Political Disruption 2 : Suara dari dapur Trend Emak-emak berpolitik

Political Disruption 2 : Suara dari dapur Trend Emak-emak berpolitik

By : Yanto Hendrawan

lagu adalah ilustrasi : The Power of Emak-emak

Trend emak-emak berpolitik makin kencang di kubu Prabowo-Sandi. Baru kali ini gelombang suara kaum hawa begitu menggema dan menuntut perubahan rezim sejak negeri ini terbebas dari penjajahan. Seperti orang sabar yang sedang marah. Tak ada yang salah, karena memang keadaan bangsa ini yang dirasa sudah tak beres dikelola dan mendesak terjadinya perubahan.

Mereka tidak diminta untuk menjadi relawan, tetapi tergerak secara intrinsik dari hati mereka sendiri sebagai bentuk perjuangan untuk membebaskan kesulitan hidup yang sudah berlangsung selama 4 tahun ini. Jumlahnya tak sedikit. Sudah jutaan hingga pelosok tanah air. Terlihat dari antusiasnya para emak di setiap kunjungan Sandi saat berkeliling ke daerah.

Emak-emak adalah benteng terakhir dalam bangunan kesejahteraan keluarga dan merekalah yang paling terkena dampak atas kenaikan harga-harga dari pengelolaan negara yang tak becus. Emak-emak paling sensitif terhadap perubahan harga. Mirip teori elastisitas harga yang dipelajari anak mereka yang kuliah ekonomi mikro.

Jika suaminya yang mencari uang. Mereka yang atur di rumah. Tapi bagaimana tidak pecah kepalanya jika pendapatan suami tidak berbanding lurus dengan kenaikan harga di pasar. Naik gaji seperti kecepatan bemo sementara naik harga seperti kecepatan limo. Stress dan marah tapi entah pada siapa. Pemerintahlah yang bertanggung jawab dan menjadi biang penyebab kesejahtaraan masyarakat menurun, begitu pikiran cerdasnya membisik.

Itu sebab mereka turun ke ruang politik menggantikan adik-adik mahasiswa yang kian meloyo. Semangat perubahan terbakar di dada mereka. Amarahnya membara karena kedunguan tata kelola para pengambil kebijakan publik di nedgeri ini. Api perubahan bagi negeri berkobar di para pemilik rahim untuk ibu pertiwi. Untuk negara dan bangsanya, untuk kesejahteraan keluarganya dan untuk hidupnya yang lebih baik. Inilah babak baru perpolitikan di Indonesia.

Dan ternyata di era ini pula baru kita pahami bahwa militansi emak-emak jauh lebih dahsyat dibanding para mahasiswa. Lihat saja dalam beberapa acara di Hambalang, mereka rela tidur lebih awal, bangun sebelum subuh, siapin makanan di rumah, pesan taxi online yang relatif mahal, dan bergegas menuju acara pembekalan relawan. Pagi-pagi buta sudah jalan. Di rumah oke, di medan juang juga siap.

Baca juga:  Dungu-nya politisi Islam dan Ummat Islam

Luar biasa!

Inilah pahlawan baru di era milenial saat ini. Pahlawan cantik yang mengguncang politik tanah air. Gelombang kebersamaan yang makin besar membuat gerombolan paslon 01 ketar-ketir dan menyiapkan hati untuk legowo menerima kekalahan. Sebab jelas secara jumlah emak-emak itu tidak sedikit. Terlihat dari membludaknya emak-emak saat cawapres Sandi berkunjung dan berkeliling ke seluruh tanah air. Selalu disambut meriah. Yang ke Hambalang saja berbis-bis yang datang. Kemenangan bagi Prabowo Sandi sudah di depan mata jika tak dicurangi.

Selain itu, emak-emak pasti menitip pada anak-anak mereka yang sudah bisa mencoblos di 2019 nanti untuk memilih Prabowo Sandi. Mana ada anak yang tidak mendukung perjuagan emak mereka kecuali anak tak berbudi.

