Permisivisme LGBT melalui karya tulis anak-anak kita

Permisivisme LGBT melalui karya tulis anak-anak kita

Permisivisme LGBT melalui karya tulis anak-anak kita

Oleh: Winarni Mulyono 💖

Bismillah.
Mak, saya mau cerita sesuatu. Tulisannya cukup panjang. Jangan kaget ya, Mak. Jangan shock. Siapin teh manis, boleh juga ditemani Indomie rebus dan gelondongan cabe rawit yang banyak.

Status panjang ini berhubungan erat dengan pertanyaan saya kemarin tentang seberapa kenal Mak dan putra-putrinya dengan K-Pop, Anime, dan sebagainya. Alhamdulillah dari sekitar 60 komentar yang masuk, hanya beberapa emak dan bapak yang mengenal budaya K-POP itupun sebatas tahu saja.

Tulisan ini baru sebatas opini, dibutuhkan riset yang mendalam untuk mengetahui lebih dalam permisivisme LagiBete dalam karya tulis anak-anak kita.

Jadi gini, Mak. Secara tidak sengaja saya melihat video viral anak yang diimunisasi sambil teriak black pink, black pink.

Sebagai emak bodoh dan kudet yang jarang nonton TV kecuali ILC (yach ketahuan dech 😊), saya tidak mengerti kenapa anak cowok yang kesakitan ketika disuntik kok teriak black pink.

Saya google dong, Mak. Pengen tahu apa itu black pink. 😅

Ealah, ternyata girl band Korea yang kemarin-kemarin saya sebelin karena sering makbedunduk muncul tiba-tiba di iklan Sophee.

Waduh, anak-anak saya yang suka nonton Upin-Upin terpapar radikalisme berpakaian dan goyangan.

Saya kesal sekali, mak. Tapi tidak tahu harus protes kemana. Kenapa itu iklan, yang menurut saya sangat tidak layak dilihat anak-anak malah sering banget nongol. Sementara peristiwa 212 yang bisa menggugah jiwa anak-anak saja di black out sama TV lainnya. Kesal kan, Mak? 😢

Ada lagi, Mak. Kalau hari Sabtu,  toko kami didatangi lebih dari 10 pengamen, dan 7 di antaranya adalah kaum waria lagibete.

Asli, saya sering iseng becanda sama suami. Kok, pengamen tulang lunak makin banyak ya? Kalau dulu, pengamen tulang lunak itu biasanya yang sudah seumuran pakdhe-pakdhe. Tapi sekarang kok makin unyu-unyu pengamen tulang lunaknya? Jadi, generasi tulang lunak ini sudah bergeser, Mak dari angkatan pakdhe-pakdhe jadi angkatan mas-mas.

Lalu, Allah menghendaki saya melihat satu berita lagi.

https:// m.merdeka.com/peristiwa/
17000-pelajar-jateng-terindikasi-mengidap-hivaids-karena-seks-sejenis.html

17.000 itu bukan jumlah yang sedikit lho, Mak.

Sedih, prihatin, marah, membaca berita itu.

Sahabat saya, seorang mentor dan pendamping Orang dengan HIV AIDS (ODHA). Beliau sering cerita kalau ODHA yang beliau dampingi jumlahnya tiap tahun terus meningkat. 90% nya adalah lagibete. (Please, Mak pada ngerti kalau saya nulis lagibete ya, takut dibanned sama om Mark). 😢

Menurut sahabat saya, jumlah riilnya bisa berkali-kali lipat. Karena yang beliau dampingi adalah lagibete yang sudah nyata terpapar dan ditangani Puskesmas setempat untuk mendapatkan pengobatan secara rutin.

Mak, yang membuat saya makin eneg adalah para ODHA ini jarang yang menyesali perbuatannya. Mereka keukeuh ini adalah hak asasi mereka. Dezigh!

