad diskusi semacam jainudin naciro, sontoloyo, tabok, jengkol dan pete adalah sebuah kedunguan sistemik atau alami ?

Agak sulit membedakan sepertinya. Bisa jadi krn alami, tp bisa jadi sebagian krn sistemik or by design.
Dan sayangnya, hal2 konyol spt ini disamber lgs oleh pendukung Prabowo tanpa menyadari bahwa mereka telah secara tdk lgs menjadi marketer petahana.

Saya melihat, kekonyolan2 yg akhir2 ini terjadi lbh banyak yg by design alias sistemik sbg respon dr kepanikan petahana yg terus anjlok elektabilitiasnya. Dibuatlah tema2 absurd dan konyol cenderung dungu dilempar ke publik sbg gimmick politik. Karena mereka menyadari hal2 spt ini akan disambar tanpa ampun.

Ingat pepatah arab ini ?

_*” Bul ‘alaa zamzam Fatu’raf”.*_
_Kencingi Sumur zam zam maka kamu akan terkenal_

Baca juga:  FPI, Kalian radikal sekali !!!

Sepertinya, pepatah ini sangat di hayati oleh tim petahana. Dimana efek sensasi, out of the box dan bahkan kontroversi adalah sesuatu yg perlu untuk menggenjot popularitas bahkan elektabilitas.

Maka dengan sadar, karena secara on default petahana memang demikian level berfikir adanya, maka weakness tsb coba di bungkus menjadi strenght point utk membangun sensasi serta kontroversi. Ditambah noise effect dr pendukung Prabowo yg menyamber apasaja dr kedunguan kontroversial  petahana coba dialihkan mjd leverage point.

Sampai sini paham kan, kenapa Pendukung Prabowo adalah marketer terbaik petahana.

Untuk itu, mulai hari ini, stop memasarkan petahana dgn segala sensasi, kontroversi dan kedunguannya melalui mame, status dan menggunakan istilah2 yg diproduksinya.

Fokus saja pada program, visi, kelebihan dan kekuatan Prabowo Sandi. Jangan terjebak pada kencing petahana di air zam zam.

Terakhir, meminjam istilah John C. Maxwell, dalam The 360 Degree Leader: Developing Your Influence from Anywhere in the Organization, dia bilang begini :

_*Great people talk about ideas,**_
_*Average people talk about themselves,*_
_*and small people talk about others*_

Jadilah bagian dari masyarakat yg memberikan edukasi literatif yg masive, menghidupkam tradisi demokrasi yg berkualitas dengan berdialektika pada ide dan gagasan bukan pada kontroversi dan drama apalagi kekonyolan2 yg gak perlu seperti yg selama ini di produksi.

Fokus pada esensi dan substansi membangun bangsa yg besar dan berwibawa, keluar dari lingkar2 basa basi politik kepentingan. Jika tidak, arah menuju negara gagal (failed nation) akan semakin menjadi kenyataan.

Masih mau kasih kesempatan 2 periode ? Eh….

*ARBOW*_

_Budayawan Jalanan_

 

Note : tulisan beredar di WAG

(Visited 166 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account