Perjuangan anak muda bergeser mejadi kebangkitan para emak. Penunggu meja belajar berpindah ke penunggu dapur. Terjadi perubahan atah perjuangan dan politik. Disruption way on “politik berbasis emak-emak”. Menjebol kebuntuan berdemokrasi. Turun ke jalan karena bahan makanan di dapur kian menipis dan entah kapan akan berakhir sementara anak-anak kian keras menjerit akan kebutuhannya.

DISRUPTED OR DISRUPTING?

Siapa yang dimakan oleh kemenangan berinovasi. Siapa yang menjadi pemenang dalam meraih simpati publik. Berebut wajah di wadah janji. Ukurannya mudah, siapa yang bisa memuaskan dan memudahkan hidup masyarakat. Seperti pertarungan taxi online dan taxi convensional. Emak-emak adalah disrupter politik Indonesia saat ini. Prabowo adalah disruptive leader. Karismanya memicu terjadinya perubahan!

Wasitnya ada di hati para pemilih. Apakah Incumbent yang sudah 4 tahun berjalan telah berhasil memperbaiki hidup masyarakat? Atau new hope for new life yang menimpali kesal atas janji 2014 yang tak kunjung berwujud? Keduanya didukung oleh pasukan dibelakangnya. Pemuja rezim yang ingin melanjut dan emak-emak kecewa yang ingin perubahan.

Ayah diam dulu disana ya sayang. Biar ibu yang turun kali ini. Karena ini sudah keterlaluan. Kita sudah didzolimi dan ini tak bisa dibiarkan, suara lembut dari jiwa perkasa itu melirih dalam geramnya.

Baca juga:  Jangan jadi pengemis!

Para penulis cendikia riskan menulis soal ini sebagai bagian dari teori perubahan di era disruption. Perubahan dalam berpolitik dari dapur ala emak-emak. Sebab bukunya hanya laku di setengah golongan saja. Itupun bagi mereka yang gemar baca. Percetakan menolak karena mereka akan rugi. Tidak dibaca semua golongan. Padahal literasinya bisa dikemas dalam pendekatan teori perubahan tanpa aroma keberpihakan dan ini jelas tentang perubahan.

Pilres 2019 ini kita sedang dan akan menyaksikan pertarungan inovasi dalam berpolitik. Dimulai dari inovasi tagar 2019 Ganti Presiden, berlanjut ke lirik lagu untuk Prabowo Sandi hingga pertarungan kreatifitas dan ide bertajuk Rabu Biru. Cara berpakaian atasan biru dan bawahan coklat muda oleh relawan Prabowo Sandi. Kreatifitas adalah kiunci kemenangan meraih suara. Tak laku lagi cara-cara lama. Karenanya eranya telah berubah. Meski begitu, para innovator politik harus menjangkau wilayah pedesaan yang juga perlu disentuh oleh disruption mindset ini.

Tapi aturan main peperangan ini diatur oleh tangan regulator. Regulator peperangan ini bernama KPU dan BAWASLU. Kalau KPU dan BAWASLU tidak cerdik melihat gejala perubahan makro perpolitikan di negeri ini, bersiaplah menerima dampak sosial di masyarakat yang tumpah dalam gejolak dan gelombang yang besar. Persis seperti mengatur kebijakan taxi online dan taxi konvensional yang kalau tak bijak, bisa memacetkan jalanan, melebar hingga berdampak menasional.

Selamat datang di era baru politik tanah air!

Inilah perubahan perpolitikan negeri ini yang membuat incumbent/petahana menjadi usang dan kehilangan relevansi dalam menghadapi Indonesia baru. Incumbent yang terbelenggu oleh puja dan cinta mati karena tak berani melihat hal baru. Memudar karena menolak perubahan di era kini.

Mari kita nikmati pertarungan antara Disruptive Mindset vs Disrupted Steady. Karena kitapun sejatinya sedang berada di dalam kancah pertarungan itu sendiri. Terbawa arus perubahan, atau diam dan mati menjadi korban dari dampak perubahan.

Semua tergantung anda..

Salam Perubahan
Salam Kemenangan. 

By : Yanto Hendrawan

(Visited 57 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account