The Glorious Revolution. Unjuk jumlah itu penting dalam perjuangan

The Glorious Revolution. Unjuk jumlah itu penting dalam perjuangan

The Glorious Revolution. Unjuk jumlah itu penting dalam perjuangan

Gambar adalah ilustrasi

by M Rizal Fadillah

Rosulullah SAW memimpin umat sebanyak 10.000 orang bergerak dari Madinah menuju Makkah. Jumlah yang dinilai besar itu mengecutkan nyali pembesar Quraisy di Makkah. Menghadapi manuver kaum Muslimin yang di luar dugaan ini, Makkah ditaklukkan dengan mudah tanpa perlawanan yang berarti. Inilah Futuh Makkah. The Glorious Revolution. Penduduk Makkah kembali ke pangkuan Ilahi.

Unjuk jumlah itu penting dalam perjuangan. Menciptakan kepanikan dan ketakutan bagian dari strategi pemenangan. Rosulullah SAW juga sangat mementingkan syiar. Ini hikmah mengapa shalat Iedul Fitri dan Iedul Adha disunnahkan di lapang. Sampai sampai wanita yang haid pun harus ikut berjamaah, meski tak melaksanakan sholat. Bukti bahwa umat harus menunjukkan kekuatan dan kebesarannya. Unjuk rasa, unjuk diri, unjuk kekuatan bagian dari da’wah dan perjuangan.

212 dan reuni 212 kemarin adalah model dari ‘show of force’ umat Islam yang memiliki perasaan yang sama. Rezim itu zalim. Dahulu ayat dinistakan, baru baru ini kalimah tauhid dinistakan. Tak ada pemihakkan rezim pada perasaan umat Islam, malah sebaliknya menunjukkan proteksi dan permusuhan. Isu radikalisme, intoleransi, bahaya HTI menjadi doktrin pemojokkan. Umat dengan lembut melawan. Reuni 212 cukup datang, berkumpul, bersilaturahmi lalu pulang kembali. Tapi itulah unjuk kekuatan tanpa komando dan penokohan. Iman yang mempersatukan. Dunia pun mulai melihat.

Baca juga:  Yang lebih berbahaya dari 80 juta

Tentu efek akan terjadi. Kepanikan mulai terasa. Kasus statemen pujian Dubes Saudi membuat pencela jenggot kebakaran jenggot. Kasus pembakaran bendera tauhid disinggung. Para kolaborator rezim berfikir membuat tandingan, tak akan sukses karena hanya bermodal uang. Uang hanya bisa membeli tapi tak bisa mengganti aspirasi dan ideologi. Fakta tak bisa dibantah bahwa umat Islam melakukan perlawanan lembut pada rezim yang bodoh tapi sok jago. Rezim yang gemar memanipulasi kejahilan. Disangkanya rakyat dan umat gampang dibodohi oleh pencitraan. Padahal tidak.

Reuni 212 adalah modal bagi The Glorious Revolution. Rezim akan bubar jalan dengan wajah yang tertunduk. Pulang kampung dengan membawa kasus setumpuk. Persoalan yang belum selesai. Dilengserkan oleh paku kecil yang melubangi kertas suara.

Baca juga:  Di balik Pembantain Pekerja Trans-Papua, Jubir OPM Blak-Blakan

Jika pun kecurangan akhirnya dilalukan untuk menolong diri sendiri dari cabikan kekuasaan, maka akan datanglah lipatan jumlah rakyat dan umat ke Monas kembali lalu, bergerak untuk menghukum pelaku kecurangan itu. Turun dengan sakit.

Sejarah mencatat kekuatan uang dan senjata bukan segala-galanya. Jaringan kokoh itu ternyata hanya sarang laba. Putus dengan sekali sentuh.

Janganlah rezim bermain-main dan remehkan kekuatan keagamaan. Meski mungkin ia merasa hebat karena bisa membeli tokoh tokoh. Kodok sampai kapanpun tak akan bisa mengalahkan singa. Apalagi singa singa itu terluka karena dipermainkan agamanya. Mereka adalah Singa-Singa Allah.

Bandung, 4 Desember 2018

Note : Tulisan ini beredar di WAG

(Visited 42 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account