Akhirnya, saya curhat ke mas bojo. Minta ijin menulis tentang satu peristiwa yang beberapa hari kemarin cukup mengguncang jiwa kami. Kami diskusi panjang lebar, akan kemungkinan efek tulisan saya ini. Tapi akhirnya kami bulat memutuskan, bismillah saya harus menuliskan tentang hal ini.

Baca juga:  Ramai-Ramai Merusak Remaja Indonesia

Ambil napas ya, Mak. Cerita masih panjang. Kok malah saya yang tegang ya?

Beberapa waktu kemarin saya kedatangan beberapa gadis unyu-unyu yang mau cetak manasuka alias Print On Demand ke kami. Jumlahnya tidak banyak hanya 4 judul novel bernuansa Korea karya mereka yang dicetak masing-masing 50 eks.

Anehnya, saya yang biasanya tidak bisa melewatkan apa saja yang berbentuk deretan kata alias membaca apapun yang ada di depan saya, ini kali tidak ingin membacanya sama sekali. 😢

Karena file berupa pdf, saya pun langsung mengkopi dan meminta staf untuk memproduksi.  Buku ukuran A5 itu setebal 580 halaman dicetak menggunakan book paper, dengan mesin Konica Minolta 1050 yang berkecepatan 205 halaman A4 per menit.

Secara hitungan dalam waktu sehari semua buku itu bisa selesai sampai proses wraping.

Qadarullah, setiap naik pekerjaan ini. Mesin error. Tapi ketika mengerjakan pekerjaan yang lain, lancar jaya. Berkali-kali dan berhari-hari sampai pelanggan tidak sabar, akhirnya suami pun turun tangan. Tengah malam baru kelar. Sambil bergetar suami berbicara. “Ibu baca apa isi buku itu?”

“Tidak, Yah. Saya tidak membacanya. Paling juga novel fantasy, fanfic, atau apalah bacaan anak-anak sekarang itu.”  saya dengan yakin menjawabnya.

Lalu suami pun menceritakan isi buku itu. Buku tulisan gadis unyu-unyu yang baru lepas SMU. Buku yang dengan gamblang dan vulgar menggambarkan hubungan lagibete. Subhanallah! 😠

Keesokan paginya buku yang sudah jadi itu saya baca. Berusaha memahami beragam diksi baru macam yaoi, uke, seme, cosplay, alpha, beta, omega, mate, BL, top, bottom, dan berbagai istillah biologi. Rasa mual, takjub, eneg, marah, sedih bercampur jadi satu. Ribuan pertanyaan muncul di kepala saya. Kok bisa? Kok bisa? Kok bisa?

Tiba waktu tenggat yang dijanjikan. Dua gadis muda itu datang mengambil pesanannya.

Saya mencoba beramahtamah dengan mereka. Mencoba menekan sebisa mungkin emosi saya. Marah sambil tersenyum itu rasanya luar biasa, mungkin begitu kali ya yang dirasakan massa 212 kemarin-kemarin. Ups! 😀

“Dek, kalian hebat ih. Masih muda sudah punya karya. Novel 500 halaman itu inspirasinya dari mana?” Sambil tersenyum saya memuji mereka.

“Ah ibu bisa saja. Inspirasinya dari buku, film, komik, pokoknya all abaout K-pop lah.” Ujar gadis berlesung pipit berkaos biru dengan gaya kasual.

“Dek, ibu baca sekilas. Isinya kok hehehe, syerem ya? Ibu yang sudah menikah saja gemeteran bacanya. Hihihi imajinasinya ngeri lho. Memang kalian ga geli?” Pancing saya perlahan. Kalau to the point takut mereka malah blocking saya dan kabur.

“Iiih. Ibu. Kami kan, Fujo…” derai tawa gadis berkerudung kuning kunyit malu.

Sambil mengernyitkan dahi saya berpikir keras. “Saya belum pernah dengar istilah itu. Fujo, fujo apaan tuh. Kepo nih. Hehehe boleh dong emak-emak ikutan gaul.” Seloroh saya sambil tetap menjaga intonasi nada.

Baca juga:  Untuk Saudaraku yg Telah ber Usia 45 thn ke Atas , Lebih-lebih Disiplin Jaga KeSehatan

“Kami Fujoshi, Bu. Ibu googling saja deh. Malu ngejelasinnya. Dia nih, udah level hardcore.” Seru gadis berkaos biru menunjuk gadis berkerudung sambil tertawa terkikik.

“Kuatkan, hamba Yaa Allah.” Jeritku dalam hati sambil menelan ludah setelah googling,dan mengerti apa itu fujoshi, fudhansi, de el el.

“Enggg, itu bukannya bintang Korea? Cowok anu gareulis (berwajah cantik) gitu yang kalian suka?  BTW itu novel yang kalian tulis tokohnya cowok semua, berarti gaya nusantara yang lambangnya pelangi dong?” Tanyaku tersipu malu.

“Ya, iya atuh, Bu. Namanya juga Fujoshi. Kami tidak akan ridho kalau boyband idola kami pacaran atau menikah dengan cewek. Noway. Mending mereka BL-(boy lover) an. Kalau fudanshi tokohnya cewek bu, disebutnya GL girl lover.” Keduanya cekikikan.

Saya benar-benar tidak kuat lagi menahan emosi, tapi saya harus bisa mengorek pikiran mereka. Mengetahui cara berpikir mereka. Allah, ya rabb kuatkan hamba.

“Kalian gila ya? Membaca dan menulis sesuatu yang menimbulkan syahwat itu sudah perbuatan dosa besar. Parahnya lagi, kalian menulis dengan sangat enjoy dan ahli tentang hubungan sejenis. Kalian tidak takut dosa? Ah, ibu sudah bingung mau bilang apa.” Sayapun meledak. Sambil berkaca-kaca menahan amarah.

“Ih, ibu. Fujoshi itu, sudah banyak pisan. Buka saja wattpad. Pabalatak, Bu. Komunitasnya juga banyak. Jangan salah. Banyak kok fujo yang bisa menikah. Yah gak papa sih jadi fujo, asal jangan keterusan.” Gadis berkerudung itu tertawa terkikik.

“Eh, kalian pertama kali jadi fujo kapan? Terus siapa yang ngasih tahu?” Asli, Mak. Saya penasaran luar biasa.

Dari kelas 8, Bu. Awalnya suka boyband korea, girld band Korea. Terus dikasih pinjem komik dari kakak saya. Kakak saya fujo hardcore, Bu. Tapi sekarang sudah menikah sama cowok lho?” Jawab gadis berkaos biru sambil ngakak. Saya makin ndlongop. Ternganga.

“Kalo, kamu Dek?” Tanya saya kepada gadis berkerudung itu.

“Dia yang nularin gue, Bu?” Serunya genit sambil memukul kecil bahu gadis berkaos biru.

“Kalian bisa menulis seperti itu. Berarti sering melihat juga ya?” Pancing saya.

“Jelas, atuh. Bu. Makanan kita sehari-hari itu mah.”

“Dek, ibu mau hapus file kalian ya, terus ibu tidak akan terima order kalian lagi ya. Takut dosa, ibu mah. Setiap huruf yang tersebar akan dipertanggungjawabkan di yaumul hisab. Ibu tidak sanggup.”

“Kami maklum kok, Bu. Dunia boleh memandang rendah kami, kaum fujoshi. Tapi cinta kami pada Won Woo tidak akan mati.

😭😭😭😭😭
Menangislah emak.
Jangan pernah lengah.
Peluk erat anak-anak kita.
Bisikkan kalam-kalam Allah ke telinga anak-anak kita sebelum mereka tidur.

Daraskan dalam hati kalian anakku.
Bahwa akhirat itu niscaya adanya.
Hunjamkan keyakinan bahwa Allah swt bersamaku, Allah mendengarku, Allah melihatku.

https://www.prorakjat.com/2018/12/permisivisme-lgbt-melalui-karya-tulis.html

(Visited 108 times, 1 visits today)

Dee Sagita

leave a comment

Create Account



Log In Your